Cerita BLW Hamzah; “Apapun Metodenya, Syaratnya Harus Ramah Jiwa dan Minim Trauma”

image

Finally, here come the time, tiba saatnya juga saya sharing pengalaman BLW. Ada yang bilang, Tak kenal maka ta’aruf, (ta’aruf = kenalan). So, sebelumnya kita kenalan dulu yuk, Saya Aizzah Nur (27yo) Ummi dari Hamzah El-Fath Pulungan (15mo) atau simpelnya biasa saya panggil Hamzah.
Kami Ibu dan bayi yang sama-sama masih proses ta’aruf sama BLW, ya walaupun Hamzah sudah gak bisa dikategorikan bayi lagi sih, tapi proses ta’aruf kami masih berjalan sejauh ini (+/- 9bulan)
Baiklah pembaca yang budiman (dan budiwati #ehh #ngelantur),
Kalau Anda baru mau mulai BLW, bolehlah cerita ini jadi bahan referensi.
Kalau Anda praktisi BLW mix SF, tenanglah karena kita sama kok.
Kalau Anda praktisi BLW garis keras, saya minta maaf kalau ada salah-salah kata yaa sebelum mulai cerita. Hehe.

Saat ini Hamzah sudah 15bulan. Sudah sampe mana Level BLW nya? (nyengir dulu deh). Hamzah belum bisa pakai sendok-garpu. Hamzah belum bisa minum dari gelas sendiri. Hamzah belum aware sama konsep lapar. Hamzah masih suka lempar makanan. Hamzah masih suka tumplekin piring. Masih nggak betahan di HC kecuali kalo pas lagi lapar berat.
Kok Gitu? Iya begitulah, mungkin resiko karena saya yang kurang istiqomah dalam menerapkan metode BLW. Hamzah masih banyak diselingi handfeed dan spoonfeed. Masih minim kemampuan fine motoriknya kalau tentang makan.
Lah terus, sia-sia dong BLW-an nya? Ya enggak dong, insya Allah enggak. Kenapa? Karena dengan BLW, saya dan Hamzah sama-sama banyak belajar. Usia jelang 7 bulan, hamzah sudah bisa pakai sedotan air mineral. Nggak ada latihan khusus, cuma sering iseng nawarin aja. Hamzah sering melepeh makanannya? Iya, Hamzah sudah bisa melepeh sejak usia sekitar 7-8 bulan, saya lupa. Tapi dari situ saya belajar menghargai kalau bayi juga punya selera. Di waktu-waktu Hamzah hanya ingin makan nasi saja, dia akan melepehkan suapan yang saya selipin ikan/sayur. Nah kan, anak BLW gak bisa diboongin. Hamzah bisa membedakan mana makanan dan bukan makanan. Masak sih? Iya, jadi saya kalem aja kalau dia mau masukin apa aja ke mulut. Kadang malah saya bikin sesi mainan. Sekali waktu kami pernah main robek kertas pakai gigi. Hamzah merobek kertas pakai gigi, kemudian saya tadahkan tangan ke dagu, reflek dia akan melepehkan kertasnya ke tangan saya. Gak cuma kertas, biji jeruk, kulit jagung, kulit udang, duri lele, bahkan Hamzah mampu melepeh helai rambut saya yang tidak sengaja masuk ke mulutnya dan bikin dia ga nyaman.
Mungkin diawal mulai MPASI, saya berekspektasi supaya Hamzah bisa makan sendiri dengan mandiri. Tapi pada perjalanannya, tidak semulus yang saya bayangkan. Maka cukuplah saya berpuas diri dengan motivasi agar Hamzah bisa semaksimal mungkin terpapar stimulasi sensory play dari sesi makan BLW-nya.
Saya percaya kemampuan makan Hamzah akan berkembang sendiri seiring pertambahan usianya, selama tidak (banyak) proses yang sifatnya mengintervensi cara kerja alam dan tumbuh kembang alaminya. Tugas saya hanya memfasilitasi dan mendukungnya, tetap menawarkan, tetap memberikan kesempatan hamzah untuk makan sendiri atau mau makan disuapi sekaligus memastikannya mendapat cukup gizi yang baik, kalau intensitas disuapinya sedang dominan, saya perbanyak lagi jadwal main yang mengasah fine motorik dan sensoriknya.
Pun jika saya diberikan kesempatan lagi untuk memulai BLW dari awal (mungkin dengan adik-adiknya Hamzah kelak. Amin, insyaAllah) ada beberapa hal yang ingin saya perbaiki sesuai dengan informasi yang saya peroleh dari buku, konsultasi dokter, dan diskusi dengan teman-teman:
Bagaimana kemampuan makan bayi berkembang tidak jauh berbeda dengan perkembangan motorik lainnya. Seperti halnya tengkurap, mengangkat kepala, merangkak, berjalan dan berlari, demikian pula tentang keahliannya mengatasi makanan. Bayi punya waktunya sendiri kapan ia siap mengunyah, menelan, menjumput, menggunakan utensil dsb.  
Dua minggu pertama BLW (atau bisa lebih), reflek bayi masih mendorong makanannya keluar mulut. So, mungkin saya gak akan berekspektasi ada makanan yang masuk.
Saya akan langsung mengenalkan protein hewani. Kenapa? Untuk memaksimalkan asupan zat besi sebagai tindakan preventive ADB.
Saya nggak akan kaku lagi tentang pemberian gula, garam, merica, cabe, (oops), bubur atau puree, pare, jengkol, maupun pete sekalipun, haha selama dalam konteks yang masih rasional dan gak berlebihan, buat ngenalin semua jenis makanan supaya bayi saya makin kaya informasi tentang rasa, tekstur, dan baunya.
Saya nggak akan terburu-buru untuk mengenalkan utensil dan menuntut anak untuk bersegera menguasainya, karena bagaimana pun, tangan merupakan instrument belajar terbaik bagi bayi. Paling tidak sampai usianya memasuki 12 bulan, biarkanlah bayi bereksplorasi dengan makanannya.
Saya akan lebih sering menawarkan makanan dan rela nyapu-ngepel delapan kali dalam sehari, haha (we’ll see kalo yang ini mah)

Terpenting bagi saya saat ini (dan ke depannya) adalah saya selalu berupaya untuk mempersembahkan stimulasi dan pengalaman-pengalaman terbaik, yang ramah jiwa dan minim trauma untuk Hamzah dan BLW adalah salah satu metode yang menurut saya mampu memenuhi kebutuhan saya dan Hamzah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *