Cerita BLW Jaisyu; Jaisyu’s Led Weaning

image

Saya sangat tertarik dengan BLW sejak saya menemukan video tentang bayi yang mahir makan sendiri. Saat itu saya masih di bangku kuliah dan belum menikah. Waktu pun berlalu, saya akhirnya memiliki anak. Saya pun lebih banyak membaca tentang BLW, acuan utama saya adalah buku Baby Led Weaning yang ditulis oleh penemu BLW, Gill Rapley. Selain itu, saya juga  membaca buku tentang MPASI bertekstur sesuai panduan WHO. Saya bimbang karena MPASI WHO juga baik.

Akhirnya saya baca habis beberapa buku mengenai kedua metode tersebut.
Setelah saya membaca buku BLW dari Gill Rapley tersebut, saya justru terkejut. Betapa pemikiran saya selama ini salah. Saya pikir BLW itu hanya soal anak makan sendiri, self eating.

Ternyata lebih dari itu. Mengacu BLW saja Baby Led Weaning itu sudah memiliki makna yang sangat dalam. Proses dimana bayi yang mengarahkan dan memutuskan sendiri proses menyapihnya, berlepas sepenuhnya dari susu (ASI/Sufor). Ternyata BLW itu main point-nya bukan soal makan, tapi proses keseluruhan menyapih hingga idealnya usia dua tahun atau lebih. Perkara ini bukan hal yang mudah. Sebagai orangtua, mempercayakan proses ini seluruhnya pada bayi yang kita anggap masih sangat “kecil”, rasanya sulit, terutama diawal mulainya makan makanan pendamping saat usia 6 bulan, belum bisa berbicara.

Bagaimana mungkin mempercayainya?
Saat lebih dalam membaca buku Gill Rapley, saya semakin memahami konsep BLW bahwa bayi itu punya keinginan dan mengetahui pula seberapa perlu ia terhadap susu dan makanan. Jadi, tidak perlu ada paksaan. Sering juga saya mendengar cerita bayi sulit makan, tidak mau makan atau makannya sedikit. Faktornya bisa bermacam-macam, bisa karena teething (sedang tumbuh gigi), bosan dengan makanan yang sama, hingga faktor ‘nggak mau aja’ tanpa diketahui alasan pasti.We should respect the baby’s decision. Let him lead his eating journey. Bukan hal yang mudah memang, pasti sebagai orangtua akan khawatir tentang bagaimana jika bayinya kurang gizi, tidak masuk makanan sama sekali, dan lain sebagainya.

Semakin dalam membaca buku ini, saya semakin memahami bawah menjaga proses makan agar tidak trauma itu adalah hal yang penting, hal ini pula yang ditekankan oleh konsep BLW. Proses makanan pengenalan sejak usia 6 bulan ini akan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pola makan seseorang diwaktu besarnya nanti. Jika bayi trauma dengan proses makannya, maka bisa saja ia menolak makanan sama sekali ketika ia sudah mampu mengenali dan memahami proses makan saat menginjak usia balita. Proses makan dibawah satu tahun adalah proses pengenalan makanan dengan ASI/Sufor sebagai asupan utama jadi rasa kekhawatiran saya perlahan hilang. Lagipula, setelah anak semakin mahir dan memahami proses makan, maka mereka akan semakin membaik kemampuan makannya. Mereka juga dapat makan dengan lahap.

Akhirnya tiba hari dimana Jaisyu, anak pertama saya, BLW. Hari pertama Jaisyu BLW tepat di hari ia berusia 6 bulan. Saya sajikan melon dan mendudukkannya di booster seat. Reaksi Jaisyu? Ia begitu antusias mencoba mengambil melonnya dan saat berhasil mengarahkan ke mulutnya, ia lalu menghisapnya. Makannya langsung habis? Tidak. Ia hanya menghisap melon dan melepehnya, terutama jika potongannya terlalu besar. Potongan? Iya potongan karena meskipun belum punya gigi ternyata bayipun mampu menggigit karena gusinya keras. And Jaisyu did. Bisa saya katakan bahwa hari pertama BLW nyaris tidak memakan apapun selain ASI.

Gill Rapley mengatakan bahwa pada usia 6 bulan, pencernaan bayi sudah matang dan saat ini lah yang paling tepat mengenalkan makanan pada bayi. Pada usia 6 bulan, bayi memiliki refleks gagging, memuntahkan makanan yang dianggap tidak bisa atau sulit ditelan karena teksturnya yang terlalu besar untuk dapat ditelan. Pada usia ini bayi belum bisa menelan makanan secara alamiah, bayi masih belajar. Jadi merupakan hal yang wajar jika bayi hanya menggigit-gigit makanan dan memuntahkannya tanpa ditelan. Seiring waktu, kemampuan menelannya akan semakin baik. Selama 1 minggu BLW Jaisyu fokus melatih pegangan tangannya dan berlatih koordinasi antara mata-mulut-tangan. Kemampuan ini semakin membaik setiap harinya. Bahkan setelah seminggu Jaisyu mulai bisa menelan makanan.

Saat ini Jaisyu berusia sembilan bulan. Nafsu makannya semakin membaik. Ia sudah mengetahui rasa lapar. Selain itu, saya merasa bahwa manfaat BLW sangat terasa dalam perkembangan Jaisyu, mulai dari koordinasi motorik halusnya yang baik dan sesuai milestone, excited dalam setiap proses makan bahkan Jaisyu termasuk anak yang senang mencoba berbagai jenis dan tekstur makanan. Alhamdulillah selama perjalanan makan sejak ASI Eksklusif berakhir, Jaisyu belum pernah GTM total, pernah beberapa kali mencicipi suatu jenis makanan dan menolaknya. Strategi yang saya terapkan adalah mencoba makanan yang ditolak itu dilain waktu. Contohnya kentang, pertama kali saya berikan kentang rebus, Jaisyu menolaknya. Kesempatan kedua, saya beri kentang kukus, Jaisyu menolaknya. Percobaan ketiga, saya beri puree kentang, Jaisyu juga menolaknya. Keempat kalinya, saya coba beri kentang kukus dengan ayam cincang saus keju. Lalu kelima kalinya, saya coba beri cheese mashed potato, Jaisyu senang sekali, dilahap dengan habis. Lalu saya berkesimpulan, jangan cepat menyerah. Tugas saya hanyalah menawarkan berbagai jenis dan variasi makanan agar memenuhi kebutuhan gizi.

Apakah saya tidak full BLW? Kalau memaknakan BLW sebagai proses bayi makan tanpa dibantu disuapi, saya akan berkata, ya Jaisyu tidak full BLW dengan makna tersebut. Namun jika memaknakan BLW sebagai proses dimana bayi yang mengarahkan dan memutuskan sendiri proses menyapihnya, berlepas sepenuhnya dari susu (ASI/Sufor), yes, we’re on the track.

Hingga saat ini Jaisyu makan sendiri dan juga disuapi. Hal penting yang terus saya jaga adalah membuat proses makan Jaisyu menyenangkan, tanpa trauma dan pemaksaan. Jaisyu dapat makan sebanyak yang ia mau dan menyusu sebanyak yang ia mau pula. I’m completely happy with his eating journey.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *