Cerita BLW Darryl; Darryl Sudah Bisa Memilih untuk Makan Sendiri

Haii.. akhirnya kebagian juga jatah sharing di grup ini..

Cerita ini bermula dari persiapan menuju MPASI, seperti ibu-ibu pada umumnya, waktu usia Darryl sekitar 5 bulan, mulai cari-cari informasi soal MPASI, apa aja menu makanannya, apa aja peralatan tempurnya. Karena waktu itu tinggal di kota kecil, ga ada informasi yang bisa diandalkan selain dari internet, jadi rajinlah Mami Darryl ini browsing sana sini, blog walking sana sini, dan join grup HHBF di FB. Hasilnya bikin banyak list peralatan MPASI (yang akhirnya saking banyaknya jadi bingung sendiri dan akhirnya ga jadi dibeli kecuali saringan) dan banyak download kalender menu awal mpasi. Dari blog walking sana sini itu juga ketemulah term BLW, baca 1 blog, penasaran, buka blog lain, penasaran lagi, mampir ke thread di TUM, dan akhirnya join di grup FB nya Mbak Lissa. Kesimpulanku waktu itu ttg BLW sih bukan masalah praktisnya, tapi seru. Seru karena liat foto-foto bayi belepotan, seru karena anak jadi bisa ngasah kemampuan sensorik dan motoriknya. Aku cobalah cerita dan propose ke suami untuk pake metode itu, sekalian liatin foto bayi-bayi yang lagi BLW. Responnya seperti yang aku duga, janganlah, resikonya besar, nanti takut keselek, dsb. And my fault at that time was : aku manut aja, ga berusaha cari info lebih banyak lagi tentang BLW untuk menjawab ketakutannya itu. Jadi waktu Darryl 180 hari passs, mulai lah MPASI pertama (waktu itu pas kita lagi mudik ke Bandung), menunya labu siam kukus yang disaring. Hasilnya lumayan banyak yang masuk, besoknya sampe 2 minggu begitu terus, kukus, saring, menunya aja yg berubah-ubah, labu siam, wortel, ubi, kabocha. Setelah 2 minggu mulai dikasih bubur saring dicampur sayuran. Sepanjang makan sesaringan itu, emang makannya banyak, lahap, jadi ga ada yg bikin galau dan ga ada dorongan ganti metode MPASI. Sampai akhirnya aku gabung grup BLW ini di bulan November (Darryl 7 bulan waktu itu), mulailah terbuka sedikit demi sedikit wawasanku tentang BLW, dan aku envy ngeliat pendahulu2 BLW (especially Mirai), makannya pinter banget, muncul lagi deh keinginan untuk BLW. Tapi karena waktu itu juga lagi repot-repotnya beberes karena habis pindahan, keinginan itu belum aku tindak lanjut. Akhirnya, pas Darryl umur 8 bulan, aku propose lagi ke suami, dengan informasi yg lebih detail daripada sebelumnya, sampe akhirnya dia bolehin untuk coba BLW. Mulailah semangat bikin finger food, and as expected, omanya Darryl histeris, takut keselek, mulai ngasih tau tentang BLW, omanya tetep ga berani, dan takut nanti yg kemakan cuma sedikit. Akhirnya win-win solution deh, waktu aku kerja, tetep makan bubur, tapi waktu malam aku dirumah biar Darryl makan sendiri. Oke deal. Tapi nyatanya, setiap aku pulang kerja, selalu Darryl dlm kondisi kenyang, krn makan malamnya dikasih di jam 5. Jadi pas aku kasih makanan dia ga minat. 😭😭 tapi sabtu minggu sesekali tetap dikasih makan sendiri, emang sih aku lihat sendiri kalau Darryl makannya lebih lahap kalau disuapin pake bubur, semangkok full juga habis tanpa paksaan, dibanding kalau makan sendiri yg hampir semua abis dibuang-buang, atau malah ditinggal. Jadi aku berpikir mungkin Darryl belum siap sepenuhnya untuk BLW. Kombinasi antara SF dan BLW berlanjut sampe Darryl 1 tahun. Setelah 1 tahun, karena sudah mulai makan nasi, no bebuburan lagi, omanya pun udah mulai berani ngasih Darryl makan sendiri. Jadi mulai lebih intens BLWnya, karena emang itu sudah jadi tugas perkembangannya untuk bisa makan sendiri, sesekali masih disuapin kalau omanya liat makannya cuma sedikit. Dan sekarang (diumur 22 months), Darryl sudah bisa milih lagi mau makan sendiri atau disuapin, kalau mau disuapin, dia akan kasih sendoknya ke kita, tapi kalau mau makan sendiri, diminta sendoknya pun ga akan mau ngasih. Makannya pun udah lebih rapi sekarang, meskipun masih ada nasi yg berceceran, udah bisa pake sendok dan garpu, udah bisa handle makanan keras.

Kesimpulanku :

1. BLW itu belum tentu cocok untuk semua bayi dan ortu (dan pengasuh), semuanya bergantung pada kesiapan masing-masing. Jangan memaksakan sesuatu hanya karena idealisme salah satu pihak aja, demi kewarasan bersama.
2. Ketika semua pihak siap (termasuk bayinya), maka semuanya akan berjalan lebih mudah dan lancar. Karena mulai benar-benar intens BLW setelah 1 tahun, kemampuan megangnya dan ngarahin ke mulutnya udh lebih mantap, jadi lebih dikit yg kebuang, walaupun masih ada.
3. Aku sangat memahami kalau fokus nenek dan kakek dlm membesarkan anak adalah pada kesejahteraan fisiknya (dilindungin biar ga jatuh, dikasih banyak makan biar ga laper), sedangkan fokus ortu lebih ke perkembangan skillnya. Dan itu wajar, makanya aku mencoba menghargai usaha oma opanya, apapun itu, karena aku tau itu demi kebaikan Darryl juga, walaupun kadang bertentangan dengan keinginanku.

Sekian dan terima kasih, maaf kepanjangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *