LABELLING PADA ANAK

Oleh

Andrea Kusuma P.M., M.Psi., Psikolog

Senin, 18 Maret 2019

Moderator       : Adriani Lestari

Notulen           : Atikah Ariyanti

APA ITU LABELLING?

Tindakan mendefinisikan seseorang dalam suatu kata singkat, seperti mendefinisikan anak yang sering melanggar peraturan sebagai anak ‘nakal’.

LABELLING THEORY

Teori mengenai bagaimana identitas diri dan perilaku seseorang, dapat ditentukan / dipengaruhi oleh kata atau frase yang orang lain gunakan untuk menggambarkan dirinya

KENAPA KITA MELAKUKAN LABELLING PADA ANAK?

Terkadang kita bingung untuk menjelaskan mengenai masalah perilaku yang anak kita miliki. Memberikan label pada perilaku tersebut, mempermudah kita untuk menjelaskan dan mengambil tindakan atas perilaku tersebut.  Contoh: “Dia memang anak yang keras kepala dari kecil” “Menurut guru sekolah, anak saya memang pemalu” “Kakak kamu memang anak yang pendiam dari kecil, beda sama kamu yang cerewet”

Karena terkadang orangtua butuh alasan untuk menjelaskan  perilaku anak yang kurang berkenan, kepada orang lain. Contoh: Anak tidak mau salim kepada kerabat yang baru datang. orangtua berkata di depan anak “maaf ya, dia memang pemalu anaknya”. ➡ Labelling dilakukan karena orangtua merasa sungkan dengan orang lain dan butuh alasan singkat untuk menjelaskan perilaku anaknya.

DAMPAK LABELLING PADA ANAK

Self Fulfilling Prophecy

Contoh :

  • Others beliefs : Orangtua me-label anak yang aktif mengeksplor lingkungan sebagai ‘nakal’
  • Others actions: Orangtua langsung melarang dan memarahi dengan kata-kata ‘nakal’ saat anak

mulai berlarian/memegang sesuatu

  • Our beliefs: Anak mulai meyakini bahwa rasa penasarannya adalah suatu sifat ‘nakal’, ‘tidak bias diam’
  • Our actions: Anak berperilaku sesuai dengan label yang diberikan kepada dirinya
  • Me-labelling anak, berarti kita mencegah mereka untuk tumbuh berkembang dan menjadi

apapun yang mereka inginkan.

  • Me-labelling anak berarti kita membatasi potensi yang mereka miliki dan kemungkinan

pencapaian-pencapaian mereka.

  • Anak-anak masih ada dalam tahap belajar. Mereka masih memiliki ruang luas untuk

berkembang dan berubah

 

BAGAIMANA MENCEGAH/MEMPERBAIKI LABELLING PADA ANAK?

  • Ajak anak diskusi mengenai apa saja kualitas/sifat positif yang mereka miliki -> agar mereka

tidak terpaku hanya pada satu ‘label’ sifat saja.

  • Gunakan pujian yang bersifat deskriptif -> jelaskan dengan detil apa perilaku yang anak lakukan: “Kakak baik hati ya, karena mau berbagi kue dengan temannya” “Terima kasih ade, karena sudah rajin mau membantu mama membereskan mainan”

Speak to your children as if they are the wisest, kindest, most beautiful, and magical humans on earth, for what they believe is what they will become.

Brooke Hampton

 

SESI TANYA JAWAB

1.Vidinia Larasati

Apakah selalu memuji anak dengan kata “pintar” itu tidak baik? Apa akan membuat anak menjadi tinggi hati?

Jawaban :

Dari penelitian memang menunjukkan bahwa pujian lebih baik bersifat *deskriptif*, bukannya evaluatif. Bedanya apa?

Pujian evaluatif: ketika kita memberikan pujian berdasarkan penilaian kita atas tindakan yg anak lakukan. Wah, kamu pintar ya! Gambarnya indah ya!. Indah & pintar ini kan penilaian subyektif kita bukan?

Pujian deskriptif: lakukan observasi atas tindakan spesifik yang anak lakukan. Berikan pujian & rekognisi atas hal tersebut. “Wah terima kasih kakak karena telah mau menaruh semua mainan di tempatnya. Sekarang kita jadi gampang deh nemuin mobil2an Tayo nya!” “Wah sekarang ade sudah bisa membedakan warna merah dan hijau ya. Yuk kita belajar warna lain!”

Kenapa disarankan seperti ini? Karena dari penelitian terlihat bahwa anak yang mendapat pujian evaluatif terlalu berfokus kepada kualitas diri yang disebut dalam pujian ini dan akhirnya bersifat lebih dependen serta membutuhkan pujian terus menerus untuk menentukan keberhargaan dirinya (self worth). Dengan pujian deskriptif kita mengajak anak untuk secara mandiri mengevaluasi kualitas diri apa saja yg ia miliki, sehingga di kondisi sulit mereka dapat mengeluarkan keyakinan akan kemampuan diri itu scr internal.

2.  Febi Haryani

Labeling pada anak tentu harus ditanamkan sejak usia dini. Namun bagaimana jika ketika anak di luar rumah atau di lingkungan sekitarnya dilabeli sebagai anak nakal, atau anak jahil. Padahal orang tuanya selalu menjelaskan kalau dia anaknya aktif dan serba ingin tahu.

Apakah si anak akan bingung mendefinisikan label sebuah sikap tertentu dan apakah akan berpengaruh terhadap perkembangannya meskipun lingkungan keluarga tidak melabeli dia buruk?

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap / tindakan orang tua jika anak berada di lingkungan yg melabeli anaknya nakal, jahil, dsb?

Terima kasih

Jawaban :

Justru labelling dalam bentuk apapun sebaiknyat tidak dilakukan mbak, baik labelling negatif atau positif, karena anak perlu belajar bahwa kualitas dirinya tidak ditentukan dengan 1-2 kata sifat saja. Dia adalah manusia dengan beragam karakter dan rentang emosi.

Yang orang tua bisa lakukan sudah aku tuliskan di slide kedua terakhir ya. Lakukan diskusi dengan anak mengenai sifat-sifat baik dan buruk apa saja yang ia miliki? Apa yang sebaiknya dilakukan terkait sifat tersebut? Berikan juga pujian-pujian yg bersifat deskriptif.

3. Irma NS

Mau bertanya.. sering kali bukan orang tua yg melabeli anak tetapi tetangga atau bahkan akung eyangnya, semacam anak nakal, dst.. bagaimana kita menghadapinya dengan bijak?

Jawaban :

Sebisa mungkin berikan penjelasan mengenai tahapan tumbuh kembang anak ke lingkungan sekitar yang banyak interaksi dengan anak kita. Untuk anaknya, setiap dia dilabeli seperti itu, bisa diajak bicara “memang apa yang sedang mau kamu lakukan? Manjat jendela kah? Kalau kakak manjat, risikonya bisa jatuh loh. Kakak boleh manjat, kalau siap dengan risikonya, dst..dst”. Ajak anak diskusi dan cari kesepakatan bersama untuk meng-counter labelling tsb.

4. Nama : Prastika

Bagaimana caranya menghadapi/menanggapi labelling dari orang luar terhadap anak kita? Misalnya, saya punya keponakan, saya sm ibunya(kakak) berusaha belajar tidak melabeli, akan tetapi tipikal anaknya mudah menangis dan bila meminta sesuatu berteriak, nah, tetangga juga sama mertuanya kakak akhirnya nyeletuk “kamu, nakal ya”

5.  Dyah

Safa 17 bulan butuh waktu lebih lama buat observasi ke orang atau lingkungan baru. Yang bikin orang-orang bilang safa penakut. Gimana cara biar anak bisa lebih mudah adaptasi di tempat baru? Sedih aja kalo tiap main ke saudara pada lho safa takut ya? Safa malu yaa?

Jawaban :

Mamanya jangan sedih ya. Temperamen tiap anak memang beda. Ada anak-anak yang butuh waktu lebih lama untuk adaptasi di lingkungan baru.Tugas orang tua bukan membuat anak bisa mengikuti tuntutan lingkungannya, tapi bagaimana membuat anak merasa aman dan nyaman di tempat ia berada, sehingga keberanian itu tumbuh dari dalam diri.

Kalau di kondisi gini, hiraukan aja pendapat orang-orang dewasanya dan fokus ke anak kita. Jongkok agar kita sejajar dengan anak, dan ajak anak bicara. “Safa mau dadah ga sama om? Safa mau salim ga sama tante?” Kalau anak masih ga mau, gausah dipaksa. Ditemani aja sampai ia merasa nyaman dgn sekelilingnya.

Tanggapan mbak Prastika :

Kalau anaknya masih bisa kita kondisikan seperti yang mbak sampaikan, hanya saja susah ketika anak interaksi dengan nenek atau tetangga dekat, mereka mudah ngelabelin negatif kalau anak mengekspresikan emosinya dibilang “ngambekan”, ibunya perlu bilang apa ya?

Jawaban

Coba sebisa mungkin dan sesederhana mungkin dijelaskan bahwa ini memang tahap tumbuh kembang anak. Anak msh dalam tahap belajar utk mengenali emosinya. Kalau tidak mempan juga, langsung saja minta sebisa mungkin ke orang-orang dewasa di sekitar untuk menjaga omongannya. Lebih baik gunakan kalimat-kalimat positif yang menyenangkan, agar menjadi doa utk anaknya menjadi anak yg lebih baik lagi

Tanggapan mbak Dyah

Jadi emang wajar kan ya mbak kalau anak gak mau langsung sama orang yang jarang dia temuin? Terus safa kan denger tuh budhe-budhenya atau uti-utinya yang bilang ih safa maluu yaa. Kita harus gimana mbak??

Jawaban

Wajar mbak. Jangankan anak kecil, kita juga kalau baru ketemu sama saudara jauh yang jarang ketemu juga mungkin gak langsung haha hihi cipika cipiki kan? Pasti ada waktu basa basinya dulu, cari tau ini tipe orang yang gimana yaa. Bisa ga ya diajak ngobrol asik? Kalau di kondisi gini, hiraukan aja pendapat orang-orang dewasanya dan fokus ke anak kita. Jongkok agar kita sejajar dengan anak, dan ajak anak bicara. “Safa mau dadah ga sama om? Safa mau salim ga sama tante?” Kalau anak masih ga mau, gausah dipaksa. Ditemani aja sampai ia merasa nyaman dgn sekelilingnya.

 

Bisa juga langsung aja minta sebisa mungkin ke orang-orang dewasa di sekitar untuk menjaga omongannya. Lebih baik gunakan kalimat-kalimat positif yg menyenangkan, agar menjadi doa utk anaknya menjadi anak yg lebih baik lagi.

6. Tutus

Apa labelling selalu negatif? Bagaimana jika labellingnya ‘anak pintar,anak manis, anak mama’ dst? Terima Kasih

Jawaban :

Labelling bisa juga dalam arti positif mba, tapi punya dampak negatif yg sama. Kenapa? Karena sebaiknya anak perlu belajar bahwa kualitas dirinya tidak ditentukan dengan 1-2 kata sifat saja. Dia adalah manusia dengan beragam karakter dan rentang emosi.  Anak yang manis pun boleh marah ketika ia kesal. Anak yang pintar tetap boleh dapat nilai jelek ketika ia sedang tidak fokus. Dampak labelling positif ini seringkali membuat anak jadi takut membuat kesalahan. Mereka juga takut mengambil risiko dan menghindari tantangan karena khawatir akan kegagalan. Hal ini dilakukan karena mereka berusaha mempertahankan labelling positif tersebut yg kita menjadi identitas diri mereka.

Tanggapan mbak Tutus

Terima kasih banyak . Sangat tercerahkan

7. Anggi Astria

Aku mau tanya, kita harus ngomong apa kalau ada keluarga atau tetangga yang ngelabelin anak kita, kadang aku ya jadi reflek ngomong iya nih Aqeel pemalu tantee. Karna aku gak tau harus bereaksi kayak gimana pas Aqeel nemplok aja sama emaknya. Terima Kasih

Jawaban :

