Tips Memenuhi Kebutuhan Zat Besi Bayi

Pastikan bayi anda mendapat cukup asupan zat besi!
Untuk bayi ASI exclusive, zat besi hanya didapatkan dari air susu ibunya. Saat bayi mencapai usia 6 bulan, ASI tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan zat besinya. Kekurangan zat besi dapat berbahaya untuk tumbuh kembang bayi.
Lalu, bagaimana cara memenuhi kebutuhan zat besi bayi ASI saat usianya mencapai 6 bulan? Berikut beberapa tips:
1. Berikan MPASI yang akan kaya zat besi
Berikan bayi anda makanan pendamping ASI yang kaya akan zat besi, contohnya: hati ayam, hati sapi, daging sapi, dan lainnya. Pastikan setiap hari bayi anda mengkonsumsi makanan dengan kandungan zat besi yang tinggi.
2. Berikan MPASI kaya akan vitamin C
Vitamin C diketahui dapat meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh. Oleh karena itu, berikan juga makanan yang kaya akan vitamin C untuk bayi Anda, contohnya: jeruk, stroberi, paprika, dan sebagiannya.
3. Hindari pemberian susu pada jam makan
Kandungan kalsium yang tinggi pada susu dapat menghambat menyerapan zat besi dalam tubuh. Karena ternyata penyerapan zat besi dan kalsium itu saling berkompetisi. Jadi hindari makan sambil minum susu ya.
4. Hindari pemberian teh pada jam makan
Sama seperti susu, teh juga memiliki kandungan yang menghambat menyerapan zat besi. Kandungan zat ini dinamakan tannin. Tannin dapat mengikat zat besi dalam tubuh sehingga sulit untuk diserap oleh tubuh. Jadi hindari juga makan sambil minum teh ya.
5. Berikan vitamin penambah zat besi
Bayi ASI ekslusif biasa selalu diberikan tambahan vitamin penambah zat besi di usia 6 bulan oleh dokter anak karena air susu ibu memang tidak memiliki kandungan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Berbeda dengan bayi yang minum susu formula, dokter anak biasanya tidak memberikan tambahan asupan zat besi lagi karena pada susu formula sudah mengandung cukup banyak zat besi
Itu dia beberapa tips untuk memenuhi kebutuhan zat besi bayi anda. Pastikan bayi anda tidak kekurangan asupan zat besi ya, perhatikan menu makan hariannya. 💛
@ceritablw #ceritablw_hut4artikel
Ditulis oleh: Rachma Saisa

RESUME KULGRAM CERITA BLW “MENGATASI KENDALA BLW”

  • Narasumber: Rahmah Asyiah
  • Moderator: Kurnia Fatma
  • Co-Moderator: Eska Deanira
  • Selasa, 2 Oktober 2018
  • Pukul 20.00 – 22.00 WIB

SELAYANG PANDANG

Profil Cerita BLW

Metode Baby-Led Weaning (BLW) dewasa ini mulai populer di Indonesia, dan semakin banyak orang tua yang tertarik untuk menerapkannya. Sayangnya, sedikit sekali informasi yang dapat ditemui mengenai pengalaman ber-BLW di Indonesia ini. Oleh sebab itu, sekumpulan Ibu muda yang bersemangat untuk belajar tentang metode BLW kemudian berinisiatif membentuk sebuah grup melalui aplikasi percakapan.

Berawal dari hal tersebut terbentuklah komunitas Cerita BLW.

Kami yang tergabung dalam komunitas Cerita BLW aktif berdiskusi dan saling berbagi cerita seputar tips serta kendala yang kerap kali muncul saat anak memulai masa MPASI (Makanan Pendamping ASI), terutama yang menggunakan metode BLW.

Beberapa kali kami juga mengadakan diskusi online yang menghadirkan narasumber atau ahli di bidangnya, seperti dokter spesialis anak yang pro-BLW maupun psikolog. Kesempatan yang kami dapat saat diskusi online untuk bisa menimba ilmu dengan cuma-cuma ini tentu saja tidak kami sia-siakan. Diskusi seputar metode BLW serta hubungannya dengan tumbuh kembang anak menjadi hal yang sangat menarik untuk disimak.

Saat ini Cerita BLW aktif di grup WhatsApp, Instagram, website dan Youtube

Tentang BLW

Dikemukakan pertama kali di tahun 2008 oleh Dr. Gill Rapley, seorang bidan yang selanjutnya menjadi Deputi Pengarah Program baby friendly initiative di UNICEF UK, Baby-Led Weaning (BLW) menjadi metode pilihan beberapa Ibu untuk memperkenalkan makanan padat kepada bayinya.

BLW adalah metode yang digunakan orangtua untuk memperkenalkan makanan padat kepada bayinya. Bayi dibiarkan makan menggunakan naluri dan kemampuannya. BLW memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada bayi untuk makan sendiri. BLW memberikan kesempatan bayi untuk mengembangkan kemampuan makan secara alamiah dan menyenangkan. (Gill Rapley, Tracey Murkett, Baby-Led Weaning, 2013).

Lalu apa bisa bayi makan sendiri? BLW bukan hanya sekedar makan sendiri. Di awal BLW, bayi bereksplorasi dengan makanan menggunakan mata untuk melihat bentuk, tangan untuk meraba dan memegang, gigi untuk mengunyah, dan lidah untuk merasakan tekstur. Bayi masih beradaptasi dengan proses belajar makan, jadi tak mengapa jika bayi belum makan banyak. Penuhi nutrisi harian bayi dengan tetap memberikan ASI sesuai keinginan bayi.

MATERI KULGRAM

“MENGATASI KENDALA BLW”

2 Oktober 2018

Oleh: Rahmah Asyiah, Kurnia Fatma, Eska Deanira

KENDALA BLW

BERANTAKAN

  • Tawarkan makanan sedikit demi sedikit untuk mengurangi tumpahan makanan
  • Gunakan celemek saat makan dan pilih celemek dengan model saku dibagian depan yang berguna menampung makanan yang jatuh
  • Gunakan alas waterproof untuk menjaga lantai tetap bersih

MENOLAK DUDUK SAAT MAKAN

  • Bayi belum merasa lapar, tunda waktu makan dan tawarkan lagi 30 menit atau 1 jam kemudian
  • Bosan dengan suasana makan, cari suasana makan yang baru misalnya dengan mengganti posisi duduk yang awalnya di booster seat menjadi high chair, dipangku atau bisa juga duduk lesehan. Bisa juga mengganti tempat makan, misalnya yang awalnya di ruang makan menjadi dihalaman depan atau belakang rumah, bisa juga di ruang tamu
  • Tertarik dengan hal lain (distraksi) misalnya TV yang menyala, mainan yang berserakan, atau anggota keluarga yang melakukan aktivitas lain. Hindari bayi dari hal hal yang bisa menjadi distraksi, ajak ia makan bersama anggota keluarga lainnya, sehingga ia bisa fokus mencontoh cara makan yang baik

KEKHAWATIRAN PIHAK LAIN

  • Edukasi orang-orang disekitar yang mungkin akan melihat bayi melakukan BLW. Berikan penjelasaan mendasar dari buku BLW juga perlihatkan video dan foto bayi lain yang melakukan BLW
  • Yakinkan bahwa BLW aman dilakukan selama memperhatikan standar keamanan yang ada

ADB

(menjadi hal yang dikhawatirkan banyak orangtua baik yang melakukan BLW ataupun SF)

  • Berikan MPASI saat anak berusia 6 bulan, jangan menunda karena kebutuhan zat besi dari ASI sudah tidak mencukupi saat anak berusia diatas 6 bulan
  • Untuk bayi yang mengkonsumsi susu formula, pilihlah susu yang mengandung zat besi dan juga memberikan MPASI saat bayi berusia 6 bulan
  • Berikan MPASI dari sumber makanan yang kaya akan zat besi seperti daging merah, telur, hati, otak, sayuran hijau, labu kuning, kacang kacangan
  • Berikan buah buahan yang mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi
  • Berikan jeda selama 2 jam sebelum mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi apabila telah mengkonsumsi makanan yang mengandung tanin, polifenol dan kalsium. Karena ketiga zat tersebut bisa menghambat penyerapan zat besi
  • Apabila hendak memberikan suplemen zat besi hendaknya konsultasikan dulu dengan dokter dan melakukan screening.

KEKURANGAN NUTRISI

Berikan variasi makanan setiap harinya dan pastikan makanan yang berikan mengandung 4 bintang yaitu karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, buah dan tambahan lemak. Serta berikan porsi makan yang tepat dengan bantuan ukuran tangan bayi yang seiring waktu semakin besar. Karbohidrat dan buah sebesar kepalan tangan, protein seukuran telapak tangan, sayur dua kali ukuran telapak tangan dan lemak seukuran ibu jari tangan (Sarah HMPL M.D seorang dokter anak dalam website www.parenting.com Dreisbach 2016)

BLW DENGAN AMAN

  • Orangtua teredukasi dengan baik mengenai metode BLW
  • Baik BLW ataupun SF memiliki angka resiko tersedak yang sama (https://edition.cnn.com/2016/09/20/health/baby-led-weaning-choking-risk/index.html) maka setiap orangtua atau pendamping anak hendaknya teredukasi dengan baik mengenai penanganan tersedak. Berikut link mengenai pertolongan anak tersedak:
  • http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/yang-harus-dilakukan-jika-anak-tersedak
  • https://youtu.be/CfTokZ3yctg
  • Bayi berusia 6 bulan
  • Bayi menunjukkan tanda tanda siap makan makanan padat, yaitu:
  • Dapat menahan kepala dan lehernya. Bayi harus dapat mempertahankan posisi kepala tegak dengan stabil untuk mengonsumsi makanan pertamanya.
  • Dapat duduk dengan tegak atau duduk tegak saat disokong. Anda mungkin harus memangku bayi Anda dulu. Kursi tinggi dapat digunakan setelah dia dapat duduk sendiri.
  • Bisa membuat gerakan mengunyah.
  • Memilki berat badan yang cukup. Setidaknya mencapai 2 kali berat badan lahir atau mendekati
  • Penasaran dengan apa yang Anda makan. Saat Anda sedang makan, ia sering berusaha mengambil makanan tersebut dan mencoba memasukkan ke dalam mulutnya.
  • Memiliki koordinasi tangan dan mulut yang baik.
  • Reflek menjulurkan lidah (ekstrusi) telah sangat berkurang atau sudah menghilang.

Sesi tanya-jawab

  1. Vivi (usia anak 8 bulan 17 hari)

📬 Pertanyaan:

Saya mau nanya memang anak usia segini suka membuang makanan atau melempar?

Lalu setelah di buang di liatin terus makanannya?

Gimana ya tips ya supaya tetap di makan?

Terima kasih ☺

📝 Jawaban:

Hai Mba Vivi 👋

Pada usia 8 bulan, umumnya anak akan lebih banyak melatih koordinasi jari dan tangan. Dia akan banyak melempar benda secara berulang termasuk makanan, bersamaan dengan keahliannya dalam menggenggam dan memasukan makanan ke mulut yang meningkat. tawarkan makanan sedikit demi sedikit dan ajak makan bersama keluarga supaya ia bisa mencontoh cara makan yang baik. Tetap semangat dan percaya kalau anak bisa melakukannya, jika terus berlatih sebentar lagi ia bisa menjumput makanan 😊

  • Gina (usia anak 9 bulan)

📬 Pertanyaan:

Anak saya sejak batuk pilek susah sekali makan, padahal sebelumnya lahap sekali.

Sekarang setiap disodorin makanan, dia bahkan tidak menarik untuk melihatnya dan ga sama sekali dipegang makanannya.

Ada solusi kah?

Dia tumbuh gigi juga sih.

📝 Jawaban:

Hai Mba Gina 👋

Saat sakit dan tumbuh gigi anak memang berkurang nafsu makannya. Bahkan orang dewasa pun kadang malas makan jika sedang sakit. Saat batuk pilek, mulut dan lidah terasa lebih pahit dan penciuman berkurang, menurut dr frecil sebaiknya ditawarkan hidangan yang berbau harum dan memiliki rasa yang lebih kuat dari biasanya. Jika sedang tumbuh gigi, menurut dokter gigi kesayangan CBLW @eskadeanira bisa berikan makanan yang dingin, seperti arem-arem (atau makanan lainnya) yang dimasukkan ke dalam kulkas terlebih dahulu. Suhu dingin dari makanan dapat mengurangi rasa nyeri.

Tanggapan:

Nanggapin sedikit ya mba Amah, anakku lebih tertarik makanan kakaknya. Jadi kadang saya kasih punya kakaknya aja, mungkin karena punya kakak sudah ada rasanya. Toh saya juga ga pake MSG untuk kakaknya. Gimana menurut mba Amah? Makasih 😊

📝 Jawaban:

Sebagaimana yang disampaikan di materi, kalau menurut WHO boleh saja menambahkan gula dan garam asalkan tidak berlebihan. Kebijakan ini kami kembalikan ke orangtua dengan masing masing pertimbangannya. Tapi kalau kami di rumah, apa yang orangtua makan itu juga yang dimakan anak-anak.

  • Kurnia Dwita Sedyati (umur anak 8 bulan)

📬 Pertanyaan:

Hai mbak. Saya ingin bertanya.

Sekarang anak saya sudah umur setahun.

Dari 6-8 bulan dia BLW.

Nah ketika menginjak umur 8 bulan, anakku sama sekali ga mau makan.

Yang benar-benar GTM.

Nah sekarang sudah hampir setahun usianya, dia udah mulai mau makan lagi.

Tapi ketika aku mau BLW in lagi.

Dia seperti tidak tertarik.

Makanannya di diemin saja.

Sebaiknya gimana ya?

📝 Jawaban:

Hai mba kurnia 👋

Sebaiknya dicari tau dulu penyebab ngga mau makannya kenapa supaya lebih mudah cari solusinya. Biasanya anak menolak makan apalagi dalam jangka waktu yg lama, selalu ada sebabnya.

  • Rani (umur 6 bulan 3 minggu)

📬 Pertanyaan:

  1. Anak saya tidak suka makan nasi apakah karna nasi tidak ada rasanya. Tapi kentang mau
  2. Bagaimana waktu makan anak seumur ini berapa kali dalam sehari?
  3. Lebih baik memberikan minyak ikan dan zat besi kapan ya waktunya?

📝 Jawaban:

Hai Mba Rani 👋

  1. Karena mpasinya baru sebentar, belum bisa dikatakan tidak doyan nasi. Mungkin belum. Nasi ada rasanya kok 🙈. Boleh menawarkan sumber karbo yang lain dan boleh juga menawarkan nasi dengan cara memasak yang berbeda untuk membuatnya tertarik makan nasi.
  2. Frekuensi makan 3x. Waktunya tiap anak mungkin beda karena jam tidur dan jam menyusuinya juga beda. Yang pasti tawarkan makan saat happy hour dan sebisa mungkin makan bersama dengan keluarga.
  3. Pemberian suplemen zat besi dan minyak ikan hendaknya konsultasikan dengan dokter. Karena jika berlebihan juga tdk baik.

Kalau saya, memberikan suplemen zat besi pada anak karena saya ada riwayat anemia saat hamil. Tapi tidak memberikan minyak ikan karena kami cukup sering mengkonsumsi ikan.

Tanggapan:

Menanggapi pertanyaan no 1 tentang nasi

Boleh tau bagusnya diolah bagaimana ya nasinya selain di kepal gitu

📝 Jawaban:

Jika anak bosan dengan nasi biasanya, bisa diolah dengan variasi lain misalnya nasi liwet, nasi uduk, nasi kuning atau risotto.

Tambahan dari makWang:

Nambahin sedikit.

Mungkin saat awal BLW bisa dibikin lontong, ketupat, arem2 (ini kalo orang magelang bilang arem2) ya.. Kalo ga sempat, bisa diganti karbo lain ga harus nasi.

  • Dety Sukma (usia anak 9 bulan)

📬 Pertanyaan:

Anak saya awal mpasi sudah BLW, tapi udah 1 bulan SF (tetap diberi fingerfood ) dengan pertimbangan BB anak dibawah rata-rata.

Kedua, anak sedang tumbuh gigi. Mungkinkah nanti saya kembali metode BLW masih bisa?

Selama ini di suapi kadang mau, kadang ga mau kadang juga anaknya yang suapi saya balik 😁 .

Tapi selama SF kalo anaknya sudah kenyang/ga mau makan lagi, saya ga paksa dengan tujuan tidak ada pemaksaan dalam makan.

Mohon saran jika untuk memulai BLW lagi, harus ngulang dari awal kah, makanan nya diacak-acak lagi atau anaknya hanya melanjutkan apa seperti biasa lahap sebelum tumbuh gigi.

Terimakasih 😊🤗

📝 Jawaban:

Hai Mba Dety 👋

Kalau penyebab susah makan karena tumbuh gigi, nanti setelahnya nafsu makan akan kembali normal (gitu kan budok @eskadeanira? 🙈) Tapi kalau sudah terbiasa disuapi, akan butuh waktu lagi untuk beradaptasi dengan BLW. Transisi pelan2 aja kalau mau mulai BLW lagi. Untuk booster BBnya bisa berikan menu double protein dan tambahan lemak 😊

 

  • Susan (usia anak 6 bulan 2 minggu)

📬 Pertanyaan:

Ketika BLW sering menangis karena kesal tidak bisa pegang atau masukin makanan ke mulut, dan selalu kelolodan solusinya bagaimana?

(Fyi) anak belum bisa duduk.

📝 Jawaban:

Hai Mba Susan 👋

Semakin banyak berlatih, hasilnya akan semakin baik, coba perhatikan apa yang membuat dia sulit memegang makanannya, apakah licin, ukurannya terlalu kecil atau sebab lainnya? Kalau sudah ketemu penyebabnya, akan lebih mudah disiasati dan dia pun pelan-pelan akan bisa mengatasinya. Selama gagging sesekali tidak apa-apa, diteruskan saja itu bagian dari proses belajar. Jika gagging terus menerus selama makan, mohon periksa ke dokter untuk melihat apakah ada penyebab yang lain.

Dan kalau boleh tau, apakah anak sudah menunjukkan semua tanda tanda siap MPASI?

Selama belum bisa duduk sendiri, makan sambil dipangku dan pastikan duduk dengan tegak artinya anak memiliki kontrol kepala, leher dan punggung yang baik (kokoh)

  • Pinastika Sekar Sari (umur anak 7 bulan)

📬 Pertanyaan:

  1. Anak 7 bulan, masih khawatir dengan makanan yang masuk perut. Karena masih dimainin. Bagaimana ya?
  2. Selain susu segar dan madu, apakah yang harus dihindari?
  3. Kadang anak lebih lahap dan prefer disuapin. Bagaimana?
  4. Mie/bihun/pasta harus pake yang untuk kids kah?
  5. Dairy product selain susu bisa dianggap prohe ga? (Tidak ditambah prohe lagi)
  6. Kaldu (cair/bubuk) saja cukup ga menggantikan prohe?

📝 Jawaban:

Hai Mba Pinastika 👋

  1. masih khawatir gimana? Apa khawatir makanannya ngga cukup atau khawatir makanannya kotor?
  2. selama awal Mpasi hindari makanan yang bisa menjadi pemicu alergi jika ada riwayat alergi, makanan yang bisa memicu tersedak seperti makanan yang kecil kecil contohnya kacang kacangan, makanan yang terlalu keras seperti apel dan pir yang tdk dikukus, makanan yang licin dan kenyal, serta makanan yang berbentuk bulat/lonjong.
  3. Apakah kalau makan bersama dengan anggota keluarga yang lain? Metode MPASI itu pilihan, bukan hanya pilihan orangtua tapi juga pilihan anak. Silahkan pilih mana yang paling sesuai.
  4. kalau saya tidak menggunakan pasta khusus baby karena tidak ada riwayat alergi glutein, telur atau soy. Tapi kalau mau pakai yang khusus baby boleh-boleh saja.
  5. Dairy product seperti keju dan yogurt mempunyai kandungan protein. Masa mpasi adalah masa untuk mengenalkan berbagai macam jenis makanan, jadi kalo tidak ada alergi, sebaiknya dikenalkan semua jenis makanan termasuk prohe.
  6. tergantung seberapa banyak kaldu yang dikonsumsi namun saran kami sebaiknya tidak hanya memberi kaldu untuk asupan prohe karena anak tidak akan belajar mengatasi tekstur asli dari prohe tersebut. 😁

Tanggapan:

Halo mbak. Saya menanggapi yaa

  • Khawatirnya yang masuk tuh sedikit. Apakah cukup nutrisinya untuk tubuhnya?

Dan di pupnya suka masih ada makanan (jagung/tomat/ayam,dll) masih terlihat bentuknya, apa ada yang terserap tubuh?

  • Makan sering sama anggota keluarga, tapi anaknya gampang terdistraksi jadi malah bengong liatin orang

📝 Jawaban:

  • Perhatikan apakah yang masuk (diluar makanan yang jatuh dll) sudah sesuai dengan porsi yang seharusnya? (porsi makan anak sudah dicantumkan di materi ya 😁) dan apakah BB nya naik? Jika BB naik maka asupan yang masuk bisa dianggap cukup. Lagi pula sampai usia 1 tahun, ASI masih yang utama, rasio ASI:MPASI untuk usia 7 bulan sekitar 70:30.

Kebanyakan praktisi BLW justru menanti adanya sisa makanan di feses saat anak awal-awal MPASI, karena hal itu menunjukkan bahwa ada makanan yang berhasil anak makan. Apakah terserap oleh tubuh? Jika diperhatikan sisa makanan yang muncul di feses berasal dari sayur atau buah saja, tidak ada yang berasal dari nasi atau daging, kenapa? Karena menurut dr. Frecil, baik protein, lemak dan karbohidrat sudah bisa dicerna oleh anak berusia 6 bulan, hanya serat yang belum bisa dicerna dengan sempurna bahkan di feses orang dewasa pun masih sering terlihat sisa serat. 😁

  • Tujuan utama makan bersama anggota keluarga lain memang supaya anak melihat bagaimana cara makan yang baik. Mungkin bukan terdistraksi tapi sedang memperhatikan dan perlu diingat bahwa kecepatan makan anak dan orang dewasa sangat berbeda. Tetap berikan motivasi pada anak, semangat 💪

Ini ada tambahan tentang pencernaan bayi BLW yang ditulis makWang @kurniafatma 😁

  • Bagaimana Pencernaan Bayi BLW?

Banyak orangtua yang akan menerapkan metode BLW mempertanyakan masalah pencernaan bayi ketika awal MPASI karena makan makanan utuh.

Mari kita coba belajar kembali mengenai proses pencernaan manusia, termasuk bayi. Terdapat empat proses utama pencernaan, yaitu:

  • Pencernaan pada mulut

Mulut merupakan bagian dari saluran pencernaan. Makanan pertama kali diproses di dalam mulut. Mengunyah membuat makanan menjadi bagian yang lebih kecil. Kelenjar air liur di dalam mulut akan memproduksi air liur guna membantu memperhalus makanan. Selain itu, air liur juga mengandung enzim ptialin yang berfungsi memecah karbohidrat (amilum) menjadi lebih kecil (maltosa/glukosa) agar dapat diserap oleh usus. Dari mulut, makanan yang telah dikunyah bergerak menuju lambung.

  • Pencernaan pada lambung

Lambung adalah kantong yang memiliki dinding otot yang kuat, berada di kiri rongga perut. Selain menampung makanan, lambung juga berfungsi sebagai penghancur dan penghalus makanan. Di lambung terdapat asam dan enzim yang akan membuat makanan menjadi cair atau mirip seperti bubur. Kemudian makanan tersebut bergerak ke usus halus.

  • Pencernaan dan penyerapan pada usus halus

Di dalam usus halus, makanan akan kembali diproses dengan enzim pencernaan yang diproduksi pankreas, dinding usus halus, dan cairan empedu. Ketiganya akan bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan pencernaan makanan agar dapat diserap ke dalam pembuluh darah usus.

Selama proses penyerapan, makanan akan memasuki aliran darah melalui dinding usus. Pembuluh darah akan menyerap hasil pencernaan yang berupa protein dan karbohidrat kemudian dibawa menuju hati. Hati akan menyaring zat-zat berbahaya dalam darah, menyimpang vitamin serta nutrisi yang berlebihan untuk disimpan sebagai cadangan dalam tubuh. Sedangkan pembuluh getah bening akan menyerap lemak.

  • Penyerapan pada usus besar

Pada usus besar akan terjadi proses penyerapan terhadap air dan juga garam-garam mineral dari sisa makanan supaya feses bisa berbentuk padat. Gerak peristaltik akan mendorong feses untuk dibuang melalui anus.

Bayi yang disuguhi makanan padat (utuh) pun akan memulai proses pencernaan makanan dengan memasukan makanan ke mulut, mengigit, mengunyah. Kemudian berlanjut ke tahap-tahap proses pencernaan selanjutnya hingga berakhir dengan pembuangan feses. Jadi makanan utuh tersebut tak langsung masuk ke perut tanpa proses apapun. Pada bayi BLW proses mengunyah juga memberi lambung waktu untuk mengirim sinyal ke otak bahwa kapasitasnya sudah cukup, sehingga mencegah bayi BLW makan berlebihan.

Menurut Prof.dr.Hiromi Shinya, Guru Besar Kedokteran Albert Einstein College of Medicine, AS, di dalam bukunya, “The Miracle of Enzyme”:

“Makanan-yang-tidak-diproses lebih baik karena Anda harus mengunyahnya dengan baik. Mengunyah menstimulasi sekresi air liur. Enzim-enzim pencernaan yang terdapat dalam air liur, jika tercampur dengan makanan selama dikunyah, meningkatkan pencernaan dan penyerapan karena penguraian makanan berlangsung dengan lancar. Sedangkan bubur pada dasarnya sudah lembut, dapat ditelan tanpa dikunyah dengan baik. Bubur tidak dapat dicerna dengan baik karena tidak banyak enzim yang tercampur di dalamnya, sementara makanan normal yang terkunyah dengan baik juga dapat dicerna dengan baik.”

Selama usia MPASI bayi terpenuhi (180 hari atau 6 bulan) dan memenuhi syarat kandidat BLW (sehat, tidak cacat, bukan bayi BBLR (berat badan lahir rendah), dan bukan bayi prematur) orangtua tak perlu khawatir mengenai masalah pencernaan.

Jika memang diharuskan MPASI dini, konsultasikan dengan dokter terkait.

Semoga artikel ini bermanfaat.

 

Salam,

Kurnia Fatma

 

Sumber:

www.babyledweaning-indonesia.com

www.alodokter.com

 

  • Puput (usia anak 9 bulan)

📬 Pertanyaan:

Sudah 2 minggu anak saya GTM.

Tidak mau makan terutama karbo dan sayur.

Hanya mau protein nabati dan hewani saja.

Itupun durasimakannya lamaaaa sekali dari biasanya.

Apa yang harus saya lakukan dengan menu dan metodenya?

📝 Jawaban:

Hai mba puput 👋

Banyak anak mengalami masa dimana hanya mau makan makanan tertentu, menurut Gill anak yang melakukan BLW tau apa yang paling dibutuhkan tubuhnya saat itu. Namun bisa tetap ditawarkan makanan yang sekali makan sudah mencakup nutrisi 4 bintang, misalnya dibuat sejenis perkedel atau nugget. Tetap berikan kepercayaan pada anak meski makannya lama, dan tetap ajak makan bersama anggota keluarga lainnya. Semoga semakin baik mpasinya ya 😁

  • Runi (usia anak 1 tahun 7 bulan)

📬 Pertanyaan:

Saya ingin mencoba full BLW untuk Jenna.

Tapi kondisinya saat ini kalo dikasih makanan yang disiapin di piring atau wadah makan di depannya, makanannya dimainin diacak-acak aja.

Yang masuk untung-untung ada sedikit atau malah ga ada sama sekali.

Sediiiih, dan problem lainnya, BB Jenna termasuk kurang untuk seumurnya, kondisi ini yang buat saya SF karena yakin kuantitas makanan yang termakan.

Baiknya gimana yah mbak Rahmah mulainya?

📝 Jawaban:

Hai Mba Runi 👋

Sebetulnya WHO sudah menyarakan pemberian fingerfood sejak anak berusia 8 bulan dan di usia 1 tahun sudah mulai diajarkan untuk makan sendiri. Untuk memulainya bisa transisi sedikit-sedikit, misalnya 3x SF, 2x cemilan fingerfood, lalu minggu berikutnya ditambah frekuensi BLW dan berkurang frekuensi disuapinya begitu seterusnya sampai anak benar-benar terbiasa. Selain memberikan makanan bernutrisi 4 bintang, berikan juga menu double protein dan tambahan lemak untuk booster BB. Semangat terus ya 💪

Tanggapan:

Iyaaa, sepertinya saya telat ngasih stimulasi untuk makan sendirinya. Sekarang Jenna itu kalo dikasih makanan yang bertekstur keras, dikasih langsung dari tangan kita, dia mau makan sendiri. Tapi kalo diwadahin atau teksturnya lunak, dimainin makanannya.

Oh iya mbak, double protein itu protein hewani dan nabati? ✅

📝 Jawaban:

Double protein=porsi protein ditambah 2x lipat baik protein nabati dan protein hewani. (khusus untuk mengejar ketertinggalan BB)

  • Sri Rahayu (usia anak 10 bulan)

📬 Pertanyaan:

Bolehkah kita menyuapi makanan seperti bubur pada anak BLW?

Karena terkadang makanan lebih banyak dilempar dari pada di makan, jadi terkadang kalo sarapan karena belum kukus makanannya, saya suka suapi bubur bayi.

📝 Jawaban:

Hai Mba Sri 👋

Sebetulnya anak BLW boleh makan segala jenis tekstur, bentuk dan rasa makanan. Boleh-boleh aja kalau mau memberi bubur untuk variasi makanan dan juga mengenalkan jenis-jenis tekstur makanan. Ada saat-saat tertentu dimana bahkan anak BLW pun perlu disuapi, tapi bukan menjadi suatu rutinitas. Dan untuk sebagian anak yang melakukan BLW dan juga disuapi tidak mengalami kendala, namun sebagian anak lain mengalami kebingungan. Silahkan dipertimbangkan matang matang, bagaimana metode yang paling sesuai untuk Ibu dan anak 😊

 

  • Lia (usia anak 9 bulan)

📬 Pertanyaan:

Sebelumnya saya sudah selesai membaca buku BLW (Gill Rapley), dan sudah menjalankan BLW dari anak umur 6 bulan. So far memang sangat struggle tapi hepi. Setiap hari Masakan yang sudah saya siapkan pasti ada yang masuk.

Tapi seminggu ini anak saya cuma lempar makanan aja, dimakan cuma sedikit sekali, makanan diambil tapi sampe depan mulut saja tidak dimakan.

Sudah coba pake Young living oil buat menambah nafsu makan, variasi menu setiap hari, dipangku, digendong, tapi tetap sama. Sampe berat badannya turun drastis.

Mau tanya solusinya min, apa yang harus saya lakukan ya?

Apakah cara pemberian menu saya salah?

Apakah anak saya bosan dengan pemandangan meja makan yang itu-itu saja?

Menyikapinya bagaimana ya?

Pola tidur & makan anak saya,

Bangun sekitar  jam 9.00 – 09.30

Sarapan sekitar jam 10.00 – 10.30

Tidur siang jam 12.30 – 13.00

Makan siang sekitar jam 13.30 – 14.00

Tidur siang kedua sekitar 15.00 – 15.30

Snack (kalau anak mau) 16.30 – 17.00

Makan malam sekitar jam 18.45 – 19.30

Pertanyaan saya, apakah pola makan atau pola tidurnya ada yang harus saya perbaiki?

Apakah pola tidur anak yang terlalu malam atau bangun terlalu siang berpengaruh ke nafsu makannya?

📝 Jawaban:

Terkadang memang ada masa anak bosan akan menu atau suasana makan. Kita yang dewasapun kadang demikian. Coba divariasikan menu makannya. Coba juga ganti suasana makan, misal: yang tadinya makan sendiri jadi makan bareng keluarga, atau sebaliknya sambil kursi makannya dipindah ke ruangan lain yang memungkinkan anak untuk makan dengan suasana baru. Bisa juga sesekali dibawa piknik ke luar rumah.

Pola makan dan pola tidur bergantung dengan pola lingkungan dimana anak tinggal yaitu pola yang dibentuk oleh keluarga. Jadi sesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing. Yang penting anak dan keluarga sama-sama nyaman dengan pola tersebut.

  • Annisa Nanda N (usia anak 6 bulan 8 hari)

📬 Pertanyaan:

Selain dari patokan waktu setelah menyusu, adakah tanda-tanda khusus waktu anak sudah mau makan? Saya pikir kendala saya selama 8 hari ini soal timing makan soalnya.

📝 Jawaban:

Untuk anak yang baru memulai MPASI patokan waktu dan jeda menyusui masih yang paling bisa diaplikasikan karena pada saat ini anak belum terbiasa dengan proses makan, belum mengerti juga kenapa harus makan sebab selama ini yang mereka tau, kalau lapar maka harus menyusu. Namun, untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan, tawarkan saat anak tidak dalam kondisi lapar dan tidak sedang mengantuk.

  • Tika (usia anak 14 bulan)

📬 Pertanyaan:

Mom, aku udh nerapin BLW ke anak sejak awal mpasi, tapi mundur jadi spoon feeding gara-gara anaknya ga betah duduk, sampe sekarang belum mulai lagi BLWnya, gimana ya caranya biar anak betah duduk tanpa gadget/TV?

📝 Jawaban:

Setau saya baik BLW atau SF, kalau makan tetap harus duduk karena berbahaya jika makan tidak sambil duduk. Anak usia 14 bulan umumnya sudah mengerti instruksi-instruksi sederhana. Boleh sambil dijelaskan juga kenapa sih kalau makan harus duduk, ajak makan bersama anggota keluarga lainnya sambil duduk berhadapan.

  • Lis Lestari (usia anak 7 bulan)

📬 Pertanyaan:

Bun, anak saya 7 bulan sudah BLW sejak awal MPASI (6 bln). Alhamdulillah sejauh ini kegiatan makan selalu menyenangkan dan ia mau makan apapun yang saya berikan. Tapi, anak saya ini alergi terhadap beberapa protein hewani seperti ayam, hati, telur, susu sapi dan turunan nya.. Jadi selama ini saya baru memberikan buah-buahan, sayur-sayuran, berbagai karbo dan protein nabati dan lemak tambahannya EVOO saja.. Pertambahan BB anak saya dari 6 bulan ke 7 bulan ini naik sih tapi ga terlalu besar.. Saya agak khawatir tentang asupan gizinya.. Bagaimana menyiasati menu BLW dengan kondisi seperti ini agar asupan gizinya tetap seimbang, dan BB anak bisa naik?

Terima kasih atas kesempatan bertanya nya..

📝 Jawaban:

Apakah ada sumber protein hewani lain yang bisa dikonsumsi? Misalnya ikan, daging sapi, daging kambing? Jika ada, maka ada banyak variasi menu dengan nutrisi 4 bintang, untuk booster BB sudah tepat dengan pemberian lemak tambahan berupa EVOO, bisa ditambah juga dengan menu double protein ya.

  • Margaret (usia anak 7 bulan)

📬 Pertanyaan:

Bagaimana cara mengatasi anak yang pengennya makan makanan yang kita makan? Memang ini kan salah satu ide BLW untuk makan bersama, tapi makan makanan yang  sama aku kesulitan karena makanan kita bergula garem semua. Dan bagaimana mengejar supaya anak BLW tetep dapet asupan iron & zinc yang memadai? Terima kasih

📝 Jawaban:

Kalau anak saya kebetulan tidak ada riwayat alergi, jadi sejak awal MPASI sudah makan makanan keluarga. Hanya ada sedikit penyesuaian untuk menu-menu tertentu, misalnya untuk gulai kuning, biasanya saya tambah cabai, tapi sebelumnya saya sisihkan dulu untuk anak yang tanpa cabai. Untuk gula garam saya sudah berikan juga sejak awal MPASI, kebetulan kami tidak terlalu suka makanan yang terlalu asin dan gurih jadi bisa dikonsumsi juga oleh anak. Mengenai gula garam, menurut WHO boleh diberikan dengan catatan not too salty (tidak terlalu asin) bukan no salt (tanpa garam). Tapi untuk kehati-hatian boleh saja menunda sampai usia 1 tahun. Hal ini dikembalikan ke kebijakan masing-masing orangtua. Dan kalau pun mau skip gula garam tetap bisa pakai menu keluarga, saat masak sebelum ditambah gula garam disisihkan dulu aja untuk anak. Baru kemudian tambah gula garam untuk orangtuanya.

  • Ika Guibara (usia anak 11 bulan)

📬 Pertanyaan: 

Saya ibu bekera yang harus meninggalkan untuk diasuh oleh baby sitter. Dari awal mpasi menggunakan metode spoon feeding dan sesekali BLW saat saya libur. Namun, setiap saya yang memberi makan, baik itu dengan spoon feeding ataupun BLW, anakku tidak mau makan, hanya mau menyusu langsung (direct breastfeeding). Kalaupun mau makan itu hanya potongan buah dan disuapi, jika dibiarkan makan sendiri hanya dipegang-pegang diremas dan dibuang kemudian balik minta DBF.

  1. Bagaimana cara agar anak mau makan dengan saya?
  2. Bagaimana cara agar saya bisa menerapkan BLW dengan efektif meskipun saya bekerja diluar rumah?
  3. Berapa lama metode tersebut berhasil?

Anak saya juga tidak suka dan menangis jika didudukkan di high cair saat makan direstoran. Bagaimana cara efektif agar kami bisa makan bersama dengan nyaman dan menyenangkan?

📝 Jawaban:

Coba perhatikan lagi penyebab tidak mau makannya apa? Apakah pernah dipaksa? Bosan dengan menunya atau ada hal lain?

  1. Sering diajak makan bersama, duduk bersama dengan berhadapan.
  2. Edukasi pendamping anak saat melakukan BLW
  3. Tergantung seberapa banyak anak dan ibu/pendamping berlatih, juga tergantung hal apa yang dijadikan faktor “keberhasilan” disini.

 

  • Widiana Kirana (usia anak 3,5 tahun)

📬 Pertanyaan:

Anak saya makan masih disuapin, kadang makan nasi/bubur suka tersedak sampe muntah semuanya (muntah-muntah sejak dari minum asi). Bagaimana saya mau memulai BLW ya?

📝 Jawaban:

Sebaiknya diperiksakan ke dokter ya, dikhawatirkan ada masalah dengan anatominya apalagi saat menyusu pun mengalami kendala. Umumnya anak usia 3,5 tahun sudah tidak mengalami masalah dalam mengunyah dan menelan makanan.

  • Azizah (usia anak 7.5 bulan

📬 Pertanyaan:

Saya mau tanya kenapa ya anak saya BLWnya berasa kurang greget?

Akhir-akhir ini kalo disodorin makan dia cuma main-main aja, gak mau dimasukkan kemulutnya itu makanannya, mungkin ada sebulanan belakang ini sudah kaya gitu, jadi saya mau masak yang bervariatif kok jadi kecil hati, takut anak gak doyan cuma buat mainan dia.

Gimana ya cara menanganinya?

Kalo dia berusaha masukin ke mulutnya sih oke-oke saja, tapi ini paling cuma sekali saja dimasukin ke mulut sisanya buat mainan. Begituu, terimakasih mom.

📝 Jawaban:

Bahkan sampai usia 9 bulan anak masih suka memainkan makananannya. Karena selain makan, mereka juga bereksplorasi, mereka punya rasa penasaran yang tinggi. Justru ini yang membedakan BLW dengan metode konvensional, dengan BLW anak belajar banyak hal. Seiring waktu mereka akan bisa membedakan mana mainan dan mana makanan, mereka akan belajar cara makan yang baik dengan melihat anggota keluarganya makan. They did what they see, jadi yang terbaik adalah makan bersama anggota keluarga lainnya sambil duduk berhadapan. Udah capek-capek masak yang enak lalu ditolak atau cuma dimainin, itu mah biasa untuk Ibu-Ibu BLW. Bahkan mbak Kurnia pernah menawarkan lebih dari 8 variasi makananan dalam sehari (bener ngga sih makWang?). Dan kalau kata mbak Dania (alumni Cerita BLW) jadi Ibu itu harus pikun. Pikun aja kalau anak pernah nolak makanan tertentu, tawarin lagi dan jangan baper.

  • Restu Ayu Asmarani (usia anak 6 bulan)

📬 Pertanyaan:

Bagaimana siklus BAB BLW dokter?

Karena ini hari ke 5 babyku belum BAB mulai dari MPASI BLW, bagaimana cara mengatasinya dokter?

📝 Jawaban:

Setelah MPASI idealnya anak tetap BAB setiap hari, tapi masih dikatakan wajar apabila diawal MPASI tidak BAB sampai maksimal 5 hari. Namun jika sudah lebih dari 5 hari berarti anak sembelit, penyebabnya bisa macam-macam misalnya alergi, kelebihan serat atau yang lainnya.

Untuk langkah pencegahan sembelit pada bayi yang sudah MPASI, bisa berikan tambahan lemak dan minum air putih.

 

  • Yurika (usia anak 6 bulan 14 hari)

📬 Pertanyaan:

Bagaimana menghilangkan kecemasan ibu saat anak BLW di umur 6 bulan (makanan kadang masuk mulut, dilempar, di buat mainan). Saya memberikan 3x makan, 1 camilan. Saya percaya asi masih 75% sisanya dari makanan. Tapi setiap saya baca IG dari dokter anak hits masa kini selalu underestimate dengan BLW (kekurangan zat besi dan tidak mungkin bayi bisa makan sendiri di umur 6 bulan yang dipaksa)

Terima kasih 😊😊

📝 Jawaban:

Mantapkan hati dulu dalam memilih metode yang sesuai dengan Ibu dan anak. Jika tidak nyaman dengan BLW tidak usah dipaksakan, jika cocok dengan BLW, edukasi diri sebaik mungkin. Mengenai ADB sudah dijelaskan di materi ya.

 

MakWang:

Baik.. Sebelum saya tutup kulgram malam ini. Saya nambahin sedikit ya..

Beberapa pertanyaan yang masuk adalah mengenai bagaimana memulai BLW.

Bagaimana memulai BLW, apa saja menu awal BLW, makanan apa yang harus dihindari, pertanyaan-pertanyaan sejenis jawabannya ada di Buku Baby-Led Weaning karya Gill Rapley. Dan semua pertanyaan yang masuk ke saya, sebagian besar terjawab di buku ini. Kalo belum ada bukunya, di Instagram @ceritablw juga komplit dibahas tuntas mengenai BLW dari a-z.

Jadi, ketika sudah memilih untuk menerapkan metode BLW, edukasi diri sebaik mungkin. Bisa dengan baca bukunya Gill Rapley atau baca tulisan-tulisan bumin Instagram @ceritablw.

Semoga bermanfaat..

Selamat malam, selamat beristirahat 💓💓

Kekhawatiran terhadap Metode BLW: Rekomendasi WHO dan ADB Oleh Harumi Aini

Beberapa waktu lalu ada yang mengirimkan pesan melalui direct message kepada saya di akun instagram @baby.qianna. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang cukup sering ditanyakan tentang BLW dan mungkin mewakili kekhawatiran banyak ibu lainnya.

Dua pertanyaan tersebut yaitu:

  1. Apakah benar BLW tidak direkomendasikan oleh WHO?
  2. Apakah benar bayi BLW rentan ADB?

Setahu saya, WHO belum mengeluarkan statement secara resmi untuk melarang praktek BLW, tapi memang belum juga secara langsung merekomendasikannya.

Kenapa? karena penelitian ilmiah tentang risiko dan manfaatnya yang masih sedikit untuk menjustifikasi metode BLW yang termasuk baru ini.

Salah satu pemerintah yang sejauh ini memang sudah mengeluarkan statement belum merekomendasikan BLW yaitu kementerian kesehatan New Zealand (NZ), dengan alasan karena masih sedikit penelitian ilmiah yang dilakukan.

Tapi, justru di New Zealand (NZ) termasuk yang paling aktif melakukan penelitian tentang BLW karena minat orang tua yang cukup tinggi. Hasil penelitian terbaru, mereka mencetuskan metode BLISS (Baby-Led Introduction to Solids) yaitu BLW yang dimodifikasi dengan guidelines tertentu agar pelaksanaan BLW lebih aman dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
Panduan MPASI WHO yang masih dipakai hingga saat ini yaitu complementary feeding guideline tahun 2000 yg bisa di unduh langsung di website WHO. Sudah cukup lama ya panduannya, dan belum ada update terbaru dari WHO yg membahas spesifik tentang BLW.

Walaupun begitu, sebetulnya prinsip-prinsip BLW cukup selaras kok dengan complementary feeding guideline dari WHO kalau kita coba baca langsung dari panduannya.

  • WHO merekomendasikan active-responsive feeding saat waktu makan sesuai perilaku anak
  • WHO merekomendasikan bayi makan bersama dengan orang tua dan membuat suasana yang menyenangkan saat makan
  • WHO menyatakan makanan MPASI itu adalah makanan keluarga yang dimodifikasi penyajiannya untuk bayi
  • WHO menyarankan makanan disajikan soft/mashed/atau dipotong kecil
  • WHO encourage orang tua untuk membiarkan anak makan sendiri jika anak menunjukkan keinginan tersebut dengan memberikan bantuan jika diperlukan
  • WHO membolehkan orang tua memberikan finger food dibawah pengawasan

Jadi, sebetulnya penyajian bentuk makanannya aja yang berbeda antara metode BLW dan spoon feeding (SF).

→ Kalau orang tua memilih SF, maka makanannya di haluskan oleh orang tua terlebih dahulu.
→ Kalau BLW, makanannya akan dihaluskan oleh mulut bayi sendiri dengan bantuan gusi dan enzim di ludah.

Tapi pada akhirnya tekstur makanan saat ditelan akan sama-sama dalam bentuk halus, walau mungkin tingkat kehalusannya agak berbeda.

Bagi saya pribadi, walaupun memakai metode BLW saya tetap juga memperhatikan kaidah-kaidah kecukupan nutrisi dan rekomendasi pelaksanaan MPASI dari WHO yang sebetulnya tidak jauh berbeda prinsipnya.

Untuk pertanyaan kedua mengenai Anemia Defisiensi Besi (ADB), memang ada salah satu penelitian yang menyatakan anak yg BLW ternyata asupan zat besinya lebih rendah dibanding anak Spoon Feeding.


Sumber: Morison BJ, Taylor RW, Haszard JJ, et al, 2016

Nah ini memang merupakan salah satu kesalahan paling banyak orang tua dalam menerapkan BLW.  Sejak awal BLW, banyak orang tua yang tidak memberikan makanan tinggi zat besi. Orang tua biasanya lebih sering memberi buah, sayur, atau karbohidrat yang penyajiannya lebih mudah dibanding protein untuk anak pemula BLW.

Maka disini dengan adanya penelitian tersebut, kesimpulannya bukan BLW dilarang karena berpotensi ADB. Tapi justru, penelitian tersebut bagus untuk membuka mata para ibu yang BLW sebagai pengingat bahwa orang tua harus “selalu menyajikan makanan tinggi zat besi  sejak awal MPASI 6 bulan pada setiap waktu  makan untuk mencegah ADB” 
Berikut adalah contoh beberapa makanan tinggi zat besi:

Sumber: http://health-tips-day.blogspot.com/

Orang tua harus pintar dan kreatif mengolah daging, hati, dan makanan tinggi zat besi lainnya agar mudah dimakan oleh bayi BLW.  Misalnya dengan menggunakan daging cincang dibentuk menjadi patties, dengan mencampur daging dengan telur membentuk finger food yang mudah digenggam dll.

Sumber: Instagram @baby.qianna

Jangan lupa juga untuk memberikan asupan Vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. Juga hindari pemberian susu dan turunannya berbarengan dengan makanan tinggi zat besi yang dapat menghambat penyerapan zat besi tersebut.

Bayi BLW maupun spoon feeding sama-sama ada resiko terkena ADB kok. Jadi yang salah bukan metode pemberian MPASInya, tapi makanan apa yang disajikannya.
Misalnya nih, orang tua yang memilih memakai spoon feeding dan setiap hari sudah menyiapkan makanan tinggi zat besi. Eh ternyata anak tidak mau disuapin berlanjut menjadi GTM, maka makanan yang masuk juga sedikit dan sama saja jadi beresiko ADB.

Daripada GTM berkepanjangan, ternyata anak lebih enjoy makan dengan BLW. Maka justru BLW malah bisa menjadi salah satu solusi mencegah ADB dibandingkan dipaksa makan dengan menyuapi anak yang malah bisa berujung trauma.

Selain asupan tinggi zat besi dari makanan, WHO sendiri telah mengeluarkan panduan rekomendasi pemberian suplemen zat besi bagi anak yang memiliki resiko cukup besar terhadap ADB.

Hal ini tidak direkomendasikan spesifik untuk anak BLW saja, tapi seluruh anak terutama di bawah 2 tahun karena kebutuhan asupan zat besi pada anak yang cukup tinggi.

Data SKRT tahun 2001 menunjukkan prevalens ADB pada:

– bayi 6-12 bulan 64,8%

– anak balita 48,1%

– wanita hamil 40,1%


Sumber: WHO, 2011

Rekomendasi suplementasi zat besi juga telah dilkeluarkan oleh IDAI pada tahun 2011 yang bisa di unduh langsung di web IDAI.

Sumber: IDAI, 2011

Keputusan mau memberikan suplemen zat besi atau cukup dari asupan makanan saja dikembalikan lagi kepada masing-masing orang tua dan silahkan dikonsultasikan dengan DSA masing-masing kalau masih ragu.

Jadi, setiap orang tua pasti punya pertimbangan masing-masing dalam memilih metode MPASI sesuai keyakinan, kenyamanan dan kondisi. Yang jelas pakai metode MPASI apapun itu, tetap harus membekali diri dengan ilmu yang menyeluruh agar kebutuhan nutrisi anak tercukupi.

 

​Bagaimana Pencernaan Bayi BLW?

Banyak orangtua yang akan menerapkan metode BLW mempertanyakan masalah pencernaan bayi ketika awal MPASI karena makan makanan utuh.
Mari kita coba belajar kembali mengenai proses pencernaan manusia, termasuk bayi. Terdapat empat proses utama pencernaan, yaitu: 

1. Pencernaan pada mulut

Mulut merupakan bagian dari saluran pencernaan. Makanan pertama kali diproses di dalam mulut. Mengunyah membuat makanan menjadi bagian yang lebih kecil. Kelenjar air liur di dalam mulut akan memproduksi air liur guna membantu memperhalus makanan. Selain itu, air liur juga mengandung enzim ptialin yang berfungsi memecah karbohidrat (amilum) menjadi lebih kecil (maltosa/glukosa) agar dapat diserap oleh usus. Dari mulut, makanan yang telah dikunyah bergerak menuju lambung.

2. Pencernaan pada lambung

Lambung adalah kantong yang memiliki dinding otot yang kuat, berada di kiri rongga perut. Selain menampung makanan, lambung juga berfungsi sebagai penghancur dan penghalus makanan. Di lambung terdapat asam dan enzim yang akan membuat makanan menjadi cair atau mirip seperti bubur. Kemudian makanan tersebut bergerak ke usus halus.

3. Pencernaan dan penyerapan pada usus halus

Di dalam usus halus, makanan akan kembali diproses dengan enzim pencernaan yang diproduksi pankreas, dinding usus halus, dan cairan empedu. Ketiganya akan bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan pencernaan makanan agar dapat diserap ke dalam pembuluh darah usus.

Selama proses penyerapan, makanan akan memasuki aliran darah melalui dinding usus. Pembuluh darah akan menyerap hasil pencernaan yang berupa protein dan karbohidrat kemudian dibawa menuju hati. Hati akan menyaring zat-zat berbahaya dalam darah, menyimpang vitamin serta nutrisi yang berlebihan untuk disimpan sebagai cadangan dalam tubuh. Sedangkan pembuluh getah bening akan menyerap lemak.

4. Penyerapan pada usus besar

Pada usus besar akan terjadi proses penyerapan terhadap air dan juga garam-garam mineral dari sisa makanan supaya feses bisa berbentuk padat. Gerak peristaltik akan mendorong feses untuk dibuang melalui anus.

***

Bayi yang disuguhi makanan padat (utuh) pun akan memulai proses pencernaan makanan dengan memasukan makanan ke mulut, mengigit, mengunyah. Kemudian berlanjut ke tahap-tahap proses pencernaan selanjutnya hingga berakhir dengan pembuangan feses. Jadi makanan utuh tersebut tak langsung masuk ke perut tanpa proses apapun.

Pada bayi BLW proses mengunyah juga memberi lambung waktu untuk mengirim sinyal ke otak bahwa kapasitasnya sudah cukup, sehingga mencegah bayi BLW makan berlebihan.

Menurut Prof.dr.Hiromi Shinya, Guru Besar Kedokteran Albert Einstein College of Medicine, AS, di dalam bukunya, “The Miracle of Enzyme”:

“Makanan-yang-tidak-diproses lebih baik karena Anda harus mengunyahnya dengan baik. Mengunyah menstimulasi sekresi air liur. Enzim-enzim pencernaan yang terdapat dalam air liur, jika tercampur dengan makanan selama dikunyah, meningkatkan pencernaan dan penyerapan karena penguraian makanan berlangsung dengan lancar. Sedangkan bubur pada dasarnya sudah lembut, dapat ditelan tanpa dikunyah dengan baik. Bubur tidak dapat dicerna dengan baik karena tidak banyak enzim yang tercampur di dalamnya, sementara makanan normal yang terkunyah dengan baik juga dapat dicerna dengan baik.”

***

Selama usia MPASI bayi terpenuhi (180 hari atau 6 bulan) dan memenuhi syarat kandidat BLW (sehat, tidak cacat, bukan bayi BBLR (berat badan lahir rendah), dan bukan bayi prematur) orangtua tak perlu khawatir mengenai masalah pencernaan.

Jika memang diharuskan MPASI dini, konsultasikan dengan dokter terkait.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Salam,

Kurnia Fatma
Sumber: 

www.babyledweaning-indonesia.com

www.alodokter.com

Bagaimana Cara Membujuk Anak Yang Sedang Sakit Agar Mau Makan?

image

Beberapa hari yang lalu, Alice anak dari Bubii Ari, salah satu member CeritaBLW, masuk rumah sakit karena tipes. Bubii Ari sedih dan pusing karena Alice nggak mau makan.

Nah ini tips yang diberikan ibu-ibu member CeritaBLW untuk Bubii Ari:

1.” Abis makan, kita minum obat”, biasanya Adib mau walaupun cuman dua suap. (Wina)

2 . Membuat semacam bento dengan bentuk yang lucu, hewan-hewan kesukaannya. (Ajeng)

3. Makan sambil dipeluk dan disuapi, dimanjakan pada saat sakit. (Erna)

4. Makan sepiring berdua dengan ibu trus ibunya berekspresi “woww enaaaakkkk”. (Amellia)

5. Ibunya banyak sabar dan berpikir positif kali ini mau (jangan capek nawarin) makanan yang biasa dia suka, atau makanan yang belum pernah dia coba. Yakinkan itu enak dan bisa bikin dia cepat sembuh. (Fika)

6. Tawari makan bareng makanan favorit Alice. (Finda)

7. Coba ganti orang lain yang menawarkan makan, contoh: Kakak. Kalo makan yang padat susah ditelan, makan bubur ayam/bubur manis atau jus alpukat ditambah susu coklat. (Rose)

8. Memperlihatkan video lagu/film tentang makanan sambil berekspresi bahwa makanannya enak, Alice senang makan, makanan bikin kuat kayak singa. (Lily)

9. Kalau anaknya tidur, dibisikan pelan-pelan di telinganya: “Anak Mama pinter makannya, lahap, makan yang sehat dan bergizi supaya cepat pulih kesehatannya. Seperti itu terus berulang-ulang. Semoga alam bawah sadar anak ikut membantu. (Cory)

Selain tips di atas ada beberapa cara yang bisa digunakan ibu-ibu untuk membujuk anaknya yang sedang sakit agar mau makan.

Pertama, biasanya anak yang sedang sakit merasa lemas dan kehilangan nafsu makan, lidah hanya bisa merasakan pahit. Untuk mengurangi rasa pahit, berikan makanan manis agar mulut dan lidah terasa segar dan nyaman, seperti: buah atau puding.

Kedua, setelah anak merasa mulut dan lidahnya nyaman, berikan cemilan atau makanan kesukaan sang anak. Kemudian setelah perut terisi, obat dapat diberikan kepada anak. Setelah obat bereaksi, cobalah untuk memberikan makanan berat, nasi, sayur, dan lauk.

Ketiga, ibu diharapkan sabar dan berdoa, semoga sang anak segera diberi kesembuhan. Kasih sayang dan lingkungan yang nyaman akan mempercepat pemulihan.

Salam,
Kurnia Fatma

Makan di restoran??? Siapa takut…

Sesekali makan sekeluarga direstoran bisa merefresh pikiran looh… Apalagi untuk bunda-bunda yang full mengurus rumah. Makan direstoran bisa menjadi kado mewah karena tidak dibayangi pertanyaan, “makan apa kita hari ini?”

Tapi, gimana ya caranya agar makan direstoran jadi menyenangkan? Nah, ini dia tips-tipsnya khusus untuk para bayi BLW…

1. Pesan makanan si kecil sesegera mungkin. Kalau kata salah satu iklan, lapar bisa bikin orang jadi menyebalkan. Bayi juga sama. Jadi, pesan segera makanan sebelum bayi anda lapar.

2. Tunda mendudukan si kecil di meja makan sampai makanan hampir datang karena anak kecil mudah bosan. Mungkin dengan membawanya berjalan-jalan terlebih dahulu akan menjadi pilihan yang baik.

3. Bawa serta mainan si kecil atau buku mewarnai dan krayon agar si kecil asyik bermain di meja makan. Ini bisa jadi alternative lain untuk mengurangi kebosanan anak.

4. Biarkan si kecil makan sendiri dan tahan godaan untuk membuat si kecil makan lebih dari apa yang dia inginkan. Kuncinya berikan kepercayaan kepada anak untuk makan apa yang dia mau dan seberapa banyak yang dia inginkan.

5. Bawa peralatan makan pribadi, misalnya cangkir. Kenapa? Karena si kecil masih dalam tahap belajar pakai peralatan makan. Nah, karena setiap restoran biasanya peralatan makannya beda-beda, jadi ada baiknya kalau kita bawa sendiri karena bayi masih perlu waktu yang lama untuk beradaptasi dengan peralatan-peralatan makan yang baru.

6. Jika khawatir berantakan, bawa alas penahan percikan atau sapu kecil yang biasanya ada di mobil. Memunguti remahan makanan sehabis si kecil makan juga ide yang bagus dibandingkan anda diblacklist oleh pemilik restoran karena selalu membuat lantainya berantakan (just kidding…hehhhe).

Yup.. itu dia tadi tips-tipsnya. Jadi laper deh… ke restoran yuk 🙂

Salam,
Ernawati

Makanan Bayi BLW saat Traveling

image

Hallo BLWers semua. Seneng yak kalo bisa pergi piknik sekeluarga. Apalagi bawa si kecil yang imut-imut. Tapi… gimana yah kalo bayi-bayi BLW mau makan ketika sedang jalan-jalan?
Tenang, kali ini ceritablw akan sharing tentang beberapa pilihan makanan yang bisa dibawa ketika si kecil bepergian

Buah-buahan
Yang ini paling praktis tis tis. Untuk mempermudah, bunda bisa bawa buah-buahan yang langsung tinggal hup dimakan kayak jeruk atau pisang.

Sayuran yang sudah dimasak seperti wortel atau brokoli kukus bisa jadi pilihan lainnya. Namun, usahakan sayurannya ditaruh ditempat yang kedap udara. Jeda antara waktu masak dan waktu pemberian juga perlu diperhatikan. Semakin pendek jedanya semakin baik karena si kecil mendapatkan sayuran yang masih segar.

Jagung rebus, singkong rebus, dan makanan rebusan lainnya.
Sandwich atau roti tawar yang dioles pake unsaltedbutter bisa jadi pilihan bagus. Selain mudah, makanan ini juga bisa jadi booster bb bagi si kecil. Cemiwiw…

Irisan keju
Buat irisan keju dalam bentuk memanjang agar si kecil dapat lebih mudah memegang.

Berbagai macam pasta
Pasta twists (fusilli) atau shells and bows bisa jadi alternative pilihan pasta yang oke karena tidak terlalu licin dan lebih mudah digenggam oleh bayi

Yoghurt plain
Bisa juga dikasih di buah-buahan jadi berbentuk salad. Tapi kalau anda khawatir akan berantakan dan lengket, pilihan ini bisa di skip.
Buah-buahan kering seperti kismis bisa jadi alternative untuk meminimalisir berantakan.

Oke… segitu dulu ya tips-tipsnya. Selamat piknik 🙂

Salam,
Ernawati

Sumber: Buku “Baby Led-Weaning” karya Gill Rapley & Tracey Murket. Penerbit : Elex Media Komputindo.

Tips Menawarkan Makanan untuk Si Kecil

image

Hai BLW’ers. Sekarang mimin mau sharing tentang tips-tips menawarkan makanan pada si kecil. Tips ini masih menurut Gill Rapley & Tracey Murkett yg terkenal itu loh. Ini dia tipsnya:

1. Cuci tangan si kecil dulu ya sebelum makan

2. Coba tawarin potongan-potongan makanan dalam bentuk batangan yg panjangnya paling sedikit 5cm. Setengahnya untuk digenggam, setengahnya lagi utk dimakan

3. Pastikan si kecil jadi satu satunya orang yg memutuskan makanan yg masuk ke mulut. Jadi taruh makanan dalam jangkauan si kecil biar gampang ngambilnya… (jangan diumpetin. Hehhe)

4. Periksa makanan agar jangan terlalu panas. Makanan bisa dicicipi dulu sebelum dikasih ke si kecil

5. Tawarin makanan dalam porsi kecil. Kalo dikasih dalam porsi banyak bayi malah cenderung menolak loh… Kalo istilah org dewasanya, ngeliatnya aja udah kenyang 😁

6. Siapkan makanan lebih ketika dia p
ingin. Beberapa DSA juga menyarankan ini loh utk anak yg susah makan. Sering dibilang “puasa 3 jam”. Tujuannya biar anak lapar. Kalo ga lapar gimana mau makan? Hehhe

7. Ingat, “menghabiskan sepiring makanan” bukanlah tujuan akhirnya. Yang penting adalah si kecil makan sebanyak yg dia butuhkan. Percaya sama anak itu kuncinya

8. Jangan merasa tersinggung ketika si kecil tidak mau makan makanan yg kita siapkan. Kalo si kecil nolak, itu artinya dia sedang tidak butuh makanan itu SAAT ITU. Jadi bukan karena makanannya ga enak. Atau, bukan berarti dia tetep ga makan makanan itu kalau anda coba tawarin lagi besok besoknya. Siapa tau 2 hari lagi mau.. atau seminggu lagi… atau sebulan lagi…Jadi yuk ga usah baper yuk.. coba lagi aja coba lagi…

9. Selalu temani bayi makan. Selain si kecil jadi bisa niru, momen makan ini juga bisa mempererat hubungan kita dengan si kecil. Apalagi kalo si kecil udah nyuapin kita, rasanya bahagiiiaaaaa sekali… momen makan terasa sangat indah

Selamat mencoba ya semuanya 🙂

Salam,
Ernawati

Rahasia Sukses BLW

image

Menurut Gill Rapley & Tracey Murkett dalam buku “Baby-Led Weaning”, ada 6 rahasia sukses ber-BLW. Check it out moms:

1. Anggap waktu makan sebagai waktu bermain pada awalnya. Diwaktu awal, jadikan blw sebagai waktu utk belajar dan bereksperimen, bukan semata-mata makan. Namanya juga baru, pasti butuh belajar kan.

2. Tetap berikan susu sesuai kebutuhan. Nanti lama lama bayi akan mengurangi sendiri ko susu yg dia butuhkan. Bayi kan pintar.

3. Jangan berharap bayi anda makan banyak makanan pada awalnya. Krn bayi tidak secara tiba2 loh butuh makanan extra saat 6 bulan. Setelah dia menemukan rasa makanan itu enak, baru deh dia mulai mengunyah dan menelan. Ssst… kata penulis beberapa bayi makan sangat sedikit selama beberapa bulan pertama. You’re not alone… fiuuuh…

4. Cobalah makan dengan bayi anda dan libatkan dengan makanan bunda ketika memungkinkan. Jadi bayi punya banyak kesempatan niru cara makan anda.

5. Bersiaplah untuk berantakan. Menaruh alas dibawah dan memakaikan bayi slabber bisa mengurangi resiko berantakan loh. Dan yg paling penting, INGAT, dia sedang belajar, bukan mengerjai anda.

6. Buat tetap menyenangkan bagi anda semua. Momen yg menyenangkan akan membuat bayi justru menunggu-nunggu proses makan. Ayo siapa yg mau ditunggu? 😉

Salam,
Ernawati

Picky Eaters dan BLW

image

“Anakku BLW-an tapi kenapa masih picky eater yah?” Yessss.. Pertanyaan seperti itu muncul karena sebagian ibu2 memilih BLW salah satunya agar anak tidak picky eater, tapi dalam pelaksanaannya si anak tetap saja jadi picky eater. Oke, mari kita bahas mengenai picky eater anak BLW.

Picky eater adalah seseorang yang hanya makan makanan tertentu dalam jangka waktu lama, serta sulit mencoba jenis makanan baru. Dalam ilmu kesehatan disebut selective eating disorder.

Ciri anak yang menderita picky eater:
1. Sulit mengunyah dan menelan makanan. Biasanya terjadi pada saat ada perubahan tekstur makanan.
2. Jika dipaksa mengunyah dan menelan makanan, anak akan marah atau menangis.
3. Hanya mau makan makanan tertentu. Jika makanan tidak sesuai keinginan akan ditolak. Apabila dipaksa, makanan yang masuk mulut akan dimuntahkan.

Penyebab anak jadi picky eater:
1. Mengalami masalah psikologis, ini membuat anak takut untuk mencoba makanan baru. Biasanya gangguan psikologis terjadi karena anak trauma makan, penyebabnya bisa karena pernah dipaksa makan, pernah muntah atau tersedak saat makan.
2. Gangguan Sensori, membuat anak tidak mau makan dan secara konsisten menolak makan disebabkan oleh rasa, tekstur, bau dan penampilan makanan. Anak tidak mau memakan makanan yang tidak disukainya.
3. Keturunan, terdapat unsur gen yang bisa menurun pada kebiasaan makan kita, contoh: autisme.

Kegiatan makan pada anak dipengaruhi oleh beberapa komponen, yaitu:
1. Kognitif: makan = sehat, rasa asli.
2. Afeksi: suasana ketika makan, apresiasi terhadap makanan, rasa nyaman.
3. Psikomotorik: kemampuan mengunyah, menelan, dan mengolah makanan.
4. Sensori: salah satu komponen penting dimana pada anak picky eater bisa terjadi oral devensiveness (sensory deficit).
* panca indra: penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman.
* prorioseptif: posisi dalam ruangan dan sikap selagi makan
* vestibular: kesigapan, keseimbangan,pengatur gerak.
* taktil: perabaan, termasuk rongga mulut dan organ mulut.

Komponen2 tersebut dilakukan oleh anak BLW. Seperti ini penjelasannya:
1. Kognitif >> makanan sehat (mpasi homemade), rasa asli (karena utuh bukan pure campur2).
2. Afeksi >> suasana makan menyenangkan (BLW identik dengan “eat for fun”), nyaman saat makan (karena tidak dipaksa).
3. Psikomotorik >> anak BLW dilatih memegang, memasukkan makanan, mengunyah, menelan dan mengolah makanan dari awal belajar makan.
4. Sensori >>
* pancaindra (saat makan semua pancaindra bekerja),
*prorioseptif (sikap makan duduk tegap, aman),
*vestibular (sigap, seimbang, bergerak untuk ambil, kunyah, dan telan makanan),
* taktil (meraba saat pegang makanan, mengunyah dan menelan dengan rongga mulut dan organ mulut).

Semua komponen harus ada saat acara makan. Jika salah satu komponen hilang, makan kita wajib evaluasi dan jika ada gangguan sebaiknya konsultasi dengan ahlinya. Penanganan picky eater dibutuhkan ahli dari bidang ilmu terkait seperti, dokter anak, psikolog anak, dll. Karena picky eater terjadi bukan karena lingkungan atau kebiasaan, juga terjadi bukan hanya karena makanan yang tidak enak dan tidak bisa pulih seketika.

Yang harus diperhatikan ketika mengatasi anak picky eater adalah:
1. Status gizi anak dan juga pemberian obat- obatan (konsultasi dengan dokter).
2. Terapi psikologis yang bisa dilakukan yaitu terapi perilaku, emosi, sikap, dan sosialisasi (konsultasi dengan psikolog).
3. Untuk sensori integrasi bisa dengan mengatasi gangguan sensori (konsultasi dengan dokter).
4. Orangtua harus sabar dan konsisten melatih anak picky eater untuk mau mencoba makan-makanan beragam.

Bukan tidak mungkin anak BLW menjadi picky eater. Kita sebagai orangtua wajib mengusahakan yang terbaik untuk anak. Semoga artikel ini sedikit mencerahkan ibu2 yang anaknya takut menjadi picky eater.
Semangat BLW ibu2 dan bayi2.

Salam,
Kurnia Fatma

Sumber:
mommiesdaily.com