Cerita BLW Sarah; Secercah Cahaya Lorong Drama MP-ASI

Juara 1 lomba pengalaman BLW dalam rangka anniversary Cerita BLW yang ke 4 

Tepat 5 bulan usia Sarah, saya masih mengASIhi Sarah dengan santainya.. Tiba-tiba saya sadar 1 bulan lagi Sarah harus mulai belajar makan, waktu itu belum ada gambaran sama sekali tentang MPASI untuk Sarah. Yang aku tau hanya bubur instan atau mpasi homemade lebih tepatnya pure (yang mana aku pun belum tentu suka). Saat itu juga saya teringat dulu pernah punya murid usia 3 tahun yang bisa makan sendiri, duduk rapih, suka semua makanan khususnya sayur dan buah, habis bersih tak bersisa baru dia bangun dari duduknya. Singkat cerita saya langsung kontak ibunya yang kebetulan dosen psikologi UGM bergelar Master saya pun makin yakin tak salah ambil ilmu dari beliau insyaAllah. Beliau cuma jawab “coba search BLW , ada ebooknya (bahasa inggris) juga” .. Saya cari di google, di web, sampai lah di IG, alhamdulillah saya justru menemukan buku terjemahannya, tapi saat itu masih langka sekali.. Dimana mana habis, saya tak putus asa.. Alhamdulillah masih rezeki 2 minggu kemudian buku wajib BLW sampai di tangan. Seketika saya langsung marathon baca sambil mencoba memahami kalimat demi kalimat.. Ya setelah baca bukunya dan diskusi sama suami, tidak lupa sharing dengan ibu saya dan mertua Alhamdulillah mereka semua mendukung dan saya makin yakin ingin memakai metode BLW mengenai MPASI ini.

 

181 hari

Brokoli dan wortel kukus makanan pertamanya, alhamdulillah tidak ada kendala saat mencoba memasukkan makanan ke mulut nya. Sampai tibalah saat gagging / kelolodan Alhamdulillah berbekal ilmu marathon kemarin kami bisa melewatinya {cukup berusaha tenang (tidak panik) dan percaya kalau dia bisa menghandlenya sendiri sambil tetep di perhatikan} ,  di usia 7 bulan dia mulai bisa menghandle makanan yg masuk artinya gangging pun sangat jarang terjadi, sampai sekarang (17 bulan) alhamdulillah dia belum pernah gagging lagi.

Oh ya saya sempat sesekali mencoba menyuapi bubur instan waktu itu hasilnya sukses dia tolak, lain hari sarah juga pernah di kasih mpasi homemade 4 bintang dalam bentuk cair alhamdulillah masuk ke mulut, tapi selang beberapa detik dia sembur lalu menolaknya lagi.

 

Usia 8 bulan drama MPASI mulai terlihat *chalengging* saya menyebutnya, ya bukan GTM karena saya khawatir omongan saya malah jadi doa (naudzubillah min dzalik), dia sering puasa waktu itu ,, mood saya sebagai ibu baru pun ikut terombang – ambing, sambil tetap ikhtiar alhamdulillah saya bisa gabung jadi member ceritaBLW, disana saya tidak sendiri, pelan2 saya coba tips – tips dari para pendahulu BLW, mulai dari suasana makan, variasi menu, mood seorang ibu (penting banget) karena nyetrum ternyata, dan masih banyak lagi..  Setelah saya memperbaikinya kadang berhasil kadang tidak.. Lagi2 masih dalam fase *chalengging* , cobaan buat saya karena otomatis BB seret, alhamdulillah TB masih di atas rata- rata waktu itu, tapi saya harus  jaga mood agar tetap bisa berfikir jernih, dan terus belajar.

 

Usia 9 bulan

Sarah sudah bisa pincer grasp walaupun tetap dengan segala ke *chalengging* annya.

 

Sampai di usia 10 bulan

Saya tawarkan berbagai macam makanan keluarga, dia antusias, dia makan dengan senang dan lahap,,, kami bahagia melihatnya ,, tapii tidak lama kemudian dia lepeh setelah hancur di mulut, fase ini berlanjut kurang lebih selama 3 bulan (usia 12 bulan), saya bawa ke klinik tumbuh kembang motorik dan lainnya normal alhamdulillah, hanya memang BB dan TB justru stagnan, tidak kaget waktu itu (ya gimana mau naik, makanan jarang ada yang masuk) , saya mulai bangkit seperti nya ada hal lain kenapa nafsu makan anak saya seperti ini, karena sependek pengetahuan saya normalnya manusia itu butuh makan termasuk bayi, pasti ada sesuatu kenapa anak belum mau makan.

dan pada usia ini sarah sudah saya kasih garpu, alhamdulillah tidak butuh waktu lama Sarah sudah menunjukkan keahliannya.

 

12 bulan

(Ikhtiar lain di mulai)

Kami ajak sarah ke salah satu klinik picky eater di Jakarta, bermodal pemeriksaan fisik juga cerita kami, Dokter tersebut bilang kalo Sarah ada masalah di pencernaan , ada beberapa makanan yg sebenernya sensitif di perutnya , yang akhirnya perutnya sakit dan ga nyaman, dan jelas sangat mempengaruhi nafsu makannya. Beliau memberi kami list diet untuk 3 pekan , juga beliau suru minum UHT 400cc / hari singkat cerita Sarah belum mau di ajak diet dan minum UHT = gagal , tapi waktu Sarah belum mau susu saya justru bahagia malah. Artinya dia tau dong mana yang terbaik buat dirinya, karena enzim pemecah susu dalam tubuh anak  sampai 2 tahun itu hanya untuk ASI, jadi lebih sulit di cerna di tubuh, yang khawatir nya malah timbul masalah baru di pencernaan yg makin runyam (wallahualam).

Hari – hari kami lewati ,, gonta – ganti dokter untuk sekedar sharing sudah saya coba, hasilnya tetap nihil.

Oh ya pernah juga saya coba latih oromotorik dia, sya sewa alatnya waktu itu, Barangkali emang ada masalah di oromotoriknya sehingga susah menelan, alhamdulillah dia tidak mau di latih :D.

 

Sarah pelan – pelan mau makan lagi hanya porsi dia masih belum cukup sesuai usia toodler, it’s okey tidak masalah, motoku berubah menjadi *happyeater* dan alhamdulillah sedikit demi sedikit kami merasakan manfaat nya menjadi happy eater melalui metode BLW.

dan pada usia ini pelan – pelan Sarah belajar menggunakan sendok sampai di usia 15 bulan Alhamdulillah dia sudah lihai dengan sendoknya .

 

Usia 16 bulan lebih

Kami ikhtiar lagi ke salah satu praktisi naturopaty di UK, bermodal cek lab darah lengkap, besi, dan masih banyak lagi, alhamdulillah Sarah negatif ADB sujud syukur waktu itu, karena itu salah satu hal saya takuti, tapiii trombosit dia tinggi , beliau bilang sarah ada masalah di pencernaan nanti beliau observasi lebih lanjut biar penanganannya juga optimal. Ternyata oh ternyata yang dulu pernah saya dengar sistem pencernaan anak itu nurun dari ibunya, kalau ibunya waktu hamil pencernaan nya baik insyaAllah pencernaan anakpun baik dan itu benar adanya. Tidak ada kata terlambat selagi di bawah usia 2 tahun insyaAllah pemulihan bisa lebih cepat, semangat.. Doa dan ikhtiar adalah kunci kesuksesan.

 

Ketika berbagai tantangan Alhamdulillah berhasil kami lalui, menurut saya BLW itu bukan sekedar metode MPASI, justru lebih dari itu seperti melatih kepercayaan diri anak, juga orang tua untuk memberikan kesempatan belajar pada anak, melatih kesabaran, dan masih banyak lagi.

 

Dampak positif yang saya rasakan dalam BLW adalah:

  1. Membantu mengasah motorik halus Sarah, alhamdulillah milestone sesuai usianya kadang malah lebih cepat.
  2. Merangsang pertumbuhan gigi Sarah, saat ini usia 17 bulan giginya hampir full dan yang paling penting tidak ada drama tumbuh gigi sama sekali alhamdulillah, karena salah satunya tekstur makanan padat membantu mengurangi rasa sakitnya.
  3. Memiliki kepercayaan diri dan kemandirian karena dia terbiasa diberi kebebasan untuk mengenali kemampuan dirinya sendiri.
  4. Alhamdulillah Sarah belum pernah mengemut makanan.

 

Akhir kata,

Setiap orang mempunyai strugglenya masing-masing, tinggal gimana kita menjalani dan menghadapinya.

Metode BLW mungkin belum tentu cocok untuk setiap ibu dan anak, tapi bisa di jadikan alternatif dalam memberikan MPASI. Kuncinya percaya dan yakin ketika memilih metode BLW, juga dukungan lingkungan sekitar penting juga lho..

eits jangan lupa perbanyak ilmu dulu ya.. ^^ Bila perlu konsultasikan ke ahlinya lebih baik.

*prasangka baik kita terhadap anak di masa masa challenging, jangan sampai melenakan kita terhadap amanah Allah yg terindah 😘*

 

Semoga bermanfaat dan bisa mengambil hikmah dari sedikit cerita saya. Aamiin

 

#ceritablw_hut4pengalamanblw

Salam,

Sumayyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *