Cerita BLW Atha; Perjalanan BLW Atha

Assalaamu’alaikum. . .

Perkenalkan namaku Risa (27 tahun) Bunda Atha (26 bulan).

Sebagai orang tua baru, aku berusaha untuk terus belajar. Termasuk soal perjalanan mpasi Atha.

Atha mulai mpasi usia 6 bulan. Mulai deh belajar saring menyaring makanan. Seminggu oke ya dia makannya. Setelah itu, dia mulai narik- narik sendok yang aku pegang, mulai nangis kalau disuapin, maunya pegang sendok. Aku bingung, karena dia lebih suka gigitin sendok daripada aku suapin. Akhirnya daripada aku stres sendiri, aku kasih sendoknya.

Nah, waktu lihat IGnya Mbak artis, aku jadi mikir apa Atha mau makan sendiri?. Aku mulai cari info soal BLW di IG. Waktu itu mau beli bukunya masih susah dan nggak tahu mau beli dimana. Awalnya aku kasih potongan wortel kukus, brokoli, apel, tempe. Selanjutnya seperti ayam, telur, buah, nasi, dll. Dia semangat banget fokus masukin apapun yang dipegang. Alhamdulillah, drama makan gak ada lagi. Mulailah aku ngikutin IG Cerita BLW, akhirnya masuk grup WAG dan belajar dari para senior disana.

Sampai akhirnya umur 9 bulan Atha ga mau makan. Mogok ga mau sama sekali, disuapin juga gak mau. Berlanjut dua mingguan, dia demam aku bawa ke Rumah Sakit opname, lab ini itu. Akhirnya ketahuanlah kalau ISK. Dari situ Atha kehilangan nafsu makannya. BB ga naik sama sekali, berlangsung sampai umur 10 bulan. Dia mulai mau makan tapi disuapin. Kalau nyamil buah atau snack kadang makan sendiri. Sebagai ibu aku tetep usaha nawarin, entah dia mau makan sendiri atau disuapin yang penting nawarin makanan.

Dari umur 10 bulan sampai 12 bulan Atha masih bolak balik ke Rumah Sakit, karena ISKnya sering berulang. Akhirnya dikhitanlah dia setelah perjuanganku meyakinkan suami dan keluarga untuk khitan.

Alhamdulillah sekarang usia 26 bulan. Makan masih sering minta suapin (gak apa-apa lah bagiku, yang penting dia happy makan) tapi kalau nyamil mau makan sendiri. Alhamdulillah BB perlahan naik.

Itulah sekilas perjalanan mpasi Atha.

Semoga anak- anak kita selalu tumbuh sehat.

Terimakasih ibu- ibu keren disini, MasyaAllah 😘

Aku jarang dokumentasiin Atha pas makan.

Ini kayaknya sekitar usia 7 bulan. Nyamil jeruk aja.

Cerita BLW Sarah; Secercah Cahaya Lorong Drama MP-ASI

Juara 1 lomba pengalaman BLW dalam rangka anniversary Cerita BLW yang ke 4 

Tepat 5 bulan usia Sarah, saya masih mengASIhi Sarah dengan santainya.. Tiba-tiba saya sadar 1 bulan lagi Sarah harus mulai belajar makan, waktu itu belum ada gambaran sama sekali tentang MPASI untuk Sarah. Yang aku tau hanya bubur instan atau mpasi homemade lebih tepatnya pure (yang mana aku pun belum tentu suka). Saat itu juga saya teringat dulu pernah punya murid usia 3 tahun yang bisa makan sendiri, duduk rapih, suka semua makanan khususnya sayur dan buah, habis bersih tak bersisa baru dia bangun dari duduknya. Singkat cerita saya langsung kontak ibunya yang kebetulan dosen psikologi UGM bergelar Master saya pun makin yakin tak salah ambil ilmu dari beliau insyaAllah. Beliau cuma jawab “coba search BLW , ada ebooknya (bahasa inggris) juga” .. Saya cari di google, di web, sampai lah di IG, alhamdulillah saya justru menemukan buku terjemahannya, tapi saat itu masih langka sekali.. Dimana mana habis, saya tak putus asa.. Alhamdulillah masih rezeki 2 minggu kemudian buku wajib BLW sampai di tangan. Seketika saya langsung marathon baca sambil mencoba memahami kalimat demi kalimat.. Ya setelah baca bukunya dan diskusi sama suami, tidak lupa sharing dengan ibu saya dan mertua Alhamdulillah mereka semua mendukung dan saya makin yakin ingin memakai metode BLW mengenai MPASI ini.

 

181 hari

Brokoli dan wortel kukus makanan pertamanya, alhamdulillah tidak ada kendala saat mencoba memasukkan makanan ke mulut nya. Sampai tibalah saat gagging / kelolodan Alhamdulillah berbekal ilmu marathon kemarin kami bisa melewatinya {cukup berusaha tenang (tidak panik) dan percaya kalau dia bisa menghandlenya sendiri sambil tetep di perhatikan} ,  di usia 7 bulan dia mulai bisa menghandle makanan yg masuk artinya gangging pun sangat jarang terjadi, sampai sekarang (17 bulan) alhamdulillah dia belum pernah gagging lagi.

Oh ya saya sempat sesekali mencoba menyuapi bubur instan waktu itu hasilnya sukses dia tolak, lain hari sarah juga pernah di kasih mpasi homemade 4 bintang dalam bentuk cair alhamdulillah masuk ke mulut, tapi selang beberapa detik dia sembur lalu menolaknya lagi.

 

Usia 8 bulan drama MPASI mulai terlihat *chalengging* saya menyebutnya, ya bukan GTM karena saya khawatir omongan saya malah jadi doa (naudzubillah min dzalik), dia sering puasa waktu itu ,, mood saya sebagai ibu baru pun ikut terombang – ambing, sambil tetap ikhtiar alhamdulillah saya bisa gabung jadi member ceritaBLW, disana saya tidak sendiri, pelan2 saya coba tips – tips dari para pendahulu BLW, mulai dari suasana makan, variasi menu, mood seorang ibu (penting banget) karena nyetrum ternyata, dan masih banyak lagi..  Setelah saya memperbaikinya kadang berhasil kadang tidak.. Lagi2 masih dalam fase *chalengging* , cobaan buat saya karena otomatis BB seret, alhamdulillah TB masih di atas rata- rata waktu itu, tapi saya harus  jaga mood agar tetap bisa berfikir jernih, dan terus belajar.

 

Usia 9 bulan

Sarah sudah bisa pincer grasp walaupun tetap dengan segala ke *chalengging* annya.

 

Sampai di usia 10 bulan

Saya tawarkan berbagai macam makanan keluarga, dia antusias, dia makan dengan senang dan lahap,,, kami bahagia melihatnya ,, tapii tidak lama kemudian dia lepeh setelah hancur di mulut, fase ini berlanjut kurang lebih selama 3 bulan (usia 12 bulan), saya bawa ke klinik tumbuh kembang motorik dan lainnya normal alhamdulillah, hanya memang BB dan TB justru stagnan, tidak kaget waktu itu (ya gimana mau naik, makanan jarang ada yang masuk) , saya mulai bangkit seperti nya ada hal lain kenapa nafsu makan anak saya seperti ini, karena sependek pengetahuan saya normalnya manusia itu butuh makan termasuk bayi, pasti ada sesuatu kenapa anak belum mau makan.

dan pada usia ini sarah sudah saya kasih garpu, alhamdulillah tidak butuh waktu lama Sarah sudah menunjukkan keahliannya.

 

12 bulan

(Ikhtiar lain di mulai)

Kami ajak sarah ke salah satu klinik picky eater di Jakarta, bermodal pemeriksaan fisik juga cerita kami, Dokter tersebut bilang kalo Sarah ada masalah di pencernaan , ada beberapa makanan yg sebenernya sensitif di perutnya , yang akhirnya perutnya sakit dan ga nyaman, dan jelas sangat mempengaruhi nafsu makannya. Beliau memberi kami list diet untuk 3 pekan , juga beliau suru minum UHT 400cc / hari singkat cerita Sarah belum mau di ajak diet dan minum UHT = gagal , tapi waktu Sarah belum mau susu saya justru bahagia malah. Artinya dia tau dong mana yang terbaik buat dirinya, karena enzim pemecah susu dalam tubuh anak  sampai 2 tahun itu hanya untuk ASI, jadi lebih sulit di cerna di tubuh, yang khawatir nya malah timbul masalah baru di pencernaan yg makin runyam (wallahualam).

Hari – hari kami lewati ,, gonta – ganti dokter untuk sekedar sharing sudah saya coba, hasilnya tetap nihil.

Oh ya pernah juga saya coba latih oromotorik dia, sya sewa alatnya waktu itu, Barangkali emang ada masalah di oromotoriknya sehingga susah menelan, alhamdulillah dia tidak mau di latih :D.

 

Sarah pelan – pelan mau makan lagi hanya porsi dia masih belum cukup sesuai usia toodler, it’s okey tidak masalah, motoku berubah menjadi *happyeater* dan alhamdulillah sedikit demi sedikit kami merasakan manfaat nya menjadi happy eater melalui metode BLW.

dan pada usia ini pelan – pelan Sarah belajar menggunakan sendok sampai di usia 15 bulan Alhamdulillah dia sudah lihai dengan sendoknya .

 

Usia 16 bulan lebih

Kami ikhtiar lagi ke salah satu praktisi naturopaty di UK, bermodal cek lab darah lengkap, besi, dan masih banyak lagi, alhamdulillah Sarah negatif ADB sujud syukur waktu itu, karena itu salah satu hal saya takuti, tapiii trombosit dia tinggi , beliau bilang sarah ada masalah di pencernaan nanti beliau observasi lebih lanjut biar penanganannya juga optimal. Ternyata oh ternyata yang dulu pernah saya dengar sistem pencernaan anak itu nurun dari ibunya, kalau ibunya waktu hamil pencernaan nya baik insyaAllah pencernaan anakpun baik dan itu benar adanya. Tidak ada kata terlambat selagi di bawah usia 2 tahun insyaAllah pemulihan bisa lebih cepat, semangat.. Doa dan ikhtiar adalah kunci kesuksesan.

 

Ketika berbagai tantangan Alhamdulillah berhasil kami lalui, menurut saya BLW itu bukan sekedar metode MPASI, justru lebih dari itu seperti melatih kepercayaan diri anak, juga orang tua untuk memberikan kesempatan belajar pada anak, melatih kesabaran, dan masih banyak lagi.

 

Dampak positif yang saya rasakan dalam BLW adalah:

  1. Membantu mengasah motorik halus Sarah, alhamdulillah milestone sesuai usianya kadang malah lebih cepat.
  2. Merangsang pertumbuhan gigi Sarah, saat ini usia 17 bulan giginya hampir full dan yang paling penting tidak ada drama tumbuh gigi sama sekali alhamdulillah, karena salah satunya tekstur makanan padat membantu mengurangi rasa sakitnya.
  3. Memiliki kepercayaan diri dan kemandirian karena dia terbiasa diberi kebebasan untuk mengenali kemampuan dirinya sendiri.
  4. Alhamdulillah Sarah belum pernah mengemut makanan.

 

Akhir kata,

Setiap orang mempunyai strugglenya masing-masing, tinggal gimana kita menjalani dan menghadapinya.

Metode BLW mungkin belum tentu cocok untuk setiap ibu dan anak, tapi bisa di jadikan alternatif dalam memberikan MPASI. Kuncinya percaya dan yakin ketika memilih metode BLW, juga dukungan lingkungan sekitar penting juga lho..

eits jangan lupa perbanyak ilmu dulu ya.. ^^ Bila perlu konsultasikan ke ahlinya lebih baik.

*prasangka baik kita terhadap anak di masa masa challenging, jangan sampai melenakan kita terhadap amanah Allah yg terindah 😘*

 

Semoga bermanfaat dan bisa mengambil hikmah dari sedikit cerita saya. Aamiin

 

#ceritablw_hut4pengalamanblw

Salam,

Sumayyah

Cerita BLW Yui; “Percaya Yui Bisa!”

image

Hai teman-teman semua! Sebelumnya perkenalkan dulu, saya Nia Momonya Yui (21 bulan), pastinya banyak yang belum kenal nih, soalnya sejak Yui usia 15 bulan, Momonya ini kembali ke dunia kerja, ceritanya jadi working mom gitu deh setelah 15 bulan + 6 bulan pas mengandung mendekam dirumah, akhirnya jiwa cewek petakilannya nggak betah dan pingin kembali ke dunia luar.

Yui start BLW-an dari hari pertama MPASI tepatnya tanggal 8 September 2014 usia 6 bulan. Saat itu Yui belum canggih duduknya, masih suka merosot-rosot kanan kiri depan, padahal Momonya saking semangatnya sudah beliin High Chair yang gede bener jadi jarak antara senderan dan traynya pun cukup jauh, akhirnya terpaksa lah diganjal kanan kiri belakang pakai bantal, biar Yui duduknya lebih firm dan bisa concern sama makanannya nggak merosot lagi merosot lagi (psst.. dari pengalaman ini dan akhirnya baca-baca share dari ibu-ibu di FB, sedikit tips dari saya untuk baby pemula better pakai booster or baby seat bumbo. Eits… Sungguh ini bukan iklan, cuma saran aja, supaya duduknya lebih firm dan nggak ribet. Soalnya siasat pakai bantal ini walau efektif tapi ya effort juga, kalau setiap makan terus bantalnya kudu dicuci karena jadi korban perang kan.

Ok, kembali ke masalah BLW, dulu kenapa ya saya pilih BLW? terus terang aja saya lupa, soalnya saking nikmat dan serunya BLW-an. Kalau dipaksa-paksa inget sih kayanya karena pas saya searching nemunya kok yang bagus-bagus infonya buat BLW, melatih kemandirian, melatih motorik bayi, melatih bayi untuk kenal dan tahu semua makanan jadi nggak pilih-pilih makanan dan bye GTM, plus liat foto-fotonya seru buanget, seru buat babynya yang maskeran dan celemotan, seru juga buat emaknya yang nggak pakai bebikinan bubur kemana-mana bawa peralatan perang demi bikin bubur dan pure dan yang lebih pentingnya lagi, karena nggak pakai nyuapin otomatis tangan emaknya free donk buat ceklak ceklik bikin dokumentasi. Please…

Tapi oh tapi ternyata kenyataan tidak seindah info-info yang didapat, ternyata banyak hidden scenenya, mulai dari mandi lagi mandi lagi, nyapu lagi nyapu lagi, ngepel lagi ngepel lagi, sampai waktu makan yang acak adut, sekaligus timing makan yang acak adut, kalau liat baby-baby yang lain, tet jam 7 makan pagi, jam 9 minum susu, jam 11 makan siang, minum susu, bobo, jam 3 makan buah, jam 5 makan malam, jam 7 minum susu (kira-kira gitulah ya?). Dengan BLW, yang sudah waktunya makan, eh pas kebeneran kok Yui nya belum lapar, padahal emaknya udah kelaparan berat, pas waktu-waktu ajaib makanan belum ready or malah udah diberesin, lah Yui malah minta makan. Dan aturan habis makan tidak boleh mandi, di BLW mah sama sekali nggak kepake deh, ya gimana nasib Yui kalau abis makan heboh-hebohan terus nggak dimandiin, ya nanti Yui diserbu semut dong? Apa sekalian disamperin kucing gara-gara masih bau-bau amis ikan gitu kan? Apalagi kalau pas makan di luar, ceritanya lagi acara keluarga or kongkow bareng temen gitu kan, jangan harap ya makan cantik ala baby-baby lain, yang bajunya bisa tetep rapi, bersih, rambut tetap wangi, walau udah pakai bib, ya tetep aja itu yang namanya kuah, or tetesan-tetesan apalah gitu, cukup buat menambah corak di baju dan lembab-lembab gimana, jadi banyak-banyak bawa itu yang namanya tissue basah dan baju ganti, kalau perlu handuk kecil jadi kalau memungkinkan untuk diseka dengan air, better diseka dengan air deh.

Oops, kok jadi kaya menakutkan banget ya BLW? Jadi mulai ragu dengan BLW? Hehehe tentu tidak, biar rempong kaya gimana juga maju terus, kan kalau kata iklan Nggak ada noda ya nggak belajar, yess banget tuh, justru dari segala kerempongan itu kita belajar sama-sama, Yui belajar mengenal bentuk dan rasa asli makanan, tekstur makanan, belajar menyuap, mengigit, menguyah, belajar mengenal panas, hangat, dingin, dan bagaimana handle makanan-makanan itu, plus yang terpenting Yui belajar percaya diri, karena dari awal Yui belajar melakukan sendiri dan semua yakin Yui pasti bisa. Momonya pun belajar banyak dari proses BLW ini, belajar sabar, belajar percaya, belajar rajin bersih-bersih, belajar masak ala-ala dan belajar pasrah. Haha, kenapa pasrah? Ya saking PD-nya si Yui, kalau waktu mepet, mau disuapin pikiran biar cepet dan nggak ribet, tapi Yui nya pingin makan sendiri ya segala alat makannya direbut atau malah langsung diraup makannya pakai tangan. Terus kalau sudah jam makan tapi Yui belum mau, ya nggak mau beneran, mau dialihin pakai mainan or diajak lihat apa kek gitu, disodorin makanan ya mingkem aja gitu, nanti kalau sudah mau makan baru deh minta sendiri. Nah ini suka agak ribet kalau lagi di luar rumah, lagi pergi ramai-ramai, terus yang lain makan, Yuinya belum mau makan, masa nanti harus mampir resto lagi buat Yui makan, akhirnya Momo kudu pasrah, bawain kotak makan kosong buat nampung makanan Yui, jadi kapan Yui mau makan baru buka kotak makan deh.

Wah nggak sangka udah panjang aja ini sharingnya, padahal awal mau mulai bingung, begitu mulai lah kok nggak abis-abis? Ya jadi mari kita sudahi saja ya disini daripada akhirnya jadi novel kan? Sekedar berbagi kunci BLW buat saya adalah PERCAYA. Percaya Yui bisa, percaya gizi Yui tercukupi (meski kalau liat kasat mata kok kayanya makannya nggak sebanyak dan seteratur baby/toddler dengan cara konvensional.), Percaya semua ini adalah proses belajar dan percaya bahwa semua akan indah pada waktunya. Semangat Moms!

Cerita BLW Jaisyu; Jaisyu’s Led Weaning

image

Saya sangat tertarik dengan BLW sejak saya menemukan video tentang bayi yang mahir makan sendiri. Saat itu saya masih di bangku kuliah dan belum menikah. Waktu pun berlalu, saya akhirnya memiliki anak. Saya pun lebih banyak membaca tentang BLW, acuan utama saya adalah buku Baby Led Weaning yang ditulis oleh penemu BLW, Gill Rapley. Selain itu, saya juga  membaca buku tentang MPASI bertekstur sesuai panduan WHO. Saya bimbang karena MPASI WHO juga baik.

Akhirnya saya baca habis beberapa buku mengenai kedua metode tersebut.
Setelah saya membaca buku BLW dari Gill Rapley tersebut, saya justru terkejut. Betapa pemikiran saya selama ini salah. Saya pikir BLW itu hanya soal anak makan sendiri, self eating.

Ternyata lebih dari itu. Mengacu BLW saja Baby Led Weaning itu sudah memiliki makna yang sangat dalam. Proses dimana bayi yang mengarahkan dan memutuskan sendiri proses menyapihnya, berlepas sepenuhnya dari susu (ASI/Sufor). Ternyata BLW itu main point-nya bukan soal makan, tapi proses keseluruhan menyapih hingga idealnya usia dua tahun atau lebih. Perkara ini bukan hal yang mudah. Sebagai orangtua, mempercayakan proses ini seluruhnya pada bayi yang kita anggap masih sangat “kecil”, rasanya sulit, terutama diawal mulainya makan makanan pendamping saat usia 6 bulan, belum bisa berbicara.

Bagaimana mungkin mempercayainya?
Saat lebih dalam membaca buku Gill Rapley, saya semakin memahami konsep BLW bahwa bayi itu punya keinginan dan mengetahui pula seberapa perlu ia terhadap susu dan makanan. Jadi, tidak perlu ada paksaan. Sering juga saya mendengar cerita bayi sulit makan, tidak mau makan atau makannya sedikit. Faktornya bisa bermacam-macam, bisa karena teething (sedang tumbuh gigi), bosan dengan makanan yang sama, hingga faktor ‘nggak mau aja’ tanpa diketahui alasan pasti.We should respect the baby’s decision. Let him lead his eating journey. Bukan hal yang mudah memang, pasti sebagai orangtua akan khawatir tentang bagaimana jika bayinya kurang gizi, tidak masuk makanan sama sekali, dan lain sebagainya.

Semakin dalam membaca buku ini, saya semakin memahami bawah menjaga proses makan agar tidak trauma itu adalah hal yang penting, hal ini pula yang ditekankan oleh konsep BLW. Proses makanan pengenalan sejak usia 6 bulan ini akan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pola makan seseorang diwaktu besarnya nanti. Jika bayi trauma dengan proses makannya, maka bisa saja ia menolak makanan sama sekali ketika ia sudah mampu mengenali dan memahami proses makan saat menginjak usia balita. Proses makan dibawah satu tahun adalah proses pengenalan makanan dengan ASI/Sufor sebagai asupan utama jadi rasa kekhawatiran saya perlahan hilang. Lagipula, setelah anak semakin mahir dan memahami proses makan, maka mereka akan semakin membaik kemampuan makannya. Mereka juga dapat makan dengan lahap.

Akhirnya tiba hari dimana Jaisyu, anak pertama saya, BLW. Hari pertama Jaisyu BLW tepat di hari ia berusia 6 bulan. Saya sajikan melon dan mendudukkannya di booster seat. Reaksi Jaisyu? Ia begitu antusias mencoba mengambil melonnya dan saat berhasil mengarahkan ke mulutnya, ia lalu menghisapnya. Makannya langsung habis? Tidak. Ia hanya menghisap melon dan melepehnya, terutama jika potongannya terlalu besar. Potongan? Iya potongan karena meskipun belum punya gigi ternyata bayipun mampu menggigit karena gusinya keras. And Jaisyu did. Bisa saya katakan bahwa hari pertama BLW nyaris tidak memakan apapun selain ASI.

Gill Rapley mengatakan bahwa pada usia 6 bulan, pencernaan bayi sudah matang dan saat ini lah yang paling tepat mengenalkan makanan pada bayi. Pada usia 6 bulan, bayi memiliki refleks gagging, memuntahkan makanan yang dianggap tidak bisa atau sulit ditelan karena teksturnya yang terlalu besar untuk dapat ditelan. Pada usia ini bayi belum bisa menelan makanan secara alamiah, bayi masih belajar. Jadi merupakan hal yang wajar jika bayi hanya menggigit-gigit makanan dan memuntahkannya tanpa ditelan. Seiring waktu, kemampuan menelannya akan semakin baik. Selama 1 minggu BLW Jaisyu fokus melatih pegangan tangannya dan berlatih koordinasi antara mata-mulut-tangan. Kemampuan ini semakin membaik setiap harinya. Bahkan setelah seminggu Jaisyu mulai bisa menelan makanan.

Saat ini Jaisyu berusia sembilan bulan. Nafsu makannya semakin membaik. Ia sudah mengetahui rasa lapar. Selain itu, saya merasa bahwa manfaat BLW sangat terasa dalam perkembangan Jaisyu, mulai dari koordinasi motorik halusnya yang baik dan sesuai milestone, excited dalam setiap proses makan bahkan Jaisyu termasuk anak yang senang mencoba berbagai jenis dan tekstur makanan. Alhamdulillah selama perjalanan makan sejak ASI Eksklusif berakhir, Jaisyu belum pernah GTM total, pernah beberapa kali mencicipi suatu jenis makanan dan menolaknya. Strategi yang saya terapkan adalah mencoba makanan yang ditolak itu dilain waktu. Contohnya kentang, pertama kali saya berikan kentang rebus, Jaisyu menolaknya. Kesempatan kedua, saya beri kentang kukus, Jaisyu menolaknya. Percobaan ketiga, saya beri puree kentang, Jaisyu juga menolaknya. Keempat kalinya, saya coba beri kentang kukus dengan ayam cincang saus keju. Lalu kelima kalinya, saya coba beri cheese mashed potato, Jaisyu senang sekali, dilahap dengan habis. Lalu saya berkesimpulan, jangan cepat menyerah. Tugas saya hanyalah menawarkan berbagai jenis dan variasi makanan agar memenuhi kebutuhan gizi.

Apakah saya tidak full BLW? Kalau memaknakan BLW sebagai proses bayi makan tanpa dibantu disuapi, saya akan berkata, ya Jaisyu tidak full BLW dengan makna tersebut. Namun jika memaknakan BLW sebagai proses dimana bayi yang mengarahkan dan memutuskan sendiri proses menyapihnya, berlepas sepenuhnya dari susu (ASI/Sufor), yes, we’re on the track.

Hingga saat ini Jaisyu makan sendiri dan juga disuapi. Hal penting yang terus saya jaga adalah membuat proses makan Jaisyu menyenangkan, tanpa trauma dan pemaksaan. Jaisyu dapat makan sebanyak yang ia mau dan menyusu sebanyak yang ia mau pula. I’m completely happy with his eating journey.

Cerita BLW Hamzah; “Apapun Metodenya, Syaratnya Harus Ramah Jiwa dan Minim Trauma”

image

Finally, here come the time, tiba saatnya juga saya sharing pengalaman BLW. Ada yang bilang, Tak kenal maka ta’aruf, (ta’aruf = kenalan). So, sebelumnya kita kenalan dulu yuk, Saya Aizzah Nur (27yo) Ummi dari Hamzah El-Fath Pulungan (15mo) atau simpelnya biasa saya panggil Hamzah.
Kami Ibu dan bayi yang sama-sama masih proses ta’aruf sama BLW, ya walaupun Hamzah sudah gak bisa dikategorikan bayi lagi sih, tapi proses ta’aruf kami masih berjalan sejauh ini (+/- 9bulan)
Baiklah pembaca yang budiman (dan budiwati #ehh #ngelantur),
Kalau Anda baru mau mulai BLW, bolehlah cerita ini jadi bahan referensi.
Kalau Anda praktisi BLW mix SF, tenanglah karena kita sama kok.
Kalau Anda praktisi BLW garis keras, saya minta maaf kalau ada salah-salah kata yaa sebelum mulai cerita. Hehe.

Saat ini Hamzah sudah 15bulan. Sudah sampe mana Level BLW nya? (nyengir dulu deh). Hamzah belum bisa pakai sendok-garpu. Hamzah belum bisa minum dari gelas sendiri. Hamzah belum aware sama konsep lapar. Hamzah masih suka lempar makanan. Hamzah masih suka tumplekin piring. Masih nggak betahan di HC kecuali kalo pas lagi lapar berat.
Kok Gitu? Iya begitulah, mungkin resiko karena saya yang kurang istiqomah dalam menerapkan metode BLW. Hamzah masih banyak diselingi handfeed dan spoonfeed. Masih minim kemampuan fine motoriknya kalau tentang makan.
Lah terus, sia-sia dong BLW-an nya? Ya enggak dong, insya Allah enggak. Kenapa? Karena dengan BLW, saya dan Hamzah sama-sama banyak belajar. Usia jelang 7 bulan, hamzah sudah bisa pakai sedotan air mineral. Nggak ada latihan khusus, cuma sering iseng nawarin aja. Hamzah sering melepeh makanannya? Iya, Hamzah sudah bisa melepeh sejak usia sekitar 7-8 bulan, saya lupa. Tapi dari situ saya belajar menghargai kalau bayi juga punya selera. Di waktu-waktu Hamzah hanya ingin makan nasi saja, dia akan melepehkan suapan yang saya selipin ikan/sayur. Nah kan, anak BLW gak bisa diboongin. Hamzah bisa membedakan mana makanan dan bukan makanan. Masak sih? Iya, jadi saya kalem aja kalau dia mau masukin apa aja ke mulut. Kadang malah saya bikin sesi mainan. Sekali waktu kami pernah main robek kertas pakai gigi. Hamzah merobek kertas pakai gigi, kemudian saya tadahkan tangan ke dagu, reflek dia akan melepehkan kertasnya ke tangan saya. Gak cuma kertas, biji jeruk, kulit jagung, kulit udang, duri lele, bahkan Hamzah mampu melepeh helai rambut saya yang tidak sengaja masuk ke mulutnya dan bikin dia ga nyaman.
Mungkin diawal mulai MPASI, saya berekspektasi supaya Hamzah bisa makan sendiri dengan mandiri. Tapi pada perjalanannya, tidak semulus yang saya bayangkan. Maka cukuplah saya berpuas diri dengan motivasi agar Hamzah bisa semaksimal mungkin terpapar stimulasi sensory play dari sesi makan BLW-nya.
Saya percaya kemampuan makan Hamzah akan berkembang sendiri seiring pertambahan usianya, selama tidak (banyak) proses yang sifatnya mengintervensi cara kerja alam dan tumbuh kembang alaminya. Tugas saya hanya memfasilitasi dan mendukungnya, tetap menawarkan, tetap memberikan kesempatan hamzah untuk makan sendiri atau mau makan disuapi sekaligus memastikannya mendapat cukup gizi yang baik, kalau intensitas disuapinya sedang dominan, saya perbanyak lagi jadwal main yang mengasah fine motorik dan sensoriknya.
Pun jika saya diberikan kesempatan lagi untuk memulai BLW dari awal (mungkin dengan adik-adiknya Hamzah kelak. Amin, insyaAllah) ada beberapa hal yang ingin saya perbaiki sesuai dengan informasi yang saya peroleh dari buku, konsultasi dokter, dan diskusi dengan teman-teman:
Bagaimana kemampuan makan bayi berkembang tidak jauh berbeda dengan perkembangan motorik lainnya. Seperti halnya tengkurap, mengangkat kepala, merangkak, berjalan dan berlari, demikian pula tentang keahliannya mengatasi makanan. Bayi punya waktunya sendiri kapan ia siap mengunyah, menelan, menjumput, menggunakan utensil dsb.  
Dua minggu pertama BLW (atau bisa lebih), reflek bayi masih mendorong makanannya keluar mulut. So, mungkin saya gak akan berekspektasi ada makanan yang masuk.
Saya akan langsung mengenalkan protein hewani. Kenapa? Untuk memaksimalkan asupan zat besi sebagai tindakan preventive ADB.
Saya nggak akan kaku lagi tentang pemberian gula, garam, merica, cabe, (oops), bubur atau puree, pare, jengkol, maupun pete sekalipun, haha selama dalam konteks yang masih rasional dan gak berlebihan, buat ngenalin semua jenis makanan supaya bayi saya makin kaya informasi tentang rasa, tekstur, dan baunya.
Saya nggak akan terburu-buru untuk mengenalkan utensil dan menuntut anak untuk bersegera menguasainya, karena bagaimana pun, tangan merupakan instrument belajar terbaik bagi bayi. Paling tidak sampai usianya memasuki 12 bulan, biarkanlah bayi bereksplorasi dengan makanannya.
Saya akan lebih sering menawarkan makanan dan rela nyapu-ngepel delapan kali dalam sehari, haha (we’ll see kalo yang ini mah)

Terpenting bagi saya saat ini (dan ke depannya) adalah saya selalu berupaya untuk mempersembahkan stimulasi dan pengalaman-pengalaman terbaik, yang ramah jiwa dan minim trauma untuk Hamzah dan BLW adalah salah satu metode yang menurut saya mampu memenuhi kebutuhan saya dan Hamzah.

Cerita BLW Akhtar: Akhtar paham konsep makan dan minum harus duduk

akhtar

Selamat pagi 😻🐣🌹😄,

Hai, perkenalkan saya Finda, dan putra pertama kami Akhtar Al Rasyid (24 Bulan). Menu pertama MPASI Akhtar adalah puree Alpukat. Kenapa puree? Karena saya belum mengenal BLW waktu itu. Di awal MPASI, Akhtar selalu tertarik jika melihat orang lain makan. Dia mendekati makanan, dan berusaha untuk ikut memasukkan ke mulut. Andai saat itu saya tahu, bahwa itu tanda kalau Akhtar cocok dengan BLW. Mungkin dari awal MPASI Akhtar sudah BLW.

Meski belum mengenal BLW, tapi saya paham aturan jika makan harus duduk, tidak dipaksa, dan tidak dibujuk. Jadi tiap sesi makan Akhtar duduk di booster seat, lalu saya menyuapi. Beberapa kali saat makan buah, saya membiarkannya makan sendiri. Makan berantakan pun rasanya 😻😻 BAHAGIA.

Setiap malam, ketika Akhtar sudah tidur, saya memulai untuk menyiapkan menu untuk besok. Apa menunya? Menu empat bintang lengkap ⭐⭐⭐⭐ dijadikan satu lalu dimasukkan dalam slow cooker. Esoknya ketika akan sarapan, masakan yang sudah matang dihaluskan dengan blender! Ya.. BLENDER.. (ini salah satu bagian yang saya sesali dalam masa MPASI Akhtar) Repot? Tidak. Karena saya suka ❤  saya keluar dari pekerjaan  salah satunya untuk ini. Saya bahagia ketika jam 12 malam masih asik di dapur untuk menyiapkan menu makan Akhtar besok.

Sampai akhirnya mendekati usia setahun, banyak tantangan datang. Terutama dari eyang-eyang Akhtar. Kami tinggal dalam satu rumah, jadi saat mereka tahu Akhtar makan sedikit mereka menyuruh saya untuk menyuapi sambil jalan-jalan keluar rumah, tujuannya agar makannya lahap lagi. Tantangan lainnya ialah, dirumah selalu sedia krupuk dan jajanan pasar. Alhasil sebelum usia setahun Akhtar sudah doyan makan krupuk dan kue. Saat itu saya stress, karena saya penganut MPASI bebas gula garam sebelum usia setahun. Beberapa kali saya tidak bisa menahan tangis di depan Akhtar saat dia disodori krupuk. Saya rela masak tengah malam demi makanan sehat untuk anak, dan ini dipatahkan oleh eyangnya sendiri dengan memberi makanan dengan gizi kosong, banyak minyak, dan MSG 💔💔

Usia 12 bulan, akhtar GTM. Biasanya semua bubur yang saya siapkan selalu dilahap, lalu saya mulai sadar apakah sudah saatnya naik tekstur?

Lalu saya menemukan postingan di instagram oleh salah satu artis yang anaknya sedang makan popsicle. Dari sinilah saya terus mencari informasi mengenai BLW.  Akhtar memulai BLW, artinya blender pun akhirnya pensiun. Karena terbiasa disuapi selama 6 bulan, maka ketika BLW hari-hari pertama pun dia masih memberikan kode agar saya menyuapinya. Tapi bagi saya, yang terpenting adalah menunya sudah berteksture dan dia dapat belajar bermacam-macam jenis bahan makanan dengan wujud aslinya.

Masalah datang ketika Akhtar sudah tidak betah duduk di booster seat nya. Saat itu dia baru bisa berjalan. Baru beberapa menit duduk, sudah minta keluar. Tapi dari situ saya belajar mengenal waktu lapar Akhtar. Ketika dia lapar, dia dapat duduk manis di booster seat dan makan dengan nikmat.

Beberapa hari lagi genap 2 tahun usia Akhtar. Artinya sudah satu tahun Akhtar BLW. Masih banyak PR Akhtar dan terutama Ibunya. Saat ini Akhtar masih pilih-pilih saat makan daging, mungkin serat membuatnya malas untuk mengunyah. Apa yang istimewa? Akhtar paham konsep makan dan minum harus duduk. Saat minta makan atau minum selalu diikuti kata “duduk ya..” 😻 Akhtar bisa memilah tulang ikan yang sudah masuk ke mulutnya untuk dikeluarkan. Akhtar juga suka sayur bayam, kangkung, toge, wortel, meski ada beberapa sayuran yang masih belum mau dicobanya. Tenang nak, ibu akan tetap iseng dan pikun.

Semoga share BLW akhtar bisa bermanfaat buat ibu-ibu lain. Saat Badai GTM datang, percayalah itu hanya sementara. Tetap semangat, Karena mood ibu besar sekali efeknya terhadap mood anak.  Masa-masa anak akan makan dengan lahap akan segera datang kembali.

Semangat BLW, selamat bermain😻😘

Ibu Akhtar 😄

Cerita BLW Earlyta: Early bisa makan sambil belajar karena bisa bebas explore makanan

Early

 

Assalamu’alaikum emak emak BLWers
Perkenalkan aku Ajeng Tanindya
Bunda dari Earlyta Khansa Qurrotulaini
(8m 7days)

Akhirnya dapat undian Share BLW, padahal kalo doorprize,  GA nomer ku jauh dari keberuntungan

Earlyta lahir secara normal dan tepat hari H sesuai HPL Dspog. Mendekati waktu Early makan aku mengumpulkan beraneka ragam sumber dari internet dan koleksi buku mengenai MPASI sayangnya yang kukoleksi adalah tata  cara tahapan tekstur memberi makan anak dari bubur cair,  bubur lumpy dan makanan keluarga. Saat itu kemampuan tidak mencapai pada buku Gill Rapley.😂 Kubuat jadwal sedemikian apiknya setiap hari menjelang Earlyta makan

Dan tepat Early makan 6m 0 days siap dengan buah pertamanya yaitu pisang yang sudah dikerok.  Berjalan dengan mulus tanpa paksaan,  tiba tiba hari ke 4 dengan buah pir saat itu Early melakukan GTM dan jago menangkis makanan yang aku berikan. Hal itu berlanjut ketika saya memberikan gasol pada minggu ketiga untuk gasol tepung beras putih dia suka namun untuk gasol tepung beras merah dia berlanjut GTM.

Saya sebagai ibu merasa galau bagaimana bisa anak bayi sudah GTM apakah menu saya tidak enak??  Ditambah Early mengalami batuk,  diare hingga ruam popok pun terjadi, saya semakin terpuruk sedih melihatnya.

Ditengah kepurukan itu saya iseng menanyakan kepada AIMI di FB tentang bayi gumoh dan yang menjawab adalah mak Yasmin.  Saya coba stalking IG mak Yasmin dengan maksud melihat apakah menu yang saya berikan salah.  Dan saya seneng melihat Yasmin makan dengan sehat, enak dan riang gembira.  Saat itulah saya merubah haluan saya untuk berBLW karena Early jika melihat makanan saya dengan potongan besar suka dan excited banget.

Dan pada usia 7m 7 days Early Baru mulai BLW dengan kentang kukus nya disambut dengan excited,  meskipun dia jadi jago main sulap karena kentang nya tiba tiba hilang dari piring dan berpindah kebawah lantai,  setidaknya dia sudah tidak GTM lg.

BLW ini pun tidak berjalan mulus terus jika dirumah eyang,  Early kadang ngambek untuk BLW jadinya eyang Early menggendong nya sambil diliatkan kucing dan ajaib nya Early kadang mau dengan cara itu. Saya bukan BLW garis keras, saya serahkan keinginan Early makan dengan cara apa.

#kesan
Tapi aku bersyukur bisa kenal dengan metode BLW dan akan tetap menjalankannya karena banyak sekali keuntungannya. Dengan BLW Early bisa makan sambil belajar  karena bisa bebas explore makanan.  Mencoba berbagai macam tekstur dan rasa,  melatih motorik tangannya untuk mengambil kemudian mencabiknya.  Banyak sekali yang bisa jadi pelajaran termasuk sesi lempar melempar makanan disitu Early bisa belajar gravitasi 😂😂yang semuanya itu tidak bisa didapatkan di metode konvensional.

Pada akhirnya aku berharap Early bisa tumbuh menjadi anak yang sehat,  smart dan semoga early bisa lebih mantap lagi BLW dan tambah pinter makannya.

Sekian emak emak dari aku, semoga bermanfaat. Mohon maaf singkat  Terimakasih BLW

Cerita BLW Zidny: Memberi kakak inspirasi untuk makan sendiri

zidny

Kenalan lagi ya … nama ku Nur Anisah, bunda Zidny Ilma Riandysa (12m3w), nama beken : makzid.
Terimakasih sudah diberi  kesempatan share pengalaman BLW Zidny, putri bontotku.

Awal tau metode BLW  grup FB FCI, ada mak-mak yang share anaknya sarapan buah dengan tangannya sendiri. Wah keren banget, aku juga mau punya anak kayak gitu.

Karena waktu itu Zidny sudah mendekati waktunya MPASI akhirnya emaknya browsing tentang metode BLW, dan menemukan beberapa website yang menceritakan pengalaman-pengalaman asyiknya BLW .

Trus..Trus bergabunglah di grup FB Baby Lead Weaning dan akhirnya sampe nyangkut di grup CBLW yang penuh berkah dan anugerah ini.
Tertarik metode BLW karena 2 hal :
1. Pengen Zidny doyan sayur dan bua

2. Zidny bisa dan mau makan sendiri
Kenapaaaaa ?
karena kedua kakak nya Zidny lebih doyan jajanan tidak sehat daripada makan buah, daaaaaan kakak no 2 sampe sekarang masih sering minta disuapin. Kalo tidak disuapin benar-benar tidak mau makan 😥.
Juga ga mau terulang pengalaman kakak no satu Zidny pernah GTM dari umur 1 sampe 2 tahun.

Zidny mulai BLW umur 6m, menu pertamanya adalah buah jeruk dan sawo. Terharu sekali lihat Zidny bisa meraih jeruk dan sawo kemudian memasukkan ke mulutnya.
Awal-awal BLW 6-7m Zidny hanya dikasih buah sama sayur kukus.

Apakah Zidny selalu makan dari tangannya sendiri ? Tidak …….  Aku WM yang berangkat jam 7 pagi pulang jam 3 sore.Kalo  ditinggal kerja, Zidny sama ART dan mbah yut nya di rumah.

Awal-awal ART ta suruh mendudukkan Zidny di easy seatnya kalo makan.
Tapi lama-lama orangnya protes karena makanan cuma diorat arit.
Akhirnya Zidny disuapin kalo makan siang, asalkan tidak dipaksa makannya.
Tapi…tapi….. Zidny tidak makan bebuburan. Kalo disuapin dikasih buah, alpukat atau nasi . Pernah ku kasih bubur sekali, karena lagi sakit Zidny ga mau makan. Di laporin mbah yut ke mbah uti. Mbah uti ngasih instruksi Zidny harus disuapin bubur. Dibelikan 3 sachet, Zidny mau 3 sendok aja. Ya sudah setelah itu buburnya dimakan kakak.

Kendalanya BLW…..
Yang paling berat adalah suami tidak sepakat. Karena suami melihat tidak efektif dan takut makanan bisa melukai lambung dan usus karena Zidny belum bisa mengunyah sempurna, apalagi awalnya Zidny sering bab cair dan lebih dari 3 kali.

Sempat curhat di grup ini dan dijawab Mbak Rahmah waktu itu. Akhirnya mantep lagi pake metode BLW sambil terus meyakinkan suami.

Kalo morat marit alias berantakan, ahh Zidny adalah putri ketigaku. Jadi sudah terbiasa melihat dan merapikan rumah berantakan karena tangan-tangan mungil . Dan hasilnya…..
Meski Zidny konsisten BLW nya saat sarapan aja, ato saat saya lagi off, atau sore kalo saya lagi ga capek bebersih… Saya sudah bersyukur sekali sekarang Zidny doyan sayur dan buah. Nasi dan lauk juga mau. Bahkan suami yang dulu tidak setuju Zidny BLW pernah bilang ke kakak kedua pas minta disuapin : “Lihat adik Zidny tuh makan sendiri, Mbak Diva sudah kelas 1 kok minta disuapin” Aaah bangganya ☺.
Dan alhamdulillah Zidny ga pernah GTM, kalo pas sakit saja makannya sedikit dan minta disuapin.

Zidny juga lebih antusias lihat makanan. Kalo lihat orang makan pasti minta. Tapi susahnya kalau kakak nya bawa jajanan tidak sehat, Zidny minta juga. Biasanya saya suruh kakak nya keluar rumah untuk menghabiskan jajanannya.

O ya sejak 8m Zidny sudah makan makanan keluarga yang pake gulgar. Rencananya sih non gulgar sampe 1 tahun. Tapi ikut kulwapnya dr. Ratih waktu itu digrup ini. Katanya boleh pake gulgar asal tidak terlalu manis ato terlalu asin.

Apa Zidny naik terus timbangannya tiap bulan ? Rata-rata naik terus, tapi pernah juga turun saat Zidny kena roseola, demam seminggu. Pernah juga tetep timbangannya, karna nglethes terus. Tapi selama anaknya aktif dan ceria, its okay 😀

Demikian sharing BLW Zidny, semoga bisa memberi inspirasi. Kecup sayang dari Zidny buat ibu-ibu dan bayi-bayi 😘😘😘. Tetap semangat…dan percaya sama baby-baby kita, karena mereka tau apa yang mereka butuhkan.

Cerita BLW Ubay “Semoga Ubay Bisa Makan Sendiri saat Adiknya Lahir”

Perkenalkan saya Hesti, Umminya dari Ubaidillah (Ubay) 8m5d. Ternyata saya ga nyadar udah kebagian undian share BLW dan jadilah menulis ceritanya buru-buru. Mudah-mudahan bagian yang esensinya ga ada yang kelewat. 🙂

Saya menamakan ini cerita Ubay menuju BLW. Karena jujur smpe hari ini Ubay masih dalam “usaha” menerapkan BLW, diantara berbagai “musibah” dalam hari-harinya. 😁

Mulai saja ya Ibu-Ibu, Ubay memulai MPASI-nya pada umur 6 bulan kurang 1 minggu. Saat itu beratnya 9kg. Sengaja saya percepat, untuk sekedar icip-icip rasa, karena Ubay tampak belum ada ketertarikan sama makanan, padahal umur 6 bulan mestinya udah mulai makan. Saat saya sodorin makanan Ubay jilat-jilat, tapi kemudian cuek. Upss saya langsung punya firasat kurang enak, sepertinya Ubay akan sulit makan, seperti Abinya yang sangat picky eater.

Awalnya Ubay blm BLW. Karena saya sudah beli peralatan MPASI ala SF sejak jauh hari. Namun setelah berjalan beberapa minggu dengan puree yang ga begitu diminati sama Ubay, saya dikenalkan dengan website cerita BLW oleh Winaungu. Langsung baca-baca pengalaman Ibu-Ibu disana, langsung berpikir enak juga ya seandainya Ubay makan sendiri dan saya pun makan juga. Ngga seperti selama ini duduk nyuapin sampai pegel karena ngikutin kemana Ubay noleh. Well, bismillah coba BLW deh, Tekadku.

Besoknya langsung semangat siapin buah potong-potong dan taro di tray, bagaimana reaksi Ubay? Girang bukan main sampe pukul-pukul tray, dalam beberapa detik semuanya udah di lantai. Ternyata girangnya karena dapat “mainan buah”. Aku kecewa, besok-besoknya diulang lagi, begitu terus. Tidak pernah dia icip makannya. Aku mulai merasa usaha tak sesuai dengan hasil. Usaha nyiapin makanannya, nungguin makannya, mandiin BS dan Ubaynya, dan ngepelnya, tapi makanan tetep ngga masuk. Ubay jg mulai tampak kurusan. Dan benar saja, beratnya turun 400gram, sighhh… Mulai galau, apakah jangan jangan ada anak yang tidak “cocok” dengan BLW dan Ubay salah satunya? Semntara anak tetangga yang seumur Ubay, yang 100% SF, malah sangat bisa makan sendiri sejak umur 6 bulan. Akhirnya mengingat BB nya yang turun, Ubay saya suapin makanan lumat, dan utk BLW nya tetep saya kasih kesempatan untuk makan sendiri, alhamdulillah ada progresnya, Ubay mulai pegang makananan (ga dihancurin seperti sebelum-sebelumnya), tapi tetep saja tidak dimakan. Tapi bila saya suapkan makanan utuh tersebut, dia gigit dan makan. Jadi untuk sampai hari ini, usia 8 bulan, Ubay masih disuapin makanan lumat dan makanan utuh dan saya tetap berikan sesi dia makan sendiri meskipun hasilnya masih belum ada yang dimasukin ke mulut.

Selama 2 bulan mpasi Ubay berjalan, banyak “kejadian” yang menyulitkan kami berdua dalam proses mpasi ini, saat Ubay 6 bulan beberapa hari, saya positif hamil lagi. Sempet saya stres dan nangis-nangis diawal, karena proses BLW Ubay belum berjalan baik, tapi saya sudah harus membagi perhatian untuk adiknya. Tapi siap tidak siap saya coba jalani dengan sebaik mungkin. Dengan kondisi selalu mual dan kadang muntah-muntah, selalu pusing dan lelah, tidak tertarik utk makan apalagi masak (bahkan suami sering masak sendiri), saya coba tetap membuatkan Ubay makan. Tetap menemaninya “mainin makanan” meskipun stok kesabaran saya jauuh menurun sejak hamil. Saya juga sering lupa mengambil foto Ubay sedang makan, karena tangan saya sering sudah kotor duluan mengambil makanan yang jatuh. Selama hamil produksi asi saya juga merosot, sehingga terpaksa Ubay kami beri susu formula untuk malam hari, lalu dengan saran dari ibu-ibu dsini saya kasih Ubay lemak-lemakan. Alhamdulillah beratnya naik banyak 700 gr mnjadi 9,3. Namun beberapa hari yang lalu Ubay mencret dan muntah 3 hari, beratnya hilang lagi 500 gr, setelah sembuh dia pun tumbuh gigi yang mmbuat Ubay sangat rewel dan kurang nafsu makan. Saya harus berjuang lagi untuk mmbuatnya mau makan dan mengejar BB yang hilang.

Mungkin segitu dulu cerita BLW Ubay, belum ada yang bisa dibanggakan, masih tahap belajar banyak, juga masih jatuh bangun. Harapan saya ga muluk-muluk, hanya ingin saat adiknya lahir nanti Ubay sudah bisa makan sendiri sehingga saya gak harus nyuapin dan bisa smbil mengerjakan yang lain. Alhamdulillah tantangan dari keluarga sejauh ini tidak ada, karena  bagaimanapun juga, anak bisa makan sendiri itu keren, orang dewasa mana yang tidak suka melihatnya

Tetap semangat ibu-ibu dan bayi-bayi. Semoga selalu sehat dan makan dengan bahagia. 😘😘

Cerita BLW Darryl; Darryl Sudah Bisa Memilih untuk Makan Sendiri

Haii.. akhirnya kebagian juga jatah sharing di grup ini..

Cerita ini bermula dari persiapan menuju MPASI, seperti ibu-ibu pada umumnya, waktu usia Darryl sekitar 5 bulan, mulai cari-cari informasi soal MPASI, apa aja menu makanannya, apa aja peralatan tempurnya. Karena waktu itu tinggal di kota kecil, ga ada informasi yang bisa diandalkan selain dari internet, jadi rajinlah Mami Darryl ini browsing sana sini, blog walking sana sini, dan join grup HHBF di FB. Hasilnya bikin banyak list peralatan MPASI (yang akhirnya saking banyaknya jadi bingung sendiri dan akhirnya ga jadi dibeli kecuali saringan) dan banyak download kalender menu awal mpasi. Dari blog walking sana sini itu juga ketemulah term BLW, baca 1 blog, penasaran, buka blog lain, penasaran lagi, mampir ke thread di TUM, dan akhirnya join di grup FB nya Mbak Lissa. Kesimpulanku waktu itu ttg BLW sih bukan masalah praktisnya, tapi seru. Seru karena liat foto-foto bayi belepotan, seru karena anak jadi bisa ngasah kemampuan sensorik dan motoriknya. Aku cobalah cerita dan propose ke suami untuk pake metode itu, sekalian liatin foto bayi-bayi yang lagi BLW. Responnya seperti yang aku duga, janganlah, resikonya besar, nanti takut keselek, dsb. And my fault at that time was : aku manut aja, ga berusaha cari info lebih banyak lagi tentang BLW untuk menjawab ketakutannya itu. Jadi waktu Darryl 180 hari passs, mulai lah MPASI pertama (waktu itu pas kita lagi mudik ke Bandung), menunya labu siam kukus yang disaring. Hasilnya lumayan banyak yang masuk, besoknya sampe 2 minggu begitu terus, kukus, saring, menunya aja yg berubah-ubah, labu siam, wortel, ubi, kabocha. Setelah 2 minggu mulai dikasih bubur saring dicampur sayuran. Sepanjang makan sesaringan itu, emang makannya banyak, lahap, jadi ga ada yg bikin galau dan ga ada dorongan ganti metode MPASI. Sampai akhirnya aku gabung grup BLW ini di bulan November (Darryl 7 bulan waktu itu), mulailah terbuka sedikit demi sedikit wawasanku tentang BLW, dan aku envy ngeliat pendahulu2 BLW (especially Mirai), makannya pinter banget, muncul lagi deh keinginan untuk BLW. Tapi karena waktu itu juga lagi repot-repotnya beberes karena habis pindahan, keinginan itu belum aku tindak lanjut. Akhirnya, pas Darryl umur 8 bulan, aku propose lagi ke suami, dengan informasi yg lebih detail daripada sebelumnya, sampe akhirnya dia bolehin untuk coba BLW. Mulailah semangat bikin finger food, and as expected, omanya Darryl histeris, takut keselek, mulai ngasih tau tentang BLW, omanya tetep ga berani, dan takut nanti yg kemakan cuma sedikit. Akhirnya win-win solution deh, waktu aku kerja, tetep makan bubur, tapi waktu malam aku dirumah biar Darryl makan sendiri. Oke deal. Tapi nyatanya, setiap aku pulang kerja, selalu Darryl dlm kondisi kenyang, krn makan malamnya dikasih di jam 5. Jadi pas aku kasih makanan dia ga minat. 😭😭 tapi sabtu minggu sesekali tetap dikasih makan sendiri, emang sih aku lihat sendiri kalau Darryl makannya lebih lahap kalau disuapin pake bubur, semangkok full juga habis tanpa paksaan, dibanding kalau makan sendiri yg hampir semua abis dibuang-buang, atau malah ditinggal. Jadi aku berpikir mungkin Darryl belum siap sepenuhnya untuk BLW. Kombinasi antara SF dan BLW berlanjut sampe Darryl 1 tahun. Setelah 1 tahun, karena sudah mulai makan nasi, no bebuburan lagi, omanya pun udah mulai berani ngasih Darryl makan sendiri. Jadi mulai lebih intens BLWnya, karena emang itu sudah jadi tugas perkembangannya untuk bisa makan sendiri, sesekali masih disuapin kalau omanya liat makannya cuma sedikit. Dan sekarang (diumur 22 months), Darryl sudah bisa milih lagi mau makan sendiri atau disuapin, kalau mau disuapin, dia akan kasih sendoknya ke kita, tapi kalau mau makan sendiri, diminta sendoknya pun ga akan mau ngasih. Makannya pun udah lebih rapi sekarang, meskipun masih ada nasi yg berceceran, udah bisa pake sendok dan garpu, udah bisa handle makanan keras.

Kesimpulanku :

1. BLW itu belum tentu cocok untuk semua bayi dan ortu (dan pengasuh), semuanya bergantung pada kesiapan masing-masing. Jangan memaksakan sesuatu hanya karena idealisme salah satu pihak aja, demi kewarasan bersama.
2. Ketika semua pihak siap (termasuk bayinya), maka semuanya akan berjalan lebih mudah dan lancar. Karena mulai benar-benar intens BLW setelah 1 tahun, kemampuan megangnya dan ngarahin ke mulutnya udh lebih mantap, jadi lebih dikit yg kebuang, walaupun masih ada.
3. Aku sangat memahami kalau fokus nenek dan kakek dlm membesarkan anak adalah pada kesejahteraan fisiknya (dilindungin biar ga jatuh, dikasih banyak makan biar ga laper), sedangkan fokus ortu lebih ke perkembangan skillnya. Dan itu wajar, makanya aku mencoba menghargai usaha oma opanya, apapun itu, karena aku tau itu demi kebaikan Darryl juga, walaupun kadang bertentangan dengan keinginanku.

Sekian dan terima kasih, maaf kepanjangan