LABELLING PADA ANAK

Oleh

Andrea Kusuma P.M., M.Psi., Psikolog

Senin, 18 Maret 2019

Moderator       : Adriani Lestari

Notulen           : Atikah Ariyanti

APA ITU LABELLING?

Tindakan mendefinisikan seseorang dalam suatu kata singkat, seperti mendefinisikan anak yang sering melanggar peraturan sebagai anak ‘nakal’.

LABELLING THEORY

Teori mengenai bagaimana identitas diri dan perilaku seseorang, dapat ditentukan / dipengaruhi oleh kata atau frase yang orang lain gunakan untuk menggambarkan dirinya

KENAPA KITA MELAKUKAN LABELLING PADA ANAK?

Terkadang kita bingung untuk menjelaskan mengenai masalah perilaku yang anak kita miliki. Memberikan label pada perilaku tersebut, mempermudah kita untuk menjelaskan dan mengambil tindakan atas perilaku tersebut.  Contoh: “Dia memang anak yang keras kepala dari kecil” “Menurut guru sekolah, anak saya memang pemalu” “Kakak kamu memang anak yang pendiam dari kecil, beda sama kamu yang cerewet”

Karena terkadang orangtua butuh alasan untuk menjelaskan  perilaku anak yang kurang berkenan, kepada orang lain. Contoh: Anak tidak mau salim kepada kerabat yang baru datang. orangtua berkata di depan anak “maaf ya, dia memang pemalu anaknya”. ➡ Labelling dilakukan karena orangtua merasa sungkan dengan orang lain dan butuh alasan singkat untuk menjelaskan perilaku anaknya.

DAMPAK LABELLING PADA ANAK

Self Fulfilling Prophecy

Contoh :

  • Others beliefs : Orangtua me-label anak yang aktif mengeksplor lingkungan sebagai ‘nakal’
  • Others actions: Orangtua langsung melarang dan memarahi dengan kata-kata ‘nakal’ saat anak

mulai berlarian/memegang sesuatu

  • Our beliefs: Anak mulai meyakini bahwa rasa penasarannya adalah suatu sifat ‘nakal’, ‘tidak bias diam’
  • Our actions: Anak berperilaku sesuai dengan label yang diberikan kepada dirinya
  • Me-labelling anak, berarti kita mencegah mereka untuk tumbuh berkembang dan menjadi

apapun yang mereka inginkan.

  • Me-labelling anak berarti kita membatasi potensi yang mereka miliki dan kemungkinan

pencapaian-pencapaian mereka.

  • Anak-anak masih ada dalam tahap belajar. Mereka masih memiliki ruang luas untuk

berkembang dan berubah

 

BAGAIMANA MENCEGAH/MEMPERBAIKI LABELLING PADA ANAK?

  • Ajak anak diskusi mengenai apa saja kualitas/sifat positif yang mereka miliki -> agar mereka

tidak terpaku hanya pada satu ‘label’ sifat saja.

  • Gunakan pujian yang bersifat deskriptif -> jelaskan dengan detil apa perilaku yang anak lakukan: “Kakak baik hati ya, karena mau berbagi kue dengan temannya” “Terima kasih ade, karena sudah rajin mau membantu mama membereskan mainan”

Speak to your children as if they are the wisest, kindest, most beautiful, and magical humans on earth, for what they believe is what they will become.

Brooke Hampton

 

SESI TANYA JAWAB

1.Vidinia Larasati

Apakah selalu memuji anak dengan kata “pintar” itu tidak baik? Apa akan membuat anak menjadi tinggi hati?

Jawaban :

Dari penelitian memang menunjukkan bahwa pujian lebih baik bersifat *deskriptif*, bukannya evaluatif. Bedanya apa?

Pujian evaluatif: ketika kita memberikan pujian berdasarkan penilaian kita atas tindakan yg anak lakukan. Wah, kamu pintar ya! Gambarnya indah ya!. Indah & pintar ini kan penilaian subyektif kita bukan?

Pujian deskriptif: lakukan observasi atas tindakan spesifik yang anak lakukan. Berikan pujian & rekognisi atas hal tersebut. “Wah terima kasih kakak karena telah mau menaruh semua mainan di tempatnya. Sekarang kita jadi gampang deh nemuin mobil2an Tayo nya!” “Wah sekarang ade sudah bisa membedakan warna merah dan hijau ya. Yuk kita belajar warna lain!”

Kenapa disarankan seperti ini? Karena dari penelitian terlihat bahwa anak yang mendapat pujian evaluatif terlalu berfokus kepada kualitas diri yang disebut dalam pujian ini dan akhirnya bersifat lebih dependen serta membutuhkan pujian terus menerus untuk menentukan keberhargaan dirinya (self worth). Dengan pujian deskriptif kita mengajak anak untuk secara mandiri mengevaluasi kualitas diri apa saja yg ia miliki, sehingga di kondisi sulit mereka dapat mengeluarkan keyakinan akan kemampuan diri itu scr internal.

2.  Febi Haryani

Labeling pada anak tentu harus ditanamkan sejak usia dini. Namun bagaimana jika ketika anak di luar rumah atau di lingkungan sekitarnya dilabeli sebagai anak nakal, atau anak jahil. Padahal orang tuanya selalu menjelaskan kalau dia anaknya aktif dan serba ingin tahu.

Apakah si anak akan bingung mendefinisikan label sebuah sikap tertentu dan apakah akan berpengaruh terhadap perkembangannya meskipun lingkungan keluarga tidak melabeli dia buruk?

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap / tindakan orang tua jika anak berada di lingkungan yg melabeli anaknya nakal, jahil, dsb?

Terima kasih

Jawaban :

Justru labelling dalam bentuk apapun sebaiknyat tidak dilakukan mbak, baik labelling negatif atau positif, karena anak perlu belajar bahwa kualitas dirinya tidak ditentukan dengan 1-2 kata sifat saja. Dia adalah manusia dengan beragam karakter dan rentang emosi.

Yang orang tua bisa lakukan sudah aku tuliskan di slide kedua terakhir ya. Lakukan diskusi dengan anak mengenai sifat-sifat baik dan buruk apa saja yang ia miliki? Apa yang sebaiknya dilakukan terkait sifat tersebut? Berikan juga pujian-pujian yg bersifat deskriptif.

3. Irma NS

Mau bertanya.. sering kali bukan orang tua yg melabeli anak tetapi tetangga atau bahkan akung eyangnya, semacam anak nakal, dst.. bagaimana kita menghadapinya dengan bijak?

Jawaban :

Sebisa mungkin berikan penjelasan mengenai tahapan tumbuh kembang anak ke lingkungan sekitar yang banyak interaksi dengan anak kita. Untuk anaknya, setiap dia dilabeli seperti itu, bisa diajak bicara “memang apa yang sedang mau kamu lakukan? Manjat jendela kah? Kalau kakak manjat, risikonya bisa jatuh loh. Kakak boleh manjat, kalau siap dengan risikonya, dst..dst”. Ajak anak diskusi dan cari kesepakatan bersama untuk meng-counter labelling tsb.

4. Nama : Prastika

Bagaimana caranya menghadapi/menanggapi labelling dari orang luar terhadap anak kita? Misalnya, saya punya keponakan, saya sm ibunya(kakak) berusaha belajar tidak melabeli, akan tetapi tipikal anaknya mudah menangis dan bila meminta sesuatu berteriak, nah, tetangga juga sama mertuanya kakak akhirnya nyeletuk “kamu, nakal ya”

5.  Dyah

Safa 17 bulan butuh waktu lebih lama buat observasi ke orang atau lingkungan baru. Yang bikin orang-orang bilang safa penakut. Gimana cara biar anak bisa lebih mudah adaptasi di tempat baru? Sedih aja kalo tiap main ke saudara pada lho safa takut ya? Safa malu yaa?

Jawaban :

Mamanya jangan sedih ya. Temperamen tiap anak memang beda. Ada anak-anak yang butuh waktu lebih lama untuk adaptasi di lingkungan baru.Tugas orang tua bukan membuat anak bisa mengikuti tuntutan lingkungannya, tapi bagaimana membuat anak merasa aman dan nyaman di tempat ia berada, sehingga keberanian itu tumbuh dari dalam diri.

Kalau di kondisi gini, hiraukan aja pendapat orang-orang dewasanya dan fokus ke anak kita. Jongkok agar kita sejajar dengan anak, dan ajak anak bicara. “Safa mau dadah ga sama om? Safa mau salim ga sama tante?” Kalau anak masih ga mau, gausah dipaksa. Ditemani aja sampai ia merasa nyaman dgn sekelilingnya.

Tanggapan mbak Prastika :

Kalau anaknya masih bisa kita kondisikan seperti yang mbak sampaikan, hanya saja susah ketika anak interaksi dengan nenek atau tetangga dekat, mereka mudah ngelabelin negatif kalau anak mengekspresikan emosinya dibilang “ngambekan”, ibunya perlu bilang apa ya?

Jawaban

Coba sebisa mungkin dan sesederhana mungkin dijelaskan bahwa ini memang tahap tumbuh kembang anak. Anak msh dalam tahap belajar utk mengenali emosinya. Kalau tidak mempan juga, langsung saja minta sebisa mungkin ke orang-orang dewasa di sekitar untuk menjaga omongannya. Lebih baik gunakan kalimat-kalimat positif yang menyenangkan, agar menjadi doa utk anaknya menjadi anak yg lebih baik lagi

Tanggapan mbak Dyah

Jadi emang wajar kan ya mbak kalau anak gak mau langsung sama orang yang jarang dia temuin? Terus safa kan denger tuh budhe-budhenya atau uti-utinya yang bilang ih safa maluu yaa. Kita harus gimana mbak??

Jawaban

Wajar mbak. Jangankan anak kecil, kita juga kalau baru ketemu sama saudara jauh yang jarang ketemu juga mungkin gak langsung haha hihi cipika cipiki kan? Pasti ada waktu basa basinya dulu, cari tau ini tipe orang yang gimana yaa. Bisa ga ya diajak ngobrol asik? Kalau di kondisi gini, hiraukan aja pendapat orang-orang dewasanya dan fokus ke anak kita. Jongkok agar kita sejajar dengan anak, dan ajak anak bicara. “Safa mau dadah ga sama om? Safa mau salim ga sama tante?” Kalau anak masih ga mau, gausah dipaksa. Ditemani aja sampai ia merasa nyaman dgn sekelilingnya.

 

Bisa juga langsung aja minta sebisa mungkin ke orang-orang dewasa di sekitar untuk menjaga omongannya. Lebih baik gunakan kalimat-kalimat positif yg menyenangkan, agar menjadi doa utk anaknya menjadi anak yg lebih baik lagi.

6. Tutus

Apa labelling selalu negatif? Bagaimana jika labellingnya ‘anak pintar,anak manis, anak mama’ dst? Terima Kasih

Jawaban :

Labelling bisa juga dalam arti positif mba, tapi punya dampak negatif yg sama. Kenapa? Karena sebaiknya anak perlu belajar bahwa kualitas dirinya tidak ditentukan dengan 1-2 kata sifat saja. Dia adalah manusia dengan beragam karakter dan rentang emosi.  Anak yang manis pun boleh marah ketika ia kesal. Anak yang pintar tetap boleh dapat nilai jelek ketika ia sedang tidak fokus. Dampak labelling positif ini seringkali membuat anak jadi takut membuat kesalahan. Mereka juga takut mengambil risiko dan menghindari tantangan karena khawatir akan kegagalan. Hal ini dilakukan karena mereka berusaha mempertahankan labelling positif tersebut yg kita menjadi identitas diri mereka.

Tanggapan mbak Tutus

Terima kasih banyak . Sangat tercerahkan

7. Anggi Astria

Aku mau tanya, kita harus ngomong apa kalau ada keluarga atau tetangga yang ngelabelin anak kita, kadang aku ya jadi reflek ngomong iya nih Aqeel pemalu tantee. Karna aku gak tau harus bereaksi kayak gimana pas Aqeel nemplok aja sama emaknya. Terima Kasih

Jawaban :

Nah ini sama jawabannya dengan No. 5, mbak Dyah ya. Saranku sih omongin ke orang dewasanya gak usah ditanggepin, tapi langsung aja tanyakan ke anaknya. “Aqeel mau salim ga sama om?” Kalau anaknya masih ga mau, “ohh oke gapapa kalau Aqeel belum mau salim. Pelan2 aja yaa”. Bisa juga kasih penjelasan ke orang dewasanya “maaf ya tante, Aqeelnya belum mau salim”, jadi langsung fokus ke deskripsi perilakunya aja

8. Nisha

Pelabelan anak yang istilahnya “anaknya gak mau selain sama emaknya” kalau dipegang orang lain atau liat orang lain pasti nangis. Nah ini gimana? Terus klo kita kelepasan bilang “dia mah gak langsung mau maen, merhatiin sekitar dulu nanti kalo udah mau maghrib bubaran main baru gabung sama anak-anak  yang lain” ini buat abangnya istilahnya “gak mau jauh-jauh dari ekor emaknye”. Itu termasuk pelabelan gak ya ?

Jawaban :

Bisa jadi pelabelan. Tapi ucapan mbak yang ” merhatiin sekitar dulu nanti kalo udah mau maghrib bubaran main baru gabung sama anak-anak  yang lain “, cukup ok kok untuk ngasih penjelasan ke orang-orang sekitar

Tanggapan mbak Nisha

Oh berarti masih aman ya, iya nih aku berusaha gak ngelabelin anak jaidnya penjelasannya segambreng kalimat . Nah  kalau yang soal anak kita setiap ketemu orang nangislah takutlah. Sampai  kata orang “si adek sama orang lain takut ya” “rewel” nah itu gimana

Tanggapan mbak Nidya

Kayaknya ini menyangkut tipe anak yg macam introvert extrovert gitu gak mbak Andrea?

Jawaban

Bisa iya bisa enggak. Mungkin lebih ke temperamen bawaan anak ya, ada yang memang tipenya slow to warm up, jadi butuh waktu lebih untuk adaptasi di lingkungan baru.

Kalo introvert itu gak selalu berarti pemalu. Intro ekstrovert itu lebih ke bagaimana cara seseorang untuk me ‘recharge‘ dirinya. Orang intro biasanya lebih suka recharge energi di kegiatan individual, karena bertemu orang banyak atau ada di keramaian itu kadang melelahkan untuk mereka. Tapi bukan selalu berarti mereka pemalu atau tertutup

Tanggapan mbak Nidya

Nah maksudku tempramen,iyaa ‘slow to warm up’ Tempramen ini bisa berubah apa menetap?

Tanggapan mbak Andrea

Sebenernya temperamen kan ada 3 ya yang sering dipakai, easy child, slow to warm up, sama difficult child. Tapi ga kselalu anak itu cuma 1 tipe, bisa juga dia campuran dari 2 tipe. Temperamen cenderung menetap sampai besar, tapi tampilan keluarnya bisa ‘diperhalus’ seiring dengan anak belajar melalui lingkungan dan keluarga. Kayak anak yg difficult, ga selamanya akan mudah emosi, dan sulit nyaman dengan orang tidak dikenal, jika seiring tumbuh kembangnya ia dipaparkan dengan ajaran dan lingkungan yang suportif

Tanggapan mbak Nidya

Hoooo yayaya makasih penjelasannya mak Raka,pertanyaanku malah merembet sampai tempramen.

9. Qiqi

Bagaimana menyikapi lingkungan yang suka melabeli anak? Seperti gurunya, kakek, neneknya atau para tetangga sekitar?

Jawaban :

Ini jawabannya sama dengan pertanyaan nomor 3, Mba Irma ya mak.

10. Nidya

Jika labelling itu datang dari orang lain (saudara,tetangga),respon positif spontan seperti apa agar anak kita yang mendengar tidak merasa minder dengan label tersebut? Terima Kasih

Jawaban :

Ini jawabannya serupa dengan pertanyaan no 4 & 6 ya mak.

11. Ina

Pada slide materi disebut melabel anak dengan hal yg negatif adalah buruk, bagaimana dengan label positif? seperti “anak umi pinter, penurut” atau “anak umi hebat, pemberani”

Terima kasih

Jawaban :

Nah ini sama jawabannya dgn pertanyaan no 5 ya mba 😊

Tanggapan

Tercerahkan makasi jawabannya mbak

 

 

 

 

Resume Kulwap TUBERCULOSIS (TB PARU)

Ns. Mia Yuspitasari, S.Kep

Rabu, 13 Maret 2019

Moderator : Rifqi Ati Syukriyah

Notulis : Rahmawati Pratiwi

TUBERCULOSIS (TB PARU)

adalah penyakit yang menyebabkan infeksi dari kuman TB yang menyerang paru-paru 

GEJALA TBC?

  • Nafsu makan berkurang
  • Demam
  • Badan terasa lesu
  • Dada terasa nyeri/sesak
  • Batuk terus menerus
  • Berdahak

BAGAIMANA PENULARANNYA?

Penularan melalui udara atau lendir yang terkontaminasi kuman TB dari batuk atau bersin penderita TB yang terhirup dan atau kontak fisik dari air liur penderita TB yang masuk ke mulut lawannya yang daya tahan tubuhnya tidak dapat menahan perkembangan kuman TB. TBC mudah menular dari dewasa pada anak tapi anak yang tertular tidak menularkan pada sekitar.

APA YANG HARUS DILAKUKAN BILA MENEMUKAN GEJALA TB?

Periksa ke dokter/puskesmas untuk melakukan:

  • Mantoux test

Pemberian vaksin BCG pada kulit terduga terinfeksi, bila positif akan menimbulkan kemerahan pada kulit

  • Tes darah

Apabila mantoux test tidak berpengaruh maka dilakukan tes darah

  • Tes dahak

(bukan ludah) dengan dua cara; pengambilan dahak pagi-sewaktu-pagi (SPS) atau dengan tes cepat molekuler (TCM)

  • Tes sinar-X dada

Menemukan perkembangan penyakit TB dalam paru-paru

CARA PENGOBATAN TBC

  • Seseorang yang positif TBC bila berobat di Unit Pelayanan Kesehatan akan mendapat paket obat FDC yang semuanya diberikan secara Gratis. Tapi kualitas dijamin oleh pemerintah dan khasiat sama dengan obat paten/bermerek
  • Pengobatan selama 6 bulan tidak boleh putus obat

PENCEGAHAN TBC

  • Siap vaksin BCG

Jangan lupa imunisasi (BCG) pada balita

  • Siap periksa kontak

Jika batuk lebih dari 2 minggu, konsultasi ke dokter

  • Siap berhenti merokok

Asap rokok merusak bulu getar, iritasi, peradangan dan penyempitan saluran nafas

  • Jaga kebersihan

Kuman hidup di lingkungan yang kotor dan lembab

  • Jaga jendela terbuka

Buka jendela setiap pagi, kuman TB cepat mati bila terkena sinar UV

PUTUSKAN RANTAI PENULARAN TBC!

  • Mengobati penderita TBC sampai benar-benar sembuh
  • Melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat: cuci tangan yang benar dan etika batuk yang benar

TB BUKAN SAKIT KUTUKAN TAPI BISA DICEGAH DAN BISA DIOBATI !

PERTANYAAN PESERTA KULWAP:

Tanya: Apakah radang paru-paru menular seperti TBC? (Tina)

Jawaban: Penyakit paru berdasarkan penularannya ada 2 macam:

  • Tidak menular: asma, tumor paru.
  • Menular: pneumonia (radang paru disebabkan oleh kuman, bakteri, jamur yang masuk ke saluran pernafasan, tetap bisa menular dan bahaya walau tidak seperti TB), TB (flek paru).

Tanggapan: Penularan pneumonia itu gimana dan lewat apa?

Jawaban: Pneumonia sama dengan TB, penularannya lewat udara. Perbedaannya dari gejala yang khas muncul pada pneumonia diantaranya batuk berdahak berwarna kuning atau hijau, panas tinggi selama 3 hari.

Tanya: Apakah untuk tes TB pada anak prosedurnya sama seperti orang dewasa? Meskipun sudah vaksin BCG apakah akan tetap berpotensi tertular TBC? (Risa)

Jawaban:

  • Prosedur test TB pada anak dan dewasa sama saja. Sama yang ada di PPT yang sudah di share. Cek darah, foto dada. Untuk dahak pada anak agak sulit, jadi biasanya tanpa pemeriksaan dahak
  • Pemberian vaksin itu pertahanan kedua melawan kuman. Apabila daya tahan tubuh dari awal sudah  tidak  bagus  kemungkinan  kena  masih  ada. Dan juga apabila lingkungan kita tidak sehat misalnya polusi udata tinggi dan gizi kurang baik masih bisa terserang TB.

Tanggapan: Menambahkan, untuk TB anak ada kriteria scoring dari IDAI bukan hanya tes darah dan foto thoraks. Mungkin bisa di share tentang kriteria scoring IDAI terbaru. Untuk anak tidak dilakukan tes sputum karena sulit dan biasanya kita kalau terpaksapun pakai kumbang lambung. Dan untuk yang terbaru bisa pakai rapid test TB atau kalau mau di PDPI. (Irma)

Tanya: Apakah TB bisa sembuh total? (Risa)

Jawaban: Penderita positif TB awal dengan pengobatan OAT selama 6 bulan didukung dengan gizi yang bagus bisa sembuh total ditandai dengan adanya perbaikan BB, perbaikan tanda gejala lain dan biasanya difoto dada ulang. Tapi bila terpapar dengan kuman TB lagi dan kondisi gizi jelek maka bisa terkena TB lagi. Biasanya disebut penderita TB sequel. Tapi penularannya tidak separah dengan TB yang pertama. Perlu diketahui penderita TB dengan pengobatan teratur selama 2 bulan tanpa putus, kuman TB bisa terkarantina. Tapi OAT harus tetap diminum sampe bulan ke 6.

Tanya: Kalau ada salah satu gejala TBC apa dipastikan terkena TBC? Atau harus semua gejala baru dipastikan tertular TBC? (Indri)

Jawaban: Penegakan diagnosa TB tidak hanya dari satu gelaja saja. Harus dilihat melalui skoring dari gejala yang ada, misal batuk lebih dari 2 minggu, penurunan BB, rontgen dada dan cek dahak. Nanti hasil masing-masing skor dijumlah, untuk menentukan dia terkena TB atau tidak. Tapi ada 3 gejala khas TB yaitu: batuk selama 2 minggu, penurunan BB kurang lebih 10% dalam waktu 2 minggu dan keluar keringat dingin malam hari.

Tanya: Mitos/fakta, apakah orang yang positif TBC peralatannya makannya harus dipisah dengan orang lain karena bisa menular? (Tary)

Jawaban: Perlu diingat bahwa penularan TB adalah percikan air liur, bukan lewat peralatan makan. Memang ada kemungkinan dari peralatan makan yang digunakan penderita TB dan langsung digunakan orang sehat, tapi kemungkinan kecil untuk terjadi penularan dengan cara ini.  Jadi tidak perlu dipisah asal dicuci bersih dengan sabun dan air mengalir.

Tanya: Jika ada salah satu anggota penderita TB misal: suami sebagai penderita TB, apakah yang harus dilakukan? Seperti memisahkan peralatan makan, tempat tidur, atau bagaimana? Mungkinkah kami masih bisa bermesraan, contohnya: berciuman? Termasuk ketika ayah ingin mencium anaknya, bolehkah? Apa dirumah juga harus pakai masker? Bagaimana upaya supaya suami tidak merasa terasingkan?(Tutus)

Jawaban:

  • Bila anggota keluarga terkena TB yang pertama sadarkan penderita bahwa dirinya sakit, dan minta penderita untuk kooperatif selama masa pengobatan. Dan minta penderita untuk menjaga kontak dengan sekitar seperti menggunakan masker, beri jarak ketika mengobrol, jaga kondisi dan perbaiki nutrisi. Untuk peralatan rumah tangga tidak perlu dipisah.
  • Untuk Ciuman sebatas tidak menempelkan liur pada lawan maka tidak apa-apa, contoh cium pipi (bukan berciuman mulut ke mulut yang menyebabkan menempelnya air liur pada mulut lawan)
  • Penggunaan masker akan membantu meminimalkan penyebaran kuman. Beri dukungan kepada penderita, karena pada TB, dukungan keluarga berperan sangat penting dalam proses penyembuhan penderita.

Tanya: Indonesia urutan ke 2 kasus TBC, lalu berapa persen kesembuhan dari kasus ini? Dan bagaimana cara meminimalisir kasus TBC ini dari Dinas Kesehatan? Seberapa cepat bakteri TB menyebar di tubuh? Awal desember 2017, kakak saya rawat inap karena TB. Awalnya divonis pneumonia lalu berkembang jadi TB dan akhirnya 1 bulan baru keluar hasil lab yaitu TB tingkat akhir (yang terparah, tapi saya lupa istilahnya). Sebenarnya untuk hasil lab kasus tersebut butuh berapa hari dan apakah hasilnya akan terus berbeda-beda tiap saat dicek? (Retdia)

Jawaban:

  • Tiap individu berbeda, selain pengobatan juga harus didukung lingkungan. Dinas kesehatan punya program seperti pemberian OAT gratis
  • Untuk kondisi tubuh yang lemah seperti balita, penderita penyakit kronis, penderita sistem kekebalan tubuh, dan manula lebih rentan tertular.
  • Pemeriksaan dahak ada yang membutuhkan beberapa hari yang saya sebut dengan pengambilan dahak SPS, pemeriksaan ini untuk pengambilan dahaknya saja membutuhkan waktu 2 hari. Kemudian kuman pada dahak dibiarkan beberapa hari, untuk mengetahui hasilnya. Tapi ada pemeriksaan dahak namanya TCM , tes ini biasanya didapatkan hasil dalam satu hari, tetapi SPS lebih valid. Untuk TB yang paling parah disebut TB MDR, penderita MDR punya riwayat pernah putus pengobatan TB atau tidak minum obat teratur.

Tanggapan: Untuk kami keluarganya perlu rutin di tes TB juga atau tidak?

Jawaban: Untuk keluarga inti bila ingin memastikan sebaiknya dilakukan pengecekan. Jaga kondisi rumah misal; pencahayaan rumah, kebersihan, ventilasi dan lainnya. Jangan ada yang merokok atau setidaknya jangan merokok di dalam rumah atau di dekat anak kecil.

Tanya: Untuk kontak fisik bibir ke bibir yang menempel liurnya, antar bayi penderita TBC dengan yang tidak terkena TBC itu seberapa bahayakah? Apa perlu di cek lab memastikan tertular atau tidak? (Rahma)

Jawaban: TB pada anak tidak menular karena yang diserang adalah kelenjar. Jadi bila ada anak terkena TB maka harus kita cari tahu anggota keluarga yang dewasa atau orang terdekat yang terkena TB. Semua keluarga perlu dicek.

 

 

 

 

 

 

 

Cerita BLW Atha; Perjalanan BLW Atha

Assalaamu’alaikum. . .

Perkenalkan namaku Risa (27 tahun) Bunda Atha (26 bulan).

Sebagai orang tua baru, aku berusaha untuk terus belajar. Termasuk soal perjalanan mpasi Atha.

Atha mulai mpasi usia 6 bulan. Mulai deh belajar saring menyaring makanan. Seminggu oke ya dia makannya. Setelah itu, dia mulai narik- narik sendok yang aku pegang, mulai nangis kalau disuapin, maunya pegang sendok. Aku bingung, karena dia lebih suka gigitin sendok daripada aku suapin. Akhirnya daripada aku stres sendiri, aku kasih sendoknya.

Nah, waktu lihat IGnya Mbak artis, aku jadi mikir apa Atha mau makan sendiri?. Aku mulai cari info soal BLW di IG. Waktu itu mau beli bukunya masih susah dan nggak tahu mau beli dimana. Awalnya aku kasih potongan wortel kukus, brokoli, apel, tempe. Selanjutnya seperti ayam, telur, buah, nasi, dll. Dia semangat banget fokus masukin apapun yang dipegang. Alhamdulillah, drama makan gak ada lagi. Mulailah aku ngikutin IG Cerita BLW, akhirnya masuk grup WAG dan belajar dari para senior disana.

Sampai akhirnya umur 9 bulan Atha ga mau makan. Mogok ga mau sama sekali, disuapin juga gak mau. Berlanjut dua mingguan, dia demam aku bawa ke Rumah Sakit opname, lab ini itu. Akhirnya ketahuanlah kalau ISK. Dari situ Atha kehilangan nafsu makannya. BB ga naik sama sekali, berlangsung sampai umur 10 bulan. Dia mulai mau makan tapi disuapin. Kalau nyamil buah atau snack kadang makan sendiri. Sebagai ibu aku tetep usaha nawarin, entah dia mau makan sendiri atau disuapin yang penting nawarin makanan.

Dari umur 10 bulan sampai 12 bulan Atha masih bolak balik ke Rumah Sakit, karena ISKnya sering berulang. Akhirnya dikhitanlah dia setelah perjuanganku meyakinkan suami dan keluarga untuk khitan.

Alhamdulillah sekarang usia 26 bulan. Makan masih sering minta suapin (gak apa-apa lah bagiku, yang penting dia happy makan) tapi kalau nyamil mau makan sendiri. Alhamdulillah BB perlahan naik.

Itulah sekilas perjalanan mpasi Atha.

Semoga anak- anak kita selalu tumbuh sehat.

Terimakasih ibu- ibu keren disini, MasyaAllah 😘

Aku jarang dokumentasiin Atha pas makan.

Ini kayaknya sekitar usia 7 bulan. Nyamil jeruk aja.

Tanya Jawab Kulwap Cerita BLW: “ODHA, Berbahayakah?”

Narasumber : Ns. Rifqi Ati Syukriyah, S.Kep
Moderator : Risa Dwi Cahyani, Amd.Keb
Notulis: Marantina
Rabu, 6 Maret 2019

Sesi tanya-jawab

  • Nama: mak Atha
    Bagaimana penanganan untuk ibu hamil yang terkena HIV AIDS?

Jawab: Kalau sudah positif sebelum hamil, dan diizinkan hamil saat posisi CD4 sudah baik.  Saat hamil pun ARV tetap dikonsumsi. Tetap jujur pada NaKes yang mendampingi saat hamil. Jika terdeteksi saat skrining HIV TM1 maka konseling dulu dengan TIM VCT untuk kemudian diberikan pengobatannya. Ibu hamil dengan HIV akan didata oleh DinKes dengan tujuan meminimalkan penularan saat nanti melahirkan dan memberikan tindakan-tindakan khusus

  • Nama: Eska
    #TanyaODHA
    MakArkan, aku punya temen ODHA. Tapi itu pun kami tahu setelah mau lulus, yang bersangkutan cerita sambil nangis, minta maaf karena baru jujur setelah sekian lama, takut ga ditemenin. Pertanyaanku, bagaimana caranya kita tau tentang ODHA? Apakah ada ciri tertentu yang bisa dijadikan acuan “Oh, beliau ODHA”?

Jawab: Jadi ODHA itu tersiksa karena beban mental dan stigma sosial yang menganggap mereka menjijikkan jadi memang sulit terbuka ambu. Dengan terbuka pun kita mesti apresiasi dengan tidak meninggalkan mereka. Dan tetap izin apakah boleh merahasiakan atau menyebarkan, karena kalau sudah tergabung dengan beberapa komunitas biasanya mereka membolehkan kita untuk menyebarkan, misal menyebarkan itu “iya betul saya temannya si A yang ODHA itu.”
Kalau diminta untuk merahasiakan cukup “iya saya temannya si A”

ODHA tak memiliki ciri spesial ambu,  Bahkan yang cantik molek pun bisa jadi ODHA. ODHA baru terlihat saat infeksi opurtunistik  sudah mulai datang dan menyerang.

Tapi kita bisa mengamati jika gejala minor terus menerus datang.
Misal demam 1 bulan, diare lebih dari 1 bulan, TBC, sariawan pada rongga mulut yang menetap lama meski sudah diobati.

  • Nama: Kurnia
    #tanyaODHA
    Bagaimana perawatan/penanganan untuk bayi/anak yang tertular HIV dari ibunya?

Jawab: Perawatan dimulai saat persalinan. Selama persalinan dan kelahiran, wanita hamil yang terinfeksi HIV mendapatkan intravena (IV) AZT dan tetap meminum ARV mereka.
Setelah kelahiran, bayi yang lahir dari wanita yang terinfeksi HIV mendapatkan cairan AZT selama 6 minggu. Sedangkan Bayi dari ibu yang tidak mendapatkan obat anti-HIV selama masa kehamilan dapat diberikan obat anti-HIV lain sebagai tambahan untuk AZT.
Itulah mengapa ibu hamil dengan HIV didata oleh DinKes. Karena perlu penatalaksanaan spesial saat kelahiran.

Sedangkan untuk menyusui, ada beberapa yang membolehkan dengan beberapa catatan pengobatan. Tetapi kebanyakan tidak dibolehkan menyusui karena ASI bisa menularkan virusnya, misal saat memberikan ASI puting digigit dan berdarah kemudian dihisap anak. Biasanya anak dicarikan donor ASI.

  • Nama: Vena
    #TanyaODHA
    Pertanyaan: bagaimana memberikan pengertian ekstra kepada anak dan keluarga jika ada ODHA di lingkungan aktivitas sehari-hari?
    Misalnya anggota keluarga sudah tahu cara penularan virus HIV tersebut tapi pada realitanya kita masih menjaga jarak atau malah membatasi ruang untuk berkomunikasi.

Jawab: Contohkan dari diri kita sendiri. Karena kita tidak bisa mengontrol orang lain (termasuk anak)  berperilaku sesuai dengan keinginan kita. Tetap libatkan ODHA saat berkegiatan bersama sama dan tetap libatkan ODHA dalam mengambil keputusan

  • Nama: Ayyun
    #tanyaODHA
    Apakah ODHA yang sedang hamil sudah pasti melahirkan anak ODHA juga?
    Apakah ODHA selalu identik dengan “tidak bisa hidup lebih lama” ataukah ada cara agar virus HIV ini tidak serta merta menyerang dengan ganas?

Jawab: Belum tentu. Selama ODHA mentaati anjuran dokter, kemungkinan semakin sedikit. Itulah lagi kenapa ibu hamil dengan HIV didata oleh dinkes. Tapi nantinya si anak tetap di test secara berkala untuk memastikan kondisinya

Yang membunuh ODHA kebanyakan bukan karena HIVnya tapi karena infeksi penyertanya. Selama rajin konsumsi obat angka harapan hidup masih ada bahkan jika virus HIV sudah tidak terdeteksi pun obat tidak boleh dihentikan hanya diturunkan dosisnya

  • Nama: mak Jose
    #TanyaODHA
    Anak bayi yang ODHA karena bawaan dari ibunya yah? Perkembangannya gimana yah?

Jawab: Kalau anak-anak memang kebanyakan dihadiahkan oleh ibunya. Tapi yang remaja bisa ditularkan oleh narkoba. Perkembangan bisa sama dengan anak seusianya asal tetap konsumsi ARV.  Tapi memang jadi lebih sering sakit dan rentan sekali kena infeksi.
Pasienku dulu bertahan sampai umur 17 tahun, terdeteksi saat usia 3 tahun setelah ibunya meninggal karena HIV.

  • Nama : Dyah
    #tanyaodha
    Jika ada sepasang suami istri positif ODHA, aman tidak kalau mereka berhubungan badan?

Jawab: Aman asal pake kondom

  • Nama: Tina
    #TanyaODHA
    Orang dengan HIV dengan yang sudah terdiagnosa AIDS beda ya? Apa saja yang membedakan?

Jawab: HIV itu nama virusnya sedangkan AIDS adalah kumpulan penyakit yang disebabkan si virus

  • Nama : Indri
    #TanyaODHA
    Ada anak penderita ODHA yang tidak ikut terinfeksi virus HIV-nya, kalau penjelasannya secara medis gimana Mak?

Jawab: Iya, selama taat dengan dokter saat hamil dengan konsumsi obat ARV, saat melahirkan mau c-sec, dan langsung diinjeksi dengan ATZ pada bayinya InsyaAllah tidak dihadiahkan si virus.. Nantinya si anak tetap dipantau ada ngga-nya virus ini.

Dulu pas aku sekolah di RS Malang ada pasutri bawa anak 3 tahun. Kedua pasutri ini sudah positif, alhamdulillah anaknya sampai usia 3 tahun clear dari HIV, mereka program anak kedua waktu itu.

  • Nama : Tutus
    #tanyaODHA
    Ini pernah jadi rumor banget di kampung, betul nggak ya HIV ini bisa menular lewat gigitan nyamuk? Kan mirip sama jarum suntik.

Jawab: Tidak menularkan.  Karena virus HIV hanya bereaksi dengan tubuh manusia bukan dengan hewan.

  • Nama : mama rayhan
    #tanyaODHA
    Mau tanya, tadi kalau bayi nenen dari ibu ODHA dan gigit puting sampai berdarah dan terhisap katanya harus diantisipasi dengan donor ASI. Apa HIV bisa menular lewat pencernaan bayi dari darah yang terhisap tadi?

Jawab: Aku luruskan lagi ya mamaRayhan. Sebelum terjadi puting berdarah dokter biasanya sudah melarang menyusui, selain karena resiko tinggi si ibu konsumsi ARV dan mempengaruhi produksi ASI. Nah, gimana caranya agar anak ODHA tetap bisa ASI ya dengan donor ASI.

HIV bisa menular melalui cairan tubuh. Nenen digigit kemudian berdarah-darah, terhisap, kita ga tau kan di dalam tubuh bayi ada luka apa engga. Kalau ada luka si virus yang ada di darah tadi masuk ke luka dalam tubuh bayi terjadilah proses penularan.

Tanggapan

Tanya: Kalau di Indonesia, pengobatan HIV itu bisa berapa lama ya Mak?

Jawab: Kalau berapa lama tergantung masing2 ODHAnya. Tapi konsumsi ARV tetep dilakukan meski virus sudah tidak terdeteksi.

Tanya: Stigma negatif itu menambah beban para penderita ya mak..mungkin saat mereka didiagnosa rasanya dunia berhenti berputar. AIDS ini gak ada stadium nya kah mak kaya kanker gitu?

Jawab: Stadiumnya hanya berupa gejala dan biasanya diremehkan sama si ODHA. Terutama kalau tiba-tiba demam hampir sebulan, tiba-tiba diare sampai lebih dari sebulan, tiba-tiba sariawan lebih dari sebulan. Dan yang bikin makin nyesek itu HIV ga terdeteksi saat itu juga. Ini nih yg bikin makin cepat menyebarnya.
Misal Si A hubungan badan sama Si B yang positif HIV bulan januari. Februari ditest, si A ini masih negatif.
HIV punya periode jendela dimana si virus masih sembunyi-sembunyi saat ditest. Makanya kalau terpapar test bulan 1, diulang bulan ke-3, diulang bulan ke-6 dan diulang bulan ke-12.

Tanya: MakArkan, aku mau tanya bagian ini, kalau test bulan pertama negative, bulan ke-3 negative, harus terus di test lagi sampai 12 bulan ya? Kalo 12 bulan negative berarti negative. Gitu kah?

Jawab: Yess betul, diulang tiap tahun. Biasanya kalau sudah terinfeksi tes di bulan ke 3 dan 6 menunjukkan hasil kok. Kalau negatif di tahun pertama, nanti tiap tahun selanjutnya test lagi. Sampai dokter bilang negatif.

Aku dulu pernah terpapar darah ODHA waktu kerja, udah pake handscoon dan bajuku lengan panjang, Qadarullah masih tetep kena antara handscoon sama baju pas kok ya ada luka bekas garukan disitu.

Langsung ikuti prosedur buat test. Alhamdulillah lolos sampai test di bulan ke 12. Sekarang tinggal tes per tahun itu saja. Nah pas kita tes pun itu ada pendampingan, dari poliklinik VCT dan konselor HIV jadi tidak hanya test ke laboratorium.

Tanya: Jadi kalau misalnya suami atau istri hanya salah satu terkena HIV dan lainnya nggak, cukup aman ya berhubungan dengan kondom?
Lalu kalau misalnya mau punya anak apakah ada cara punya anak dengan tanpa menulari HIV ke pasangannya?

Jawab:

Iya betul cukup aman menggunakan kondom.
Bisa kok. Nanti ditunggu sampai HIV-nya tidak terdeteksi di ODHAnya, terus pasangannya minum ARV, silahkan Hubungan badan sekali habis itu pake kondom lagi.  Agak ribet tapi InsyaAllah kalau mengikuti aturan bisa jadi.

Tanya: Mak Arkan, Alm sepupuku ODHA, ketahuan ketika dia drop dan istrinya sedang hamil. Saat itu aku masih di luar, jadi tidak tahu detail perawatan istrinya bagaimana. Tapi katanya sang istri HIV negatif. Sekarang anaknya sudah berusia 10 tahun. Aku gak tau kapan terakhir si anak dites. Anak ini deket banget sama anakku. Tapi aku jadi agak sedikit parno. Kemarin pas si anak nginep di rumahku, dia tiba-tiba mimisan di kasur. Aku sempat agak panik karena takut anakku kena darahnya. I know aku parno, tapi pertanyaanku, seberapa sering si anak ini (keponakanku) harus tes HIV mengingat alm. Ayahnya ODHA? Dan kapan aku bisa tes anakku untuk HIV? Aku dan keluarga rencana mau tes anyway sblm kita berangkat.

Jawab: Setahun sekali cukup untuk keponakannya mak. Kalau untuk sekeluarga pengen test bisa kapan aja langsung ke poli VCT di Rumah Sakit nanti ada pembekalannya dulu

Tanya: Kan kalau ibu ODHA tidak disarankan ASI takut kena anaknya lewat darah tadi.
Tapi kita gak apa-apa makan pakai alat makan yang sama pas ada ODHA? Kan biasanya mereka seriawan terus Mbak

Jawab: Gak apa-apa. Kan yang sariawan mulutnya ODHA, mulut kita enggak kan??
Nah Virus ini masuk oleh luka untuk luka.

Tanya: Kalau mulut kita sariawan berarti bisa tertular juga ya mak?

Jawab: Kemungkinan iya, tapi itu kecil sekali. Hayo jadi takut jajan sembarangan kan sekarang Kecil sekali kemungkinannya karena kan sudah kena udara lama si virus. Kalau alat cukur kan habis dipakai nyukur ODHA misalnya, berdarah darah menempel di alat cukur, terus dipakai nyukur orang lainnya eh kurang hati-hati jadi tergores, sisa darah di alat cukur masuk di luka goresan.

Tanya: Kalau dari perkembangan dunia nakes, sudah ada belum vaksin untuk mencegah HIV/AIDS

Jawab: Sudah ada tapi diberikan pada anak baru lahir dengan ibu HIV

Tanya: Kalau misal alat makan atau pisau cukur yang kena darah ODHA ini, misal dicuci dengan sabun, apakah sudah mensterilkan virus tersebut mak? Atau perlu ada perlakuan khususnya?

Jawab: Belum. Perlu sterilisasi alat. Untuk alat makan sama pisau cukur ini kemungkinannya kecil sekali Ibu-Ibu. Potensi menularkan yang paling besar itu kontak dengan cairan tubuh, seperti darah, sperma, ASI. Kalau air mata dan air liur tidak menularkan.

Tanya: Kalau facial wajah gitu, ada kemungkinan potensi tertular juga kah Mak Arkan? Aku kok malah lebih parno dengan penggunaan alat sama yang dipakai oleh ODHA kaya jarum, alat cukur, dll. Sejauh mana kita harus aware?

Jawab: Kalau memang punya dana lebih baik facial di klinik kecantikan yang sudah punya alat sterilan.

Tanya: Aku pernah tes HIV tapi waktu itu susah diambil darahnya, tidak cukup untuk sample. Akhirnya tes lagi waktu pas hamil, hasilnya negative sih.
Perlu tes lagi kah?

Jawab: Kalau dirasa perlu gak apa-apa test aja, nanti test-nya minta dampingi sama nakes poli VCT biar diprogramkan tesnya kapan saja. Misal merasa ada gejala-gejala dari si HIV atau merasa sudah terpapar kayak aku tadi itu.

 

“ODHA, Berbahayakah?”

oleh

Ns. Rifqi Ati Syukriyah, S.Kep

ODHA

Adalah Orang Dengan HIV AIDS

HIV adalah Human Imunodeficiency Virus, sejenis retrovirus yang termasuk dalam family lintavirus.

HIV menyebabkan beberapa kerusakan sistem imun dan menghancurkannya.

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV.

Siapa saja ODHA itu?

– Adalah mereka yang dinyatakan positif terdapat virus HIV melalui salah satu pemeriksaan Rapid Test, Test kombinasi anti gen, Test RNA dan Test PCR (Polimerase Chain Reaction).

-Jika sudah dinyatakan positif, akan dites darah untuk mengetahui nilai CD4 (komponen sel darah putih) untuk tindakan pengobatan selanjutnya.

Penyakit Penyerta ODHA

Lebih dikenal dengan Infeksi opurtunistik.

Menyerang ODHA dengan CD4 rendah

– TBC

– Jamur mulut

– Jamur vagina

– Ruam kulit

– TORCH

– Diare

– Hepatitis

– Kanker

ABCDE Pencegahan HIV

A : Abstinace = tidak berhubungan sex sebelum nikah

B : Be faithful = setia

C : Condom = kontrasepsi kondom untuk pencegahan penyakit menular seksual

D : Don’t use drugs = jauhi Narkoba

E : Equitment = gunakan alat steril

Cara Penularan HIV

– Senggama, oral sex, anal sex oleh ODHA

– Transfusi darah oleh ODHA

– Penggunaan jarum suntik, pisau cukur, silet narkoba yang telah dipakai ODHA

– Transplantasi organ oleh ODHA

– Penularan ODHA perempuan ke anaknya

ODHA tidak menularkan HIV saat…

– Kontak fisik sederhana (salaman, cipika cipiki, berpelukan)

– Penggunaan alat makan bersama

– Penggunaan pakaian bersama (mencuci dalam mesin cuci yang sama)

– Digigit nyamuk atau serangga lainnya

Pengobatan ODHA

– Pemberian obat ARV untuk mempertahankan dan meningkatkan CD4 agar tidak mudah terserang infeksi opurtunistik.

– Pemberian obat sesuai gejala yang timbul saat itu

Siapa yang harus memeriksakan diri?

Berikut adalah kelompok orang yang dikategorikan berisiko terinfeksi HIV:

– Menderita penyakit menular seksual seperti Herpes, Sifilis, Chlamydia, atau Gonore.

– Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.

– Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman, (seperti kondom) dengan orang yang latar belakang seksualnya tidak diketahui dengan pasti.

– Berhubungan seksual dengan pengguna narkoba atau pekerja seks komersial.

– Berbagi jarum suntik yang sama dengan orang lain, entah untuk pengobatan, menyuntikkan obat-obatan terlarang, tato, atau tindik.

– Memiliki ibu yang terinfeksi HIV.

– Pernah menerima transfusi darah.

– Salinan gen pelawan HIV dalam tubuhnya sedikit.

– Pria yang tidak disunat.

– Pria yang berhubungan seksual dengan pria lain.

– Mempunyai pasangan yang suka bergonta-ganti pasangan seksual, atau menggunakan obat-obatan suntik.

Kemana jika ingin memeriksakan HIV?

– Di pelayanan kesehatan yang terdapat poli pelayanan VCT

– Biasanya pelayanan VCT berdampingan dengan poli kulit dan kelamin

Jadi, apa VCT itu?

Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk menangani penyebaran HIV/AIDS (Depkes RI, 2006).

VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidential (rahasia) dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV.

Konseling pra testing memberikan pengetahuan tentang HIV dan manfaat testing, pengambilan keputusan untuk testing, dan perencanaan atas issue HIV yang akan dihadapi.

Konseling post testing membantu seseorang untuk mengerti dan menerima status (HIV+) dan merujuk pada layanan dukungan.

Voluntary Counseling Test (VCT) merupakan pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan HIV.

“Jauhi Penyakitnya Bukan ODHAnya”

Terimakasih

Cerita BLW Gibran

Bismillahirrohmanirrohim.

Assalamualaikum 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Perkenalkan nama lengkapku Ulil Miftaqul A’yun. Aku adalah ibu dari Gibran (26 bulan) dan Gyan (2 bulan). Diliat dari umur anakku, berarti pengalamanku ber-MPASI baru 20 bulan. Karena Gibran start MPASI di usia 6 bulan pas.

Sekarang mau cerita sedikit tentang perjalanan MPASI Gibran ya… Aku ibu baru yang minim banget sama ilmu. Baru tau BLW pas Gibran sudah start MPASI tiga hari dan dia menolak bubur. Hari pertama MPASI, aku sudah semangat bebikinan bubur. Masuk, dimakan. Hari kedua, drama kumbara terjadi. Tiap disuapin, Gibran berontak sampai nangis. Bingung lah diriku. Apa yang salah? Apa rasanya gak enak ya? Aku cicipin, emang gak enak sih bubur dari tepung beras merah dan campuran kaldu tanpa gulgar.

Sampai akhirnya aku ketemu lah dengan BLW ini lewat IG sesembak artis yang kebetulan anaknya beda sebulan aja sama Gibran. Mulai deh searching apa sih BLW itu dan segala macamnya. Start dari situ, dengan ilmu seadanya krna aku juga belum punya buku Gill, aku cobain BLW ke Gibran. Modal nekat dan sedikit gengsi ngisi feed socmed karena emang keliatannya keren aja kan ya anak segitu sudah bisa makan sendiri. tapi ternyata memutuskan ber-BLW tidak semudah itu Esmeralda. Ekspektasi ketinggian, sabar kurang, ilmu kurang, bikin emaknya cenut-cenut sendiri. Sampai akhirnya bertemulah dengan IG CBLW. Dari situ mulai tercerahkanlah diriku. Mulai nyari buku Gill yang kala itu sangat langka. Mulai turunin ekspektasi, nambah sabar. Apalagi pas join WAG CBLW2. Ketemu support system yang kece badai aduhai berasa di hawaii 😝😝

Dan wag CBLW2 itu bisa dibilang grup parenting pertamaku. Makanya berasa cinta banget sama grup ini dan buibunya 😍😍😘😘

Awal ber-BLW, Gibran makan di dalam bak mandi. Iya, bak mandi, dengan disangga bantal di belakangnya karena belum punya booster seat. Sampe sekitar umur 9 bulan baru Gibran makan di BS (telat banget ya).

Menu pertama Gibran waktu itu adalah wortel kukus, labu kukus, dan tempe kukus. Iya semua dikukus. Setelah sharing sama buibu tentang menu dan belajar bahwa ternyata anak sudah boleh makan apa aja (gak cuma kukusan doank) jadi mulai belajar masak dah emaknya ini 😅

Gibran pernah GTM? Tentu aja pernah donk. Pasca sakit biasanya Gibran bisa menolak makan sama sekali. Terus kudu gimana? Seperti kata para tetua BLW di sini, mari kita amnesia. Amnesia kalo udah nawarin makan ke anak. Aku pernah sehari itu sampai 7x masak menu yang berbeda, tiap menu ditawarin 3-4 kali. Dan dari 7 menu itu, 6 menu ditolak mentah-mentah. Dilirik pun enggak. Akhirnya, menu ketujuh baru mau dimakan. Capek? Jelaaaas. Nyerah? Enggak donk. Kudu strong!! (Jelas strong karena 6 menu yang ditolak Gibran dimakan emaknya).

Kalo menu favorit keluarga adalah Soto Ayam. Gibran lahap banget kalo makan sama soto. Iya, soto ini adalah menu ketujuh itu. Pernah selama tiga hari berturut-turut Gibran minta soto terus. Tiap hari masak soto? Enggak donk, beli 😝😝😝 Masak mah sekali aja 😝😝😝

Sebenernya Gibran ini mirip banget sama bundanya. Kalo pas lg seneng makan soto maunya sotoooo terus. Kalo sudah bosen, baru ganti. Resep soto sih umum ya, jadi aku share resep soto ala Bunda Gibran aja. Bedanya apa? Silahkan dicari sendiri 😝😝

Kalo cemilan, Gibran mood2an. Hari ini mood makan cemilan asin, besok minta yang manis. Sejak bisa ngomong, Gibran jadi suka request buat apa yang pengen dia makan. Kalo emaknya pas gak capek, ya dibikinin. Kalo lg capek? Beli aja deh. Simple. Hehehehe…. Salah satu menu camilan favorit keluarga kami yaitu risol sayur.

Sekarang makan Gibran gimana? Sekarang, menginjak usia 26 bln Gibran makannya alhamdulillah ya (agak) lahap. Masih ber-BLW, tapi karena sudah bawel, kadang dia minta disuapin. Kalo Gibran yang minta sih ya aku suapin. Namanya anak, kadang kan pengen manja dikit ke bundanya. Jangankan Gibran, aku aja yang sudah beranak dua ini kalo pulang ke ortu kadang minta suapin ibuku pas beliau lagi makan. Nimbrung gitu 😅

Oya, ada tambahan sedikit. Dukungan. Kalo dari suami alhamdulillah mendukung Gibran buat ber-BLW dari awal. jadi kita belajar bareng. Termasuk praktekin manuver heimlich (bener gak sih tulisannya?). Jadi ayahnya Gibran praktekin ke aku, aku praktekin ke ayah Gibran. Latihan gitu 😅😅

Kalo keluarga besar, terutama ibuku awalnya gak mendukung. Biasalah, namanya nenek pasti punya kekhawatiran berlebih. Untungnya aku gak tinggal sama ortu. Tapi pas Gibran sudah mulai pinter makan sendiri, ibuku malah kayak pamer ke temen-temannya. Mbahpetition 😝

Mugkin segitu dulu cerita perjalanan MPASI Gibran. Terimakasih..

 

Cerita oleh: Ayyun

Edit oleh: Kurnia Fatma

Cerita BLW Cut Ashfa: Happy Eater Wanna Be (Journey)

Juara 2 lomba pengalaman BLW dalam rangka anniversary Cerita BLW yang ke 4

Semangat dan cemas campur menjadi satu, itulah yang dirasakan mamaku saat aku mulai MPASI. Oh ya, nama aku Cut Ashfa Zahida, dipanggilnya Ashfa. Usiaku saat ini 16,5 bulan. Seperti yang dianjurkan WHO, mama mulai memberiku makanan selain ASI saat umurku 6 bulan. Kembali ke ceritaku tadi ya, mama semangat melihat reaksiku makan tetapi juga cemas apabila aku tidak mau makan.

MPASI pertamaku adalah bubur beras, sesuai anjuran DSA langgananku. Mama mencoba menyuapiku dan Aba (ayahku) berusaha merekam video saat aku makan. Aku tidak terlalu tertarik dengan makananku, namun Mama tidak ambil pusing. “Ah, mungkin nanti ketika menu 4* baru mulai lahap”, pikir Mamaku. Mama memang sengaja memberikanku menu tunggal selama 2 minggu karena aku memiliki riwayat alergi. Hari ketiga aku MPASI, Mama iseng memberikanku potongan wortel kukus untuk aku genggam seraya menyuapiku bubur wortel. Mama ingin lihat mana yang menjadi preferensi utamaku, apakah metode BLW atau spoonfeeding. Aku mencoba memakannya, tapi suliiiiit. Sepertinya Mama kurang lama mengukusnya, maklum mama muda.

Melihat aku tidak tertarik memakan wortel, Mama memilih untuk memberikanku makan selanjutnya dengan metode spoonfeeding. Saat itu memang Mama belum mempelajari BLW secara detil. Hari-hari berlalu, MPASI-ku kacau sekali. Aku yang memang sangat aktif, mengelak kesana kemari saat Mama menyuapiku makan atau berusaha mengambil sendok dan piring yang Mama pegang. Alhasil, badan dan mukaku harus selalu diusap setiap selesai makan. Sisa makananku pun semakin hari semakin banyak. Mama mulai berpikir “Wah gabisa gini terus nih, sedikit sekali nutrisinya”.

Di umurku yang ke-7 bulan, Mama langsung mencari tahu kesana kemari tentang BLW, juga memesan buku cerita BLW dari instagram @ceritablw yang sudah Mama “follow” sejak aku berumur 3 bulan. Akhirnya, Mama beralih setir ke BLW melihat antusiasku untuk memegang makanan. Awal-awal aku memulai BLW, banyak yang mempertanyakan keputusan Mama karena memang zaman dahulu semua anak biasanya disuapi sambil digendong, bukan? Sempat Mama merasa sedih karena sedikit yang mendukung, untunglah ada Aba yang terus memberikan dukungan ke Mama untuk melakukan apa yang menurut Mama terbaik untukku. Aba juga sering diberikan video anak-anak BLW oleh Mama, dan Aba sangat antusias menantiku seperti itu. Mama akhirnya menetapkan hati untuk tetap ber-BLW, karena aku juga sudah disuapi dan tidak mau. Masa Mama harus mencekokiku makan agar aku mau membuka mulut…

Menu BLW pertamaku adalah bola nasi yang dibuat dari menu 4* yg diblender kemudian dipanggang. Aku sukaaaa sekali, makanku lahap. Mama senang sekali, jadilah Mama berusaha membuat menu yang berbeda tetapi selalu dijadikan berbentuk bola. Lama-lama aku mulai bosan, dan hanya makan segigit dua gigit saja. Mama pun mulai memutar otak kembali…. Hehehe maaf ya Ma, insya Allah jadi ladang pahala yaaa Mama.

Mama mulai membuatkanku macam-macam menu, seperti makaroni skutel, martabak mie, tofu ball, misua skutel, dan lain lain agar aku mau makan. Apabila aku sudah tidak mau makan, biasanya Mama mencoba menyuapiku yang selalu aku tolak. Aku memang sudah kenyang. Mama masih belum bisa menebak mood makanku, karena memang moodku berubah-ubah seperti wanita yang sedang PMS, kalau kata Mama hahaha.

Semenjak aku menginjak usia 1 tahun, aku sudah bebas makan segala yang Mama makan. Namun, salahnya Mama, Mama masih saja memberikanku one dishes meal. Mama belum percaya diri kalau harus memasak makanan-makanan yang biasa dihidangkan di rumah. Tapi kan lama-lama aku bosan loh, Ma.

Sampai suatu ketika aku hanya sedikit sekali makan masakan Mama, Mama memberikanku ayam kecap yang ada di meja makan. Padahal aku sudah berkali-kali menunjuk menu di meja makan, tapi Mama tidak pernah peka. Kok mirip Aba sih, Ma…. (eh)

Mama memberikanku paha ayam yang mudah aku genggam, makanku lahap sekali, sesekali juga Mama menyuapiku makan nasi supaya tetap masuk karbohidrat juga. Selama tiga hari, Mama memperhatikan pola makanku, ketika aku sudah tidak mau makan masakan Mama, Mama selalu memberikanku menu yang ada di meja makan, dan selalu juga aku lahap makannya. Akhirnya Mama langsung mempelajari resep-resep makanan rumahan yang bisa aku makan. Namun, saat itu aku tidak terlalu antusias makan nasi, jadi Mama berusaha menyuapiku selagi aku makan lauknya. Menurut Mama, BLW itu metode makan dimana kita sebagai orangtua mengikuti maunya anak dan tidak memaksakan anak untuk mengikuti metode yang kita inginkan. Sampai saat ini aku tidak pernah dipaksa makan, apabila aku sudah menutup mulut, maka Mama langsung membereskan makananku.

Oh iya, salah satu trik Mama agar aku mau makan lebih banyak adalah dengan memperkenalkan aku dengan sendok dan garpu! Ketika Mama memberikan makaroni skutel dan aku sudah tidak mau lagi, maka Mama akan memberikanku garpu. Bimsalabim abrakadbra, aku pun jadi lahap kembali. Sama juga dengan ayam kecap dan nasi, Mama memberikanku sendok dan aku pun dengan semangat memakan nasi kembali walau belum terlalu mahir.

Mama mengenalkanku dengan sendok garpu sejak usiaku 1 tahun. Sekarang, aku sudah mahir menggunakan sendok dan garpu, loh! Walaupun ada yang tumpah-tumpah juga… hehe. Aku memang belum benar-benar makan sendiri, Mama masih sesekali menyuapiku, namun aku sudah bisa menikmati makan dan tahu kapan aku lapar. Mama sendiri tidak berharap yang muluk-muluk, hanya agar aku sehat dan menjadi anak happy eater.

Kalau kata Mama, Mama bersyukur mengenalkanku dengan metode BLW. Walaupun berat badanku sempat stagnan, namun banyak sekali manfaat yang didapat dari BLW itu sendiri. Selain aku sudah bisa menggunakan peralatan makan, aku juga sudah bisa mengeluarkan duri ikan yang masuk ke mulutku, loh. Kerabat-kerabatku ketika melihatku makan juga selalu terpukau kagum yang membuat Mama jadi bangga sendiri hahaha tapi tentu bukan itu yang diharapkan Mama. Seperti kataku sebelumnya, Mama berharap aku menjadi anak yang sehat dan seorang happy eater. Itulah aku! Alhamdulillah

by: Azyyati (akun instagram @azyyy)

RESUME KULWAP WAG Cerita BLW 3 Judul: Belajar dari BLW

Dilarang menyebarkan isi atau resume kulwap tanpa seiizin cerita BLW

Dilarang menyebarkan isi atau resume kulwap tanpa mencantumkan sumber

RESUME KULWAP WAG Cerita BLW 3

Judul: Belajar dari BLW

Narasumber:

Monika Sujono

• Mommy-nya Baby C (Charlotte)

• Admin IG CBLW

• Seorang ibu yang percaya makan bersama dalam suatu keluarga hal terpenting dalam membangun hubungan suatu keluarga

Hari: Senin, 4 Juni 2018

Waktu: Pukul 20.00 WIB

Moderator: Eska Deanira

Notulen: Elfarin Normalia

Pertanyaan pertama dari @bertinaambar

– Kira-kira bayi sufor bisa BLW tidak? Bila baru ada jalannya untuk relaktasi, apakah masih bisa relaktasi sambil MPASI?
– Bagaimana agar bisa percaya diri dalam menghadapi anak yang tersedak saat baru pengenalan pertama kali makan dengan sistem BLW?
Terimakasih mba.

Memang idealnya bayi direct breastfeeding yang chance berhasil BLWnya lebih tinggi. Bayi sufor pun bisa sukses BLW. ASAL ibu tidak obsesif, sering kali takaran sufor menjadi dipaksakan harus habis 100 ml, sedikit lagi pun ibunya paksakan. Di sini adalah saatnya ibu memahami anak. Bila ternyata 100ml tidak habis, okay fine. Ini salah satu cara anak mengenal kenyang seperti pada direct breastfeeding. Selain itu nanti pengaturan jeda makan dll juga berpengaruh.

Mengenal gagging dan tersedak terlebih dahulu seperti apa, sehingga ga panik. Di beberapa anak, gagging parah bisa sampai muntah. Seringkali kami admin IG, dapet pertanyaan seperti “anak saya memulai BLW selalu tersedak.” Which is itu salah, maksudnya gagging. Kalau selalu tersedak, yang ada trauma. Kenali dulu: tersedak sama sekali ga ada suara, kalau ada suara ngok ngok atau kyk asma itu gagging. Tapi amit-amit tersedak, baiknya belajar penanganan tersedak dengan DSA atau PMI.

@bertinaambar
Pada prakteknya saat aku memberikan susu melalui botol memang ada keinginan untuk selalu memaksa bayiku menghabiskan susu walaupun sepertinya dia sudah kenyang. Maklum, kalo susunya terbuang sayang. Hehe. Tetapi dengan BLW Insha Allah saya juga belajar mempercayai bayi saya mengenai porsi makanan yg akan dia santap. Dan tidak memaksakan kehendak dia. Terimakasih jawabannya ya mba @Monika Sujono.

Pertanyaan kedua dari @Aisyah Rahmayanti

Anak sdh berumur hampir 13m, dan br mau mengajarkan BLW. Apakah anak bs lgsg diajarkan menggunakan sendok garpu atau biarkan makan pakai tangannya dulu?

Saya sarankan memulai dengan tangan. Selain melatih stimulasi otot jari menjumput, juga melatih tenaga yang digunakan dalam memegang, mengenal tekstur dan melatih koordinasi mata dan tangan. Baru setelah itu mengenalkan sempolan dan garpu. Bila anak menunjukkan mampu langsung dengan sendok dan garpu dalam berBLW ya monggo J

Pertanyaan ketiga dari @Ummu Uwais/Lia

Apakah pengaruh BLW yg di-mix dgn disuapin pake sendok dlm menentukan kemampuan makan bayi? Karena kebetulan anak sy skrg usia 8m. Ogah2an makan sendiri.. maunya makan sambil main. Kdg seringnya disuapin tp kadang pake bubur kadang dg bentuk aslinya..

Pastinya perkembangannya tidak sebaik yang pure BLW. Di-mix pun tidak apa, ibu baiknya menuruti kemauan anak. Yang tidak diperbolehkan memberikan menu sama dalam 2 tekstur misal puree waluh (disuapi) dan finger food waluh. Ini membuat anak bingung kapan mengunyah dan kapan langsung telan. Bila dalam satu sesi memang mau BLW dan disuapi cari yang berbeda jauh. Misal nasi tim dengan bakwan jagung, dimana ada tekstur jagung.

Coba jeda makan diperhatikan atau anak dibuat lapar jadi dia memilih makan. Misal snack, buah dan susu hanya setelah makan utama 3x. Supaya anak lapar dan cari makan, pastinya dia akan memilih makan dl baru main.

@Ummu Uwais/Lia
Kadang sy kasih makanan untuk dipegang.. eeh jadinya dibejek2 lagi. Kalo disuapin mau mangap. Apa harus dilatih awal lagi di BC dgn tekstur BLW 6m?

Saat makan selalu didampingikah? Kalau mix ada kemungkinan seperti ini mba, bingung anaknya. Yg full BLW pun kadang seperti itu. Kuncinya didampingi atau lebih baik sekalian preloaded spoon saja daripada disuapi.

Biar koordinasinya jalan dan anak tahu dia bisa ambil keputusan.

@Ummu Uwais/Lia
Jd pada intinya maknya mesti kudu sabar dan telaten lg ini yaa mba @Monika Sujono. Terimakasih atas jawabannya.. dan mba @eskadeanira atas kesempatannya.

Iyaa mba. Tenang mba, C baru makan di 8 bulan. 6-8 bln dia maenin BLWnya.

Pertanyaan keempat dari @widi

Sebagaimana dijelaskan bahwa bayi BLW belajar mengunyah & memiliki kemampuan/refleks mendorong lidah untuk mendorong segala sesuatu kecuali payudara atau botol. Jika anak saya belum terlihat bisa mengunyah & mendorong makanannya untuk ditelan (dilihat dari makanannya yang selalu diemut/ didiamkan begitu saja dalam mulut & langit-langit mulut), apa yang bisa saya lakukan selain sounding & mencontohkan mengunyah lalu menelannya, agar makanan bayi saya bisa termakan? Apakah terlihat belum bisa mengunyah ini ada hubungannya dengan bayi saya yang suka muting (ngempeng pada PD ibu)? Terima kasih J

Usia berapa yah mom? Mengempengnya parah kah?

Saya dapet saran ini dr FB grup BLW UK (jaman blm masuk CBLW) mungkin bisa dicoba:

Untuk stimulasi bisa mom berikan ASI yang dibuat ke dalam cetakan es. Ketika waktu luang atau sebelum memulai sesi makan berikan ke anak. Anak akan berusaha menjilat, memasukkan ke mulut es ASI tersebut baru setelah itu bisa diberikan makanan perlahan satu persatu. Kenapa es atau makanan dingin seperti timun/wortel, karena dingin akan membangkitkan rasa di rongga mulut dan umumnya dingin selalu menarik perhatian anak.  Dan ketika anak terlihat mengemut tepuk pipi kiri kanan, kadang anak lupa ada makanan di mulut.

@widi
Baru 6 bulan & baru mulai BLW, MommyC. Mutingnya saat tidur, baik siang maupun malam. Terima kasih sarannya. Tetapi saya sudah juga pijit pipinya namun tetap tidak mengunyah.. Jika boleh ada saran lain agar anak saya bisa mengunyah & menelan? Atau mungkin karena baru start BLW wajar seperti itu?
Terima kasih banyak.

Saran saya td yg di atas mom coba stimulasi dengan es ASI. Tenang ga bikin batuk es ASI mah malah banyak manfaat sensorinya. Tapi mungkin juga krn baru mulai BLW.

@widi
Baik MomC, satu lagi ya.. Apabila diganti selain es ASI saya bisa kasih yg lain kah? Karena saya kebetulan hanya DBF tidak pumping.

Bisa makanan dingin timun atau wortel dr kulkas.

Pertanyaan kelima dari @Sintia Nuraeni

Apakah akan efektif jika metode BLW ini diselingi dengan SP? Contoh sarapannya SP dan untuk snack serta makan sorenya anak berBLW?

Seperti yang saya jawab di atas. Perkembangannya tidak akan secepat anak yg pure BLW. Tapi keputusan mix dikembalikan ke anak dan pilihan ibu (misal untuk ibu pekerja yg anaknya diasuh oleh neneknya).

Pertanyaan keenam dari @Eka Julie

Klo misal mau ngasih makan bayi semacam bubur gitu, apa boleh kitanya pake sendok nyodorin ke bayi, trs si bayi megang sendoknya buat dimasukin ke mulutnya?
Apa lebih baik ga usah ngasih yg lembek2?

Boleh mom, itu termasuk preloaded spoon. Tergantung anak mom, beberapa ada yg ga suka dengan lembek seperti bubur. Tapi ada yg nyaman dengan bubur walau BLW.

Pertanyaan ketujuh dari @DynaDyna

Bagaimana cara menghitung takaran makanan utk anak BLW? Seperti menurut panduan WHO untuk spoonfeeding, bayi 6 bln dimulai dengan porsi makan 125ml/makan yang secara bertahap terus meningkat. Namun bagaimana untuk BLW?

Ukuran perut anak sekitar sekepalan tangannya. Seperti di PDF di atas (materi kulwap), porsi SF itu BEDA dengan BLW. Di SF bisa saja 3-4sdm bubur tepung campur 100ml asi. Sedangkan BLW 3 slices kentang, 2 FF (Finger Food) daging sama 1 slice wortel kalau dibejek sama aja. Saya kasih link takaran kurang lebihnya aja yah:

https://www.instagram.com/p/BXE8uGJlsb5/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1n3xuu46rgs71

Dan bergantung juga sama anaknya dari segi cara makan.. sedikit tapi sering, atau banyak; motah, atau kalem.

@DynaDyna
Terima kasih penjelasannya Mba @Monika Sujono.. krn aku working mom dan anakku dijaga sama pengasuh, seringkali pola pikirnya kuantitas di mangkok.. jd emang hrs sabar2 dan ulang2 jelasinnya. Kmrn sempat sama mbanya dibikinin bubur krn dia anggap mkn kentang aja blm kenyang. Semoga dia cpt paham. Tks mba @eskadeanira buat kesempatannya.

Pertanyaan kedelapan dari @ratna angganasari

Uwais skrg udah mau 9m pure BLW, lagi seneng goyang2 di HC.
Kadang saya sayang gitu liat makanan dikit lagi tp anak udah minta turun HC, klo udah begitu kadang saya kasi nonton nursery rhymes dan hasilnya dia anteng lg di HC dan makanannya abis tapi kayak tanpa sadar gitu alias sedapetnya gitu (makan yg kesentuh sama tangannya, mata tetep liat screen).
Itu enggak apa2?

Ini biasanya dari jeda makan mba. Coba diperhatikan kembali. Kalau saya tipe yg bikin anak lapar. Jadi kalau siang ga makan krn abis nyemil donat tadi jam 10, C ga dpt apapun sampe dia minta makan. Pastinya bakal abis semangkok nasi.

@ratna anggasari
Nah iya sama mbak, kadang saya skip makan siang karena snacking saya suka tambahin keju juga. Jadi belum bisa full makan 3x plus snack 2x.. tapi gapapa ya? tetep pake prinsip percaya sama anak kan ya? dan brarti klo anak dah minta turun dr HC gausah ku kasi nursery rhymes yak hihi.

Iya mba percaya anak. Atau snack dituker br dapet setelah makan utama.

@Ummu Uwais/Lia
Mba @Monika Sujono, mau menanggapi yg ini. Bagaimana dgn anak tipe rabbit yang ga tentu kapan makan utama, snack, makan siang dst. Cara bikin laparnya gmn? Dan apakah hal ini berlaku jg untuk anak yg tipe makannya sperti ini?

Bisa mba. C tipe rabbit. Ini aturan makan sih. Di keluarga makan utama jam berapa, 7-12-18 kah? Di setiap jam itu sajikan makan utama, baru snack. Tapi pastinya di jam tersebut makannya ga sebanyak anak ular. Sama kasih snack dikira-kira juga jangan kebablasan.

https://www.instagram.com/p/BbzBuz-lnj7/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=104jxiv5iid1f

Ini bisa dijadikan gambaran mba untuk takaran dan jeda anak rabbit.

@Ummu Uwais/Lia
Ooh gitu kukira ga berlaku timing begitu. Jdnya tiap melek selalu kutawarin makan. Klo bgini salah atau betul mba?

Ga sih mba kalau anak nyaman J Balik ke takarannya jangan lupa.

@Eka Julie
Anak saya bangunnya seringnya siang jam 8-9an. Apakah gapapa mbak, makan paginya seringnya jam 10an, tp sehari seringnya makan berat 4 kali, snack cm kdg2. Apakah tdk apa?

Alangkah baiknya yg utama makan utama. Snack hanya sifatnya tambahan kan mba selain buah. Kalau dirasa ga penting dieliminasi gpp snack-nya, msh ada susu kan ya.

Pertanyaan kesembilan dari @Heny Honey

Keponakan saya usia hampir 3 thn. Semenjak 1 thn keatas kebiasaan makannya memburuk. Ditambah dia  sufor pake dot. Nah.. sejak Arka BLW kadang aku tawarin juga ke dia, dan suka. Apakah dia bisa mulai BLW? Atau BLW hanya digunakan utk bayi start 6 bulan?
Terimakasih.

Teke yah ini min :p

Coba mba baca buku Gill lagi ya, BLW itu apa? Baby-led weaning merupakan salah satu tahapan menyapih (Gill) karena itu baby led (menuju) weaning (sapih). Kalau 3 thn, makan sendiri namanya.. Tapi step finger food (9-12 bulan) bisa diterapkan.Tujuan BLW, anak mandiri dalam makan. Mandiri di sini berarti dia menentukan kapan dan maunya.

Walau udah 3 thn masih ngedot, tp saya yakin dia bisa makan sendiri. Mungkin saran aja, dicari knp dia suka susu. Trauma, atau comfort zone bagi mamanya/anaknya.

@Heny Honey
😀 😀
Gimana yak? Akupun bingung nanyanya.. soalnya tiap makan menunya Arka dia selalu minta. Padahal cuma sayur rebus2 gt.. tapi giliran makan sama maknya selalu susah. Dan blom bisa lepas dari dot. Aku yakin dia bisa makan sendiri. Yg jadi uneg2ku itu, apa menu dan metode BLW bisa diterapkan utk memperbaiki minat makannya?

Dicari dulu kenapa dia nyusu maunya. Metodenya bisa diterapkan seperti dibilang di atas dengan acuan finger food (9-12 bln).

@Heny Honey
Ada kemungkinan dg sufor dia cepat kenyang tanpa harus ngunyah.

Pertanyaan kesepuluh dari @diny

Gio usia 8 bulan 2 hari, pure BLW dari 180 hari. Aku lagi bingung soal menu MommyC, aku pengen buatin bubur oat gitu tapi Gio kurang suka tekstur yang lembek gitu. Aku bikin mashed potato pun dia blm suka, bikin perkedel dia pun dibejek aja, kmrn bikin rice ball resep CBLW pun diremes, jadi bingung.. Aku selalu stok daging dan ayam giling, kira-kira dibikin apa lagi ya MommyC? Selain beef patty dan nugget, kadang jadi campuran omelette juga sih.. Gio jd makannya itu-itu ajaa.
Gimana caranya biar Gio suka tekstur tekstur lembek gitu yaa? Apa kita ikutin aja ya?

Ini keputusan anak mba. Ada beberapa tekstur yang ga diminati. C ga suka yg slime seperti mangga gedong sampe 1 th. Jadi diikuti maunya anak, yang penting dia mau mba. Kalau pasta dkk gmana? Tacos atau seperti itu mba.

Menu bisa search di saya #mommyCrecipe atau di Abiyuzumaru J

@diny
Kmrn aku kasih fusilli dia agak susah gtu ngunyahnya trs jd ga kemakan deeeh. Cobaa nanti ku cek-cek resep MommyC yaa.

@ratna anggasari
Ijin interupsi..
Mengenai tekstur, untuk goreng2 yg crunchy biasanya umur brp ya?
Karena anakku kurang suka makanan yg digoreng agak kering, dia sering gagging gitu.
Misalkan perkedel trus digoreng agak kering kulit luarnya, kalo dalemnya doang yg dimakan aman, tp klo sama luarnya pasti gagging.

Di-pan aja mba nugget-nya ga usah pake tepung roti. Biar kering dikit aja, ga benyek luarnya.

Pertanyaan kesebelas dari @Shinta Ulan

Anak sy 10m, BLW dr 6m, tp di usia 7-8 m sy tinggal kerja yg ga memungkinkan utk sy dampingin BLW. Dijaga sama nenekny dan sering disuapin, sejak 9m skrg dia jarang mau BLW, maunya disuapin.. itupun makannya sambil minta di luar sambil liat kucing atau anak2 yg lagi main (tp ttp di BS), gmana tipsnya biar mau BLW lg? Sudah dicoba makanan yg dia suka.. tetep ga mau makan sendiri, makannya dikasih ke saya dan minta disuap. Makasiih MommyC.

Ini dilemanya ibu bekerja. Balik lagi ke aturan makan, kompromi sama neneknya seandainya digendong sambil disuap jangan keluar rumah. Saat weekend atau saat makan bareng-bareng, kasih aturan makan di HC atau apa. Saran saya cari sensory play yang bisa diterapkan di HC. Jadi anak tahu HC as happy place, baru mau makan. Mungkin selama ini merasa terkekang.

@Shinta Ulan
Selama ini meski disuap ttp di booster seat kok MommyC @Monika Sujono, cuman ya itu harus sambil ada yg diperhatikan, entah kucing lewat atau liat anak2 tetangga main.. jadi booster seat-nya ditaruh di luar gitu.

Ya itu mom, cari games sensory play di Pinterest biar anak fokus di BS.

Pertanyaan keduabelas dari @bethlehemnatalina

Baby sudah masuk usia 10 bln. Untuk BLW usia 7-8 bulan mix sf. Pola makan rabbit. Ga ada jam makan. Se-on-nya baby, terlebih bangun selalu siang. Sikon sekarang dia nolak banget puree baik sendiri atau disuapin.

Untuk BLW lebih suka disuapin untuk makanan tertentu. Dan yg paling bingung makanan utama sedikit2 (+/- 1sdm total/hari), kayak blm tertarik sama makanan utama.

Tapi kalau buah, total dia yg pegang kendali. Pertanyaannya apakah di usia 10 bln ini blm tertarik makanan utama hal normal untuk anak BLW?

Cut no fruit, Beth. Anak yang lapar mau makan. Seharusnya di 9 bulan dia udah merasa lapar. Atau anaknya dibuat lelah, ngerangkak yang banyak. Intinya buat dia lapar biasanya skitar 1 minggu, nanti dia cepet belajar dan ngerti. Lapar ga enak, harus makan.

Moderator Eska
Baiklah… mengingat sudah makin malem, kita sudahi kulwapnya…
Terimakasih banyak, MommyC @Monika Sujono untuk waktu & ilmunya…

Mohon maaf kalo ada kekurangan.
Terimakasih Buibuuu semuaaa.

Oiya, sebelum left group, mungkin MommyC punya pesan buat Buibu disini?

Terima kasih atas waktu sharing-nya, semoga berguna.

Pesan saya, sederhanakan pikiran ibu. Anak sama pinternya dan sama survived skill-nya kaya org tua. Lapar ya makan.

See you J

 

Noted and edited by Elfarin Normalia

 

Cerita BLW Berbagi Kasih part 1 : Rumah Singgah RUTH (Rumah Tumbuh Harapan)

Sebagai bentuk syukur atas lancarnya acara yang telah diselenggarakan, pada tanggal 13 Desember 2017 Panitia Talkshow Berbagi Cerita bersama Cerita BLW memberikan donasi kepada Rumah Singgah RUTH yang berlokasi di Bandung. Rumah Singgah RUTH didirikan pada bulan Januari 2011 oleh ibu Devi.

Latar belakang didirikan nya Rumah Singgah RUTH adalah sebagai bentuk kepedulian ibu Devi atas calon ibu yang hamil, yang rata-rata merupakan korban pemerkosaan, kekerasan, pembiusan dan tidak diterima oleh keluarga atau masyarakat sekitar sehingga membutuhkan rumah singgah. Rata-rata, calon ibu hamil yang hamil atas korban kekerasan seksual cenderung tidak peduli atas kesehatan dan kelangsungan hidup bayi yang dikandung. Daripada jalan menggugurkan kandungan yang dipilih oleh calon ibu, Rumah Singgah RUTH memberi tempat untuk calon2 ibu tersebut dari mulai hamil hingga melahirkan. Selama hamil mereka juga diberikan edukasi diantaranya adalah tentang sex education, kesehatan organ vital, kesehatan kehamilan, kesehatan anak, dan parenting.

Kini, RUTH telah menjadi persinggahan untuk kurang lebih 180 ibu dan bayi. Beberapa diantaranya ada yang pulang ke keluarganya, beberapa diantaranya ada pula yang diadopsi secara legal bekerjasama dengan Dinas Sosial.

Semoga bantuan kami dan tim Cerita BLW bisa berguna untuk Rumah Singgah RUTH. Semoga semangat berbagi akan selalu tumbuh untuk membagikan harapan baru untuk para ibu. Amiin. 😇😇😇

Salam,

Eskadeanira dan Mutia Dewi

Cerita BLW Berbagi Kasih Part II: Pengalaman Tinggal di Rumah Singgah Ruth


Beberapa waktu lalu, admin Cerita BLW berkesempatan untuk mewawancara Mba Melati (bukan nama sebenarnya) yang merupakan alumni dari RUTH (Rumah Tumbuh Harapan) sekaligus member Grup WhatsApp Cerita BLW. RUTH adalah sebuah yayasan nirlaba yang menampung ibu-ibu hamil di luar nikah juga ibu yang hamil menikah tapi kehamilannya tidak diinginkan oleh suami atau yang hamil tidak dengan suami. Yang pada intinya sementara waktu keluarga tidak bisa menerima kehamilan tersebut karena berbagai alasan, seperti misalnya dianggap telah membuat malu keluarga.

Begitu juga yang dialami Mba Melati, hamil di luar nikah dan kebingungan tentang apa yang harus dilakukan. Hingga akhirnya pada usia kandungan 2 bulan, Mba Melati memberanikan diri untuk menceritakan kondisinya saat itu pada Kakak Pembimbing Rohani yang ternyata kerabat dari Pak Charles (Pak Charles dan Istrinya, Bu Devi adalah pendiri RUTH), atas ajakan Kakak Pembimbing dan setelah bicara banyak dengan Bu Devi, dengan beberapa pertimbangan Mba Melati memutuskan untuk tinggal di RUTH sementara waktu meski keluarganya Puji Tuhan telah memaafkan Mba Melati dan juga tetap menerimanya sebagai bagian dari keluarga.

Selama tinggal di RUTH, banyak kegiatan kegiatan menarik yang dilakukan Mba Melati dan teman teman singgah lainnya seperti siraman rohani, belajar membuat kue, menjahit, merajut, belajar mengasuh bayi juga kelas parenting, melukis serta ada jadwal piket untuk bersih – bersih dan menjaga daycare karena di RUTH ada juga bayi bayi yang ditinggal orangtuanya untuk diadopsikan.

Walaupun kadang sedih karena jauh dengan keluarga dan merasa kurang hiburan sebab tidak ada TV yang memang aturannya tidak boleh nonton TV karena takut teringat ayah dari anaknya saat nonton sinetron atau drama korea. Tapi banyak juga pengalaman yang menyenangkan yang dirasakan Mba Melati saat tinggal di Rumah Singgah RUTH diantaranya bisa bertemu teman teman senasib, bisa belajar lebih mandiri, juga bisa lebih dekat dengan Tuhan serta mensyukuri hidup.

Dalam wawancara ini Mba Melati menyampaikan bahwa bagi siapa pun yang membutuhkan bantuan RUTH untuk jangan segan menghubungi Pak Charles dan Bu Devi, karena rumah singgah ini tidak memungut biaya sepeserpun. Rumah Singgah RUTH meskipun yayasan Kristen, tetap menerima klien dari semua golongan dan tidak mengkristenisasi. Silahkan lihat info mengenani RUTH di website atau datang langsung ke lokasi untuk bertemu dengan Bu Devi dan Pak Charles, nanti bagi yang ingin tinggal, prosesnya akan dibantu. Begitupun bagi yang ingin menjadi donatur, bantuan berupa uang bisa dikirim via rekening dan bantuan berupa barang bisa dikirim langsung ke rumah singgah, barang dan kebutuhan ibu hamil juga bayi akan sangat dibutuhkan. Silahkan berkunjung ke rumah singgah RUTH.

Di akhir sesi Mba Melati berpesan kepada teman-teman di RUTH untuk tetap semangat, jangan menyerah dan terus menerus merasa bersalah. “Life must go on”. Bagi yang masih sekolah lanjutkan sekolahnya, yang sudah bekerja, kembali lah bekerja. Jadilah pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ingat, kalian adalah wanita wanita berharga. Tuhan sayang kalian.

Demikian wawancara Cerita BLW dengan Mba Melati, semoga bisa menjadi bahan renungan dan menumbuhkan semangat berbagi.

Disusun oleh: Eska dan Rahmah