Nah ini sama jawabannya dengan No. 5, mbak Dyah ya. Saranku sih omongin ke orang dewasanya gak usah ditanggepin, tapi langsung aja tanyakan ke anaknya. “Aqeel mau salim ga sama om?” Kalau anaknya masih ga mau, “ohh oke gapapa kalau Aqeel belum mau salim. Pelan2 aja yaa”. Bisa juga kasih penjelasan ke orang dewasanya “maaf ya tante, Aqeelnya belum mau salim”, jadi langsung fokus ke deskripsi perilakunya aja

8. Nisha

Pelabelan anak yang istilahnya “anaknya gak mau selain sama emaknya” kalau dipegang orang lain atau liat orang lain pasti nangis. Nah ini gimana? Terus klo kita kelepasan bilang “dia mah gak langsung mau maen, merhatiin sekitar dulu nanti kalo udah mau maghrib bubaran main baru gabung sama anak-anak  yang lain” ini buat abangnya istilahnya “gak mau jauh-jauh dari ekor emaknye”. Itu termasuk pelabelan gak ya ?

Jawaban :

Bisa jadi pelabelan. Tapi ucapan mbak yang ” merhatiin sekitar dulu nanti kalo udah mau maghrib bubaran main baru gabung sama anak-anak  yang lain “, cukup ok kok untuk ngasih penjelasan ke orang-orang sekitar

Tanggapan mbak Nisha

Oh berarti masih aman ya, iya nih aku berusaha gak ngelabelin anak jaidnya penjelasannya segambreng kalimat . Nah  kalau yang soal anak kita setiap ketemu orang nangislah takutlah. Sampai  kata orang “si adek sama orang lain takut ya” “rewel” nah itu gimana

Tanggapan mbak Nidya

Kayaknya ini menyangkut tipe anak yg macam introvert extrovert gitu gak mbak Andrea?

Jawaban

Bisa iya bisa enggak. Mungkin lebih ke temperamen bawaan anak ya, ada yang memang tipenya slow to warm up, jadi butuh waktu lebih untuk adaptasi di lingkungan baru.

Kalo introvert itu gak selalu berarti pemalu. Intro ekstrovert itu lebih ke bagaimana cara seseorang untuk me ‘recharge‘ dirinya. Orang intro biasanya lebih suka recharge energi di kegiatan individual, karena bertemu orang banyak atau ada di keramaian itu kadang melelahkan untuk mereka. Tapi bukan selalu berarti mereka pemalu atau tertutup

Tanggapan mbak Nidya

Nah maksudku tempramen,iyaa ‘slow to warm up’ Tempramen ini bisa berubah apa menetap?

Tanggapan mbak Andrea

Sebenernya temperamen kan ada 3 ya yang sering dipakai, easy child, slow to warm up, sama difficult child. Tapi ga kselalu anak itu cuma 1 tipe, bisa juga dia campuran dari 2 tipe. Temperamen cenderung menetap sampai besar, tapi tampilan keluarnya bisa ‘diperhalus’ seiring dengan anak belajar melalui lingkungan dan keluarga. Kayak anak yg difficult, ga selamanya akan mudah emosi, dan sulit nyaman dengan orang tidak dikenal, jika seiring tumbuh kembangnya ia dipaparkan dengan ajaran dan lingkungan yang suportif

Tanggapan mbak Nidya

Hoooo yayaya makasih penjelasannya mak Raka,pertanyaanku malah merembet sampai tempramen.

9. Qiqi

Bagaimana menyikapi lingkungan yang suka melabeli anak? Seperti gurunya, kakek, neneknya atau para tetangga sekitar?

Jawaban :

Ini jawabannya sama dengan pertanyaan nomor 3, Mba Irma ya mak.

10. Nidya

Jika labelling itu datang dari orang lain (saudara,tetangga),respon positif spontan seperti apa agar anak kita yang mendengar tidak merasa minder dengan label tersebut? Terima Kasih

Jawaban :

Ini jawabannya serupa dengan pertanyaan no 4 & 6 ya mak.

11. Ina

Pada slide materi disebut melabel anak dengan hal yg negatif adalah buruk, bagaimana dengan label positif? seperti “anak umi pinter, penurut” atau “anak umi hebat, pemberani”

Terima kasih

Jawaban :

Nah ini sama jawabannya dgn pertanyaan no 5 ya mba 😊

Tanggapan

Tercerahkan makasi jawabannya mbak

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *