Kekhawatiran terhadap Metode BLW: Rekomendasi WHO dan ADB Oleh Harumi Aini

Beberapa waktu lalu ada yang mengirimkan pesan melalui direct message kepada saya di akun instagram @baby.qianna. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang cukup sering ditanyakan tentang BLW dan mungkin mewakili kekhawatiran banyak ibu lainnya.

Dua pertanyaan tersebut yaitu:

  1. Apakah benar BLW tidak direkomendasikan oleh WHO?
  2. Apakah benar bayi BLW rentan ADB?

Setahu saya, WHO belum mengeluarkan statement secara resmi untuk melarang praktek BLW, tapi memang belum juga secara langsung merekomendasikannya.

Kenapa? karena penelitian ilmiah tentang risiko dan manfaatnya yang masih sedikit untuk menjustifikasi metode BLW yang termasuk baru ini.

Salah satu pemerintah yang sejauh ini memang sudah mengeluarkan statement belum merekomendasikan BLW yaitu kementerian kesehatan New Zealand (NZ), dengan alasan karena masih sedikit penelitian ilmiah yang dilakukan.

Tapi, justru di New Zealand (NZ) termasuk yang paling aktif melakukan penelitian tentang BLW karena minat orang tua yang cukup tinggi. Hasil penelitian terbaru, mereka mencetuskan metode BLISS (Baby-Led Introduction to Solids) yaitu BLW yang dimodifikasi dengan guidelines tertentu agar pelaksanaan BLW lebih aman dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
Panduan MPASI WHO yang masih dipakai hingga saat ini yaitu complementary feeding guideline tahun 2000 yg bisa di unduh langsung di website WHO. Sudah cukup lama ya panduannya, dan belum ada update terbaru dari WHO yg membahas spesifik tentang BLW.

Walaupun begitu, sebetulnya prinsip-prinsip BLW cukup selaras kok dengan complementary feeding guideline dari WHO kalau kita coba baca langsung dari panduannya.

  • WHO merekomendasikan active-responsive feeding saat waktu makan sesuai perilaku anak
  • WHO merekomendasikan bayi makan bersama dengan orang tua dan membuat suasana yang menyenangkan saat makan
  • WHO menyatakan makanan MPASI itu adalah makanan keluarga yang dimodifikasi penyajiannya untuk bayi
  • WHO menyarankan makanan disajikan soft/mashed/atau dipotong kecil
  • WHO encourage orang tua untuk membiarkan anak makan sendiri jika anak menunjukkan keinginan tersebut dengan memberikan bantuan jika diperlukan
  • WHO membolehkan orang tua memberikan finger food dibawah pengawasan

Jadi, sebetulnya penyajian bentuk makanannya aja yang berbeda antara metode BLW dan spoon feeding (SF).

→ Kalau orang tua memilih SF, maka makanannya di haluskan oleh orang tua terlebih dahulu.
→ Kalau BLW, makanannya akan dihaluskan oleh mulut bayi sendiri dengan bantuan gusi dan enzim di ludah.

Tapi pada akhirnya tekstur makanan saat ditelan akan sama-sama dalam bentuk halus, walau mungkin tingkat kehalusannya agak berbeda.

Bagi saya pribadi, walaupun memakai metode BLW saya tetap juga memperhatikan kaidah-kaidah kecukupan nutrisi dan rekomendasi pelaksanaan MPASI dari WHO yang sebetulnya tidak jauh berbeda prinsipnya.

Untuk pertanyaan kedua mengenai Anemia Defisiensi Besi (ADB), memang ada salah satu penelitian yang menyatakan anak yg BLW ternyata asupan zat besinya lebih rendah dibanding anak Spoon Feeding.


Sumber: Morison BJ, Taylor RW, Haszard JJ, et al, 2016

Nah ini memang merupakan salah satu kesalahan paling banyak orang tua dalam menerapkan BLW.  Sejak awal BLW, banyak orang tua yang tidak memberikan makanan tinggi zat besi. Orang tua biasanya lebih sering memberi buah, sayur, atau karbohidrat yang penyajiannya lebih mudah dibanding protein untuk anak pemula BLW.

Maka disini dengan adanya penelitian tersebut, kesimpulannya bukan BLW dilarang karena berpotensi ADB. Tapi justru, penelitian tersebut bagus untuk membuka mata para ibu yang BLW sebagai pengingat bahwa orang tua harus “selalu menyajikan makanan tinggi zat besi  sejak awal MPASI 6 bulan pada setiap waktu  makan untuk mencegah ADB” 
Berikut adalah contoh beberapa makanan tinggi zat besi:

Sumber: http://health-tips-day.blogspot.com/

Orang tua harus pintar dan kreatif mengolah daging, hati, dan makanan tinggi zat besi lainnya agar mudah dimakan oleh bayi BLW.  Misalnya dengan menggunakan daging cincang dibentuk menjadi patties, dengan mencampur daging dengan telur membentuk finger food yang mudah digenggam dll.

Sumber: Instagram @baby.qianna

Jangan lupa juga untuk memberikan asupan Vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. Juga hindari pemberian susu dan turunannya berbarengan dengan makanan tinggi zat besi yang dapat menghambat penyerapan zat besi tersebut.

Bayi BLW maupun spoon feeding sama-sama ada resiko terkena ADB kok. Jadi yang salah bukan metode pemberian MPASInya, tapi makanan apa yang disajikannya.
Misalnya nih, orang tua yang memilih memakai spoon feeding dan setiap hari sudah menyiapkan makanan tinggi zat besi. Eh ternyata anak tidak mau disuapin berlanjut menjadi GTM, maka makanan yang masuk juga sedikit dan sama saja jadi beresiko ADB.

Daripada GTM berkepanjangan, ternyata anak lebih enjoy makan dengan BLW. Maka justru BLW malah bisa menjadi salah satu solusi mencegah ADB dibandingkan dipaksa makan dengan menyuapi anak yang malah bisa berujung trauma.

Selain asupan tinggi zat besi dari makanan, WHO sendiri telah mengeluarkan panduan rekomendasi pemberian suplemen zat besi bagi anak yang memiliki resiko cukup besar terhadap ADB.

Hal ini tidak direkomendasikan spesifik untuk anak BLW saja, tapi seluruh anak terutama di bawah 2 tahun karena kebutuhan asupan zat besi pada anak yang cukup tinggi.

Data SKRT tahun 2001 menunjukkan prevalens ADB pada:

– bayi 6-12 bulan 64,8%

– anak balita 48,1%

– wanita hamil 40,1%


Sumber: WHO, 2011

Rekomendasi suplementasi zat besi juga telah dilkeluarkan oleh IDAI pada tahun 2011 yang bisa di unduh langsung di web IDAI.

Sumber: IDAI, 2011

Keputusan mau memberikan suplemen zat besi atau cukup dari asupan makanan saja dikembalikan lagi kepada masing-masing orang tua dan silahkan dikonsultasikan dengan DSA masing-masing kalau masih ragu.

Jadi, setiap orang tua pasti punya pertimbangan masing-masing dalam memilih metode MPASI sesuai keyakinan, kenyamanan dan kondisi. Yang jelas pakai metode MPASI apapun itu, tetap harus membekali diri dengan ilmu yang menyeluruh agar kebutuhan nutrisi anak tercukupi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